Politik

Mas Vian, Sosok Milenial yang Religius

Jum'at, 14 Februari 2020 10:30 wib

...
Dwi Arya Nugraha Oktavianto (santrinews.com/istimewa)

Dorongan kiai itu bagi saya adalah sebuah kekuatan.

Jember – Tokoh milenial saat ini menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat, khususnya menyongsong perhelatan Pilkada Jember 2020.

Pasalnya sosok muda milenial dianggap berpotensi besar mereguk kemenangan lantaran kecenderugan masyarakat terhadap segala sesuatu yang berbau milenial, cukup tinggi.

Selain itu, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kepemimpinan tokoh milenial tidak mengecewakan, bahkan prestasinya cukup membanggakan. Sebut saja misalnya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Bupati Lumajang Thoriqul Haq.

Maka ketika berbicara sosok milenial Jember, tentu saja nama Dwi Arya Nugraha Oktavianto, tak bisa diabaikan. Dia adalah salah satu cucu pendiri CV Sjam, sebuah holding perusahaan yang cukup terkenal di Jember pada 1980-an.

Sejak beberapa tahun lalu, Mas Vian —sapaan akrabnya, meneruskan usaha CV Sjam, dengan spesialis bidang konstruksi. Garapan proyeknya bahkan merambah hingga luar Pulau Jawa.

Mas Vian bukan sekadar milenial, namun ia juga pengusaha yang cukup tajir dan relijius. Ia lahir di Jember saat kalender menunjuk pada angka 19 Oktober 1984.

Anak dari pasangan H Ismail Suyanto dan Hj Lilip Suryani ini, sejak kecil memang dikenal cerdas. Ini bisa dilihat dari tempatnya sekolah yang semuanya favorit, yaitu SMPN 3, SMAN 1, dan lanjut ke ITS (Institut Teknologi Surabaya) Jurusan Teknik Industri (lulus 2007).

Walaupun menempuh pendidikan di sekolah umum, bukan berarti Mas Vian mengacuhkan pendidikan agama. Saat kuliah di ITS, ia memilih kost di rumah salah satu putri KH A Muchit Muzadi (Mbah Muchit) di Surabaya.

Bukan tanpa alasan ia memilih rumah tersebut sebagai tempat kost. Di samping pemiliknya sama-sama orang Jember, Mas Vian juga ingin nyantri kepada Mbah Muchit. Saat itu, Mbah Muchit seminggu sekali ke rumah anaknya tersebut, dan beliau menggelar pengajian untuk anak-anak kost di situ.

“Dari beliaulah jiwa saya dipupuk ke-NU-an. Baliau guru saya yang sangat saya hormati, pandangannya juga luas,” tuturnya.

Meskipun Mas Vian hanya nyantri seminggu sekali kepada Mbah Muchit, namun cukup berkesan dan pengaruhnya cukup besar dalam pembentukan karakternya.

Selepas kuliah di ITS, Mas Vian tetap menjalin hubungan dengan Mbah Muchit dan kiai-kiai lain di Jember. Baginya, kiai adalah lentera di tengah kegelapan, dan kompas saat kebingungan melanda umat.

“Sejak kecil saya diajari oleh ayah dan kakek saya untuk dekat dengan kiai, karena kiai adalah panutan umat,” terangnya.

Kendati kehidupan Mas Vian sudah mapan, namun ia sadar bahwa manusia hidup bukan untuk diri sendiri melainkan harus memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Dalam rangka itulah, Mas Vian mengamini dorongan sejumlah kiai dan para tokoh masyarakat untuk ikut berkompetisi dalam ajang Pilkada Jember 2020.

“Dorongan (kiai) itu bagi saya adalah sebuah kekuatan. Inilah ikhtiar saya untuk memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat Jember,” terangnya.

Pemuda adalah harapan bangsa. Mereka diyakini mempunyai potensi yang besar untuk merubah dunia. Itulah sebabnya Bung Karno berkata: “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Ungkapan yang terkenal dari Bung Karno itu, menyiratkan betapa pemuda mempunyai kekuatan dahsyat. Faktanya, cukup banyak sosok pemuda yang mampu mengukir sejarah di negeri ini.

Dan bukan mustahil Mas Vian merupakan salah satu sosok milenial yang akan membuat sejarah baru di Pilkada Jember 2020. (red).