Sosok

Uswatun Hasanah; Hidupkan Tradisi yang Hilang, Sukses Jadi Pengusaha Batik

Jum'at, 07 November 2014 13:08 wib

...
Uswatun Hasanah di Galeri Batik miliknya (santrinews.com/detik)

BERKAT kegigihan ingin memunculkan kembali tradisi yang hilang di kampungnya, kini Uswatun Hasanah (44) seorang ibu rumah tangga di Desa Kedung Rejo, Tuban, Jawa Timur menjadi pengusaha batik sukses dan bisa mengunjungi beberapa negara. Bahkan ia menjadi seorang pengusaha batik tulis tenun Gedog dengan omset ratusan juta rupiah tiap bulan dengan brand Batik Sekar Ayu.

Saat ditemui di rumah sekaligus galeri batiknya di Desa Kedung Rejo, Kecamatan Kerek, Tuban, Uswatun mengatakan dulu di kampungnya ada tradisi yang mengharuskan laki-laki membawa 100 kain batik dengan corak berbeda saat melamar gadis pujaannya. Namun sejak tahun 1970-an, tradisi itu hilang dan tidak ada lagi yang menjalankannya.

“100 lembar kain batik itu ada artinya sendiri-sendiri di tiap motif. Tapi sejak tahun 1970-an, sudah tidak dilakukan lagi,” kata Uswatun beberapa hari lalu.

Kemudian awal tahun 1990-an, Uswatun melihat kain batik Gedog peninggalan neneknya dan ingat ketika ibunya membatik saat dia kecil. Ia pun mulai belajar membatik dan berpikiran untuk menjadi pengrajin batik. Uswatun berharap bisa memunculkan lagi tradisi yang hilang itu.

Tapi dia ternyata tidak ingin sendiri mengejar mimpi itu, Uswatun ingin agar generasi muda di kampungnya juga mengenal tradisi tersebut dan memiliki keterampilan membatik. Maka dengan modal seadanya ia mulai mengajak anak-anak di daerahnya untuk belajar membatik tanpa memungut biaya dari muridnya.

“Awalnya di sini orang-orang hanya bisa menenun. Semua saya mulai dari nol. Saya mulai mengumpulkan 20 anak-anak putus sekolah,” ujarnya.

Tapi usaha yang dirintis itu tidak berjalan mulus karena kain-kain yang dibatik murid-muridnya banyak yang rusak bahkan sampai beberapa tahun berjalan. Meski demikian ia tidak menyerah bahkan sampai rela menjual rumah warisan ibunya.

“Tahun 2000-an alhamdulillah jadi mitra binaan PT Semen Gresik dan diberi modal. Saya bangkit lagi,” pungkas ibu satu anak itu.

Di saat ia mulai sukses, ternyata tragedi bom Bali 2005 berdampak pada penjualan kain batiknya yang sudah merambah ke luar daerah. Kala itu ia bangkrut karena dagangannya yang sudah sampai di Bali tidak terbayar. Beruntung pemberi modal berbaik hati dengan meminta keterangan Uswatun bahkan menambah modal pinjaman.

Kini ibu-ibu di desanya ikut membantu membatik dan anak-anak juga diajari membatik bahkan diberi upah meskipun hasilnya ada yang belum bagus. Berkat usahanya, berbagai penghargaan diperoleh termasuk dari pemerintah yang memberikan anugerah tertinggi bidang industri yaitu Upakarti 2010 kategori pelestarian.

“Alhamdulillah sudah bertemu Presiden SBY, pameran di beberapa negara di Swedia, Thailand, Belanda, dan pernah berangkat sendiri ke Kamboja,” tuturnya.

Hanya Lulus SD
Uswatun sekarang sudah bisa meraup omset antara Rp 100 juta hingga Rp 250 juta per bulan, bahkan omset tertinggi pernah mencapai Rp 400 juta. Harga kain dengan motif khas Tuban hasil produksinya dijual dengan harga Rp 150 ribu per lembar hingga Rp 4 juta per lembar untuk kain batik Gedog dengan bahan sutra khusus.

“Saya punya koleksi batik kuno 400 lembar, pernah ditawar kolektor Rp 100 juta karena anak saya yang sekarang masih SMA punya cita-cita ingin membuatkan museum batik,” kata perempuan yang hanya lulusan SD ini.

Sementara itu anak-anak yang belajar membatik di tempat Uswatun mengaku senang karena bisa belajar sekaligus mendapatkan uang jajan. Salah satunya, Meilisa (14), siswi SMP ini sudah sejak kelas 2 SD belajar membatik dan sekarang sudah cekatan menguasai proses-proses membatik.

“Sehari bisa satu kain, tapi bagiannya beda-beda. Sekarang saya masih neyecek (memberi motif titik-titik). Sebulan bisa dapat Rp 100 ribu, enggak susah, Kalau gagal tetap dibayar,” ujarnya.

Di galerinya, Uswatun membatasi waktu anak-anak yang belajar membatik agar tidak terlalu lama di sana dan tidak mengganggu jam belajar. Sedangkan ibu-ibu yang juga ikut membantu boleh membawa pulang kainnya dan dikerjakan di rumah.

“Banyak juga turis-turis yang datang ke sini dan menginap. Saya memang menyiapkan tiga kamar di sini,” kata Uswatun. (shir/detik)