Politik

Dukung KPU, Mahfud MD-Istri Gus Dur Pasang Badan Hadapi Ancaman Amien Rais

Rabu, 10 April 2019 18:30 wib

...
Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD dan Sekjen Alissa Wahid bersama sejumlah tokoh menemui pimpinan KPU (santrinews.com/istimewa)

Jakarta – Mahfud MD bersama sejumlah tokoh nasional yang tergabung dalam Gerakan Suluh Kebangsaan, memberikan dukungan moral kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam menjalankan tugas-tugas penyelenggaraan Pemilu 2019. KPU diminta tidak takut atas ancaman people power yang digaungkan Amien Rais.

“Kami datang di sini (KPU) terus terang kalau diungkapkan dalam kalimat pendek, kami akan memberi dukungan kepada KPU untuk meneruskan tugas-tugas dengan penuh profesional dalam rangka menyongsong pemungutan suara Pemilu 2019,” kata Mahfud saat menemui jajaran pimpinan KPU di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Rabu, 10 April 2019.

Baca juga: Komisioner KPU Dipolisikan PKPI, LBH Ansor Pasang Badan

Tiba sekitar pukul 14.00 WIB, Mahfud datang didampingi sejumlah tokoh NU dan akademisi seperti mantan ibu negara Nyai Sinta Nuriyah Wahid, Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan Alisa Wahid, Rektor Universitas Al Azhar Asep Saefuddin, Imam Prasodjo, Rhenald Kasali, HS Dilon, Romo Hariyanto, dan sejumlah tokoh lainnya.

Mereka disambut Ketua KPU Arief Budiman, Komisioner KPU Viryan Aziz, dan Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi.

Mahfud mengaku lawatannya ke KPU ini merespons ancaman Amien Rais yang akan menggerakkan people power jika ada kecurangan dalam Pilpres 2019. Mahfud meminta KPU untuk tidak takut dengan ancaman Amien tersebut. Sebab di belakang KPU ada rakyat yang akan bersama dan mendukung penuh.

“Kami ke sini agar mereka (KPU) tidak takut dengan (people power) itu karena rakyat bersama mereka. People power untuk apa? Kan ada mekanisme hukum,” tegasnya.

Baca juga: Mahfud MD: Saya Mau Memperbaiki bukan Menguasai

Mahfud menyebut tudingan Amien bahwa KPU bisa memindahkan suara untuk salah satu paslon tidak masuk akal. Pasalnya pemilu di Indonesia menggunakan sistem penghitungan manual, bukan lewat teknologi informasi.

Menurut Mahfud, pernyataan Amien itu hanya untuk menggiring opini agar rakyat tak percaya terhadap kinerja KPU dalam menyelenggarakan pemilu.

“Kami melihat adanya gangguan-gangguan sehingga KPU perlu kami datangi dan kami dukung. Gangguan itu berupa upaya mendelegitimasi KPU sebagai lembaga yang independen dan ada upaya-upaya mendelegitimasi hasil pemilu,” ujarnya.

Mahfud menyatakan dukungan terhadap KPU dan memastikan hal yang sama berjalan di daerah-daerah. “Kita juga akan pastikan dukungan ini sampai ke daerah-daerah,” tuturnya.

Ketua KPU Arief Budiman menyambut baik dukungan itu. Arief menyebut dukungan para tokoh ini sebagai tenaga baru bagi KPU.

“Tenaga kami ini terkuras oleh persiapan, ditambah lagi dengan tuduhan-tuduhan semacam itu. Dukungan hari ini merecharge kembali tenaga kami untuk bekerja,” ujarnya.

Baca juga: Sinta Nuriyah: Disabilitas Butuh Fasilitas Bukan Dikasihani

Melalui dukungan tersebut, Ia berharap para tokoh bangsa tersebut meneruskan informasi dari KPU kepada masyarakat.

Apalagi, menjelang berakhirnya masa kampanye, lanjut dia, tensi politik semakin meninggi berkaca dari pengalaman pemilu sebelumnya.

“Banyak hal yang simpang siur, yang KPU merasa perlu juga menyampaikan kepada para tokoh ini dengan harapan pertemuan semacam ini informasinya tidak berhenti di dalam ruangan,” katanya.

Sebelumnya, dalam Apel Siaga 313 di depan kantor KPU, Jakarta, akhir Maret lalu, Amien Rais mengancam akan menggerakkan massa atau people power jika KPU membiarkan kecurangan terjadi di Pemilu 2019.

Amien akan menggunakan people power karena sudah tak percaya dengan MK dalam menyelesaikan sengketa pemilu. “Kami enggak akan ke MK lagi, kami langsung people power,” ujar Amien. (us/onk)