Puisi

Petani dan Penyair

Minggu, 29 September 2013 20:39 wib

Petani? bukan-nya buruh tani?
mereka yang punya nyali
berani menukar otot dengan napasnya
 
Subsidi? Subsidi apa?
subsidi buat apa jika lahan sudah tak ada?
 
Buruh tani membating tulang
melawan harga tengkulak dan penimbun
melawan harga yang ditentukan pembeli
alangkah gelapnya
 
Rakyat miskin memang harus selalu ada
untuk memberi perimbangan bagi kaum kaya
 
Pialang cemas pada fluktuasi
tidak takut pada yang lain
para petani mengkhawatirkan hama
tidak takut pada yang lain
kaum terpelajar memprihatinkan pestisida
tidak takut pada yang lain
buruh tani tidak takut pada apa pun
apa yang hendak ditakutkan
jika merekalah ketakutan itu
tak mungkin: takut pada diri sendiri
 
Barisan buruh tani, maaf
(ini bukan untuk para petani).
jika ratapanku kurang mewakilimu
tak mampu sampaikan sedihnya lebih dalam
karena seperti sawah-ladangmu,
lahan bahasaku juga penuh pestisida
mereka genit mengangkut lema-lema baru,
entah dari mana
aku sedih, barangkali karena aku bukan penyair
hanya buruh kata-kata
 
17 Mei 2007

Adzan di Hotel Estrel-Berlin

Aku dengar azanmu di sana
mengalun pada cahaya yang mengirim cuaca
namun musim mengulur matahari
bersinar lebih lama
 
Di atas secarik mori aku bersujud,
yang entah ke mana arahnya
untuk kelupaan atas banyak hal,
banyak nama
namun aku terbenam dalam imaji
tentang kesendirian yang sunyi
tentang suara itu, lima kali dalam sehari
 
Dari lantai 4, kamar 40404, Hotel Estrel
aku melihat langit yang sama
juga sisa cahaya teja yang sama
namun, hanya 1 nada untuk azan
lima kali sehari dari alarm
 
2 Juli 2011

Foramadiahi
—Maqbarah Sultan Baabullah
 
Aku tiba di tempat engkau berbaring
napas terengah, langkah tertatih
inilah puncak tertinggi di timur
bagi pasakmu yang menghunjam di barat
 
Menghirup angin hutan cengkeh
kutelan ludah, memangkas jarak
antara pahitnya pengkhianatan
dan manisnya kemenangan

Hari ini, aku telah tiba di sisimu, Sultan
menjejak dengan kaki telanjang
di atas tanah makammu
karena aku tahu
engkau, di dalam kesunyian Foramadiahi
tak pernah mati

Hidup lalu menggamit tanganku, pergi
meluncur ke arah entah
membawaku ke tempat yang lain
memberi nama, lalu berpindah-pindah
 
29 Oktober 2011

M. Faizimenerjemah buku, menulis esai, naskah drama, dan terutama puisi. Karyanya dimuat di  koran dan majalah. Puisi-puisinya juga terkumpul dalam 10 antologi puisi bersama. Dari 12 buku yang telah dia tulis, 4 di antaranya berupa kumpulan puisi, yaitu “Delapanbelas Plus” (Diva Press, 2003); “Sareyang” (Pustaka Jaya, 2005); “Rumah Bersama” (Diva Press, 2007); dan “Permaisuri Malamku” (Diva Press, 2011). Pernah mengikuti serangkaian kegiatan sastra, antara lain: Ubud Writers and Readers Festival, 2008, di Bali;  Jakarta Berlin Arts Festival, di Berlin, Jerman, 24 Juni-3 Juli 2011, dan Temu Sastrawan Indonesia ke-4, Ternate, Maluku Utara, 25-29 Oktober 2011, dan Pertemuan Penyair Nusantara VI, Jambi, 29-31 Desember 2012.