Sosok

Hj Maisaroh, Berdayakan Petani Lewat Produksi Olahan Salak

Rabu, 05 Oktober 2016 17:54 wib

...
Hj Maisaroh di toko produksi olahan buah Salak miliknya (santrinews.com/rusman)

Bangkalan adalah salah satu Kabupaten di Madura yang dikenal penghasil buah Salak. Namun, tak banyak yang memamfaatkannya sebagai sebuh peluang usaha yang menjanjikan.

Adalah Ibu Hj Maisaroh, 42 tahun, yang menangkap peluang tersebut. Warga Bileporah Kecamatan Socah, Bangkalan itu pun berpikir bagaimana Salak bisa dikelola hingga menjadi potensi usaha yang bisa memberikan kesejahteraan pada masyarakat.

Gayungpun bersambut. Suatu hari, pemilik toko “Nusa Indah” akan kedatangan tamu sekitar dua bus. Waktu itu, dia masih bekerja di toko yang menyediakan oleh-oleh khas Madura tersebut.

“Nah, waktu itu saya langsung ingat buah Salak, dan saya usul mau buat dodol Salak sebagai suguhan, ternyata bos saya setuju dan langaung suruh buat dan ternyata cocok,” Maisaroh mengawali cerita.

Berkah Tamu
Ditemui SantriNews.com, Selasa, 4 Oktober 2016, Maisaroh berkisah panjang tentang usaha produksi makanan olahan Salak dari ide awal hingga berkembang pesat seperti sekarang.

Berawal dari menyediakan suguhan dodol buah Salak kepada sang tamu bosnya itu, kemudian Maisaroh terus mengembangkan usahanya tersebut.

Hingga sekarang sudah berjalan kurang lebih 4 tahun. Usahanya mengalami perkembangan cukup pesat. Produknya juga semakin bermacam-macam. Ada minuman sirup dari buah Salak, Kismis Salak.

Bukan hanya Salak. Dia bahkan merambah ke produk kripik bayam, krupuk jagung, serta berupa kerajinan.

Agar bisa mempermudah dalam pengembangan usaha, Maisaroh membentuk UMKM dan Kelompok Tani yang diberi nama “MELATI” dengan beranggotakan sebanyak 20 orang.

Sejahterakan Petani
Dari wadah itulah dia mengumpulkan para petani Salak untuk menjadi anggota. Salah satunya dengan membeli hasil panen buah Salak dari anggota kelompok tani. “Saya beli Salak dari para anggota, dan saya belinya lebih mahal dari harga pasar,” tegasnya.

Misalnya, bila harga jual di pasar perbak seharga Rp.50 ribu, maka Maisaroh membelinya dengan Rp.55 ribu. “Tujuannya agar petani senang dan lebih sejahtera,” kata perempuan kelahiran Bangkalan, 31 Desember 1974, ini.

Kini, produk yang dikembangkan Maisaroh sudah ada di beberapa toko oleh-oleh khas di Bangkalan, termasuk toko Nusa Indah.

Selain itu, dia juga membuka toko kecil di desanya. Meski masih sangat sederhana tapi lumayan strategis, sebab berlokasi di akses jalan wisata Kolam Renang Baru Putih Jaddih. Yaitu, berjarak sekitar 3 kilometer ke arah barat dari kolam renang tersebut.

“Alhamdulillah meski baru seperti itu pemasarannya, omzetnya perbulan berkisar Rp.3 juta,” ungkapnya.

Dia juga bersyukur usahanya mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten. “Sering mendapat pembinaan dari Disperindag dengan diikutkan pelatihan, bahkan juga diberi bantuan peralatan, termasuk juga mendapat pembinaan dari Dinas Koperasi dan UMKM Bangkalan,” katanya.

Diakui Maisaroh, banyak kendala yang harus dihadapi, diantaranya pemasaran. Namun, dia tak menyerah. Dia terus mengembangkan usahanya agar lebih maju dan masyarakat lebih sejahtera. “Semoga kedepan bisa lebih maju,” pungkasnyaa. (rusman/hay)