Puisi

Sajadah Berdebu

Minggu, 15 September 2013 03:06 wib

Sajadah itu masih berdebu
meski senandung shalawat di corong langgar kerap melenguh
bahkan, dzikir-dzikir sumbang selalu merambah dalam tasbihmu

Memeras airmata, membiarkan darah mengering di hatinya
namun, pekat tak pula  lenyap
hingga tubuhmu hilang dibalik gulungan awan hitam itu.

2012-2013

Sajak Ibu

Kupahat pagi
kala ibu tengah tersipu di depan tungku
bersama kayu-kayu
dan asap mengepul serupa debu
lalu, pendar api terpercik ke dalam nasibmu

Di balik pintu
baju seragamku bergelantung rapuh
bau keringat menyengat hidung yang beku

Biarlah aku pamit dulu, ibu
guru di sekolah sudah menunggu
untuk menghukumku sebab tak hapal tugas seminggu

Meski airmatamu tumpah disapu perih tamparan asap hitam tungku
sepulang sekolah nanti
pasti kusiram wajah letihmu
dengan air jamban yang kuambil dari sumur nadimu.

2012-2013

Marsus Banjarbarat
Sekarang sedang mendalami Ilmu Sejarah di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tulisannya, baik cerpen, puisi maupun esai telah dipublikasikan di sejumlah media lokal dan nasional.