Sosok

KH Habibullah Zaini Lirboyo, Pecinta Ilmu yang Bersahaja

Senin, 10 Februari 2020 08:59 wib

...

KH Ahmad Habibullah Zaini lahir pada Agustus 1954. Putra kedua dari pasangan KH Zaini Munawwir (Krapyak) dan Nyai Qomariyah Abdul Karim (Lirboyo).

Kiai Zaini dan Nyai Qomariyyah memiliki 4 putra. Putra pertama wafat saat masih kecil, putra kedua almarhum H Thoha Zaini (bapak saya), putra ketiga adalah KH Habibullah Zaini, dan putra bungsunya adalah almarhum Hasan Zaini.

Sejak kecil Kiai Habibullah belajar di bawah pengampuan orang tua dan para gurunya di Pesantren Lirboyo, Kediri. Setamat dari Lirboyo, beliau melanjutkan nyantri di Pesantren Tanggir, Tuban. Usai nyantri di Pesantren Tanggir, beliau pulang kembali ke Lirboyo, menikah dan melanjutkan pengabdiannya sebagai dzurriyyah Lirboyo: mengajar dan mengasuh santri.

Kiai Habibullah beristrikan Nyai Sa’adah dan memiliki 4 orang putra-putri. Saya memanggil keempat sepupu saya itu dengan panggilan bulek Lia Hikmatul Maula Yasser Lanaa Umuronaa, Lek A. Khuwarizmi Ijtabahu Robbuhu Khuwaarizmiy Ahmad, bulek Arina Maqsuroh Fil Khiyam Arina M. Filkhiyam, dan Lek A. Himi Biknada.

Bersahaja dan Pecinta Ilmu
Kiai Habibullah Zaini adalah sosok pecinta ilmu yang bersahaja, tekun dan telaten. Pada masa kepengasuhan Kiai Idris Marzuki, Kiai Habibullah mendapatkan amanah untuk menjadi kepala Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Pesantren Lirboyo. Dan saat ini beliau adalah salah satu pengasuh Pesantren tersebut.

Kiai Habibullah termasuk sosok yang jarang bepergian. Di waktu sehatnya, aktifitas utamanya adalah mengaji dan mengasuh santri. Karena ndalemnya yang berada tepat di depan Masjid Lawang Songo Lirboyo, maka tiap kali ngimami shalat, beliau cukup ke masjid dengan melewati “bancik” yang menghubungkan ndalem beliau dengan masjid Lawang Songo.

Bancik adalah semacam media seukuran ubin yang digunakan untuk menghubungkan antar bangunan. Bancik banyak ditemui di Pesantren Lirboyo yang terbukti efektif sebagai media yang menghubungkan antar bangunan di area pesantren yang total luasnya lebih dari 5 hektar itu.

Kiai Habibullah adalah sosok yang bersahaja dan mencintai ilmu. Kebersahajaan beliau dapat dilihat dari sikap hidupnya sehari-hari. Dari cara berpakaian, cara dahar, cara berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Beliau juga selalu berhati-hati dalam persoalan fiqh, akhlak dan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesederhanaan dan akhlak beliau sungguh tampak saat berdekatan dengan beliau. Ketawadluan beliau juga akan dapat terlihat dari melihat sikap tubuh beliau kala beliau berada satu majelis dengan kiai-kiai yang lain.

Saya teringat saat beliau mengantar saya ke Kajen, ketika saya menikah. Waktu itu, bapak saya sudah wafat. Karena beliau adalah satu-satunya adik kandung bapak saya yang masih ada, maka beliaulah yang membimbing dan memasrahkan saya ke Kajen. Sikap tawadlu beliau terlihat pada saat momen dahar bersama kiai-kiai yang lain di ndalem Kiai Sahal Mahfudh. Walau di Lirboyo beliau dihormati oleh ribuan santri, tapi ketika berada dalam kesempatan dahar siang di Kajen, Kiai Habibullah justru berinisiatif mengambilkan nasi (nanduki) kiai-kiai lain yang berusia lebih lanjut.

Tawadlu beliau juga sungguh terlihat saat berada dalam majelis ngaji Kamis Legian yang diselenggarakan oleh pengasuh pesantren Lirboyo untuk para alumni pada tahun-tahun terakhir ini. Kala badan dalam kondisi sehat, Kiai Habibullah, bersama dengan dzurriyyah yang lain selalu tampak ikut mengaji, menyimak dengan takzim pengajian kitab al Hikam Kamis Legi yang diampu KH Anwar Manshur.

Pribadi beliau yang pendiam, akan terlihat berbeda saat “ngadep dampar” (sebuah istilah yang lazim digunakan di Lirboyo untuk aktifitas mengaji Kitab Kuning untuk para santri). Saya teringat saat beliau sempat pulih dari gerah panjangnya. Ketika saya sowan dan bertanya kepada beliau:

“Pak Abib sampun mulai ngaji malih?”

“Iyo,” jawab beliau dengan senyum memenuhi wajahnya.

Saat itu saya dapat mengerti, “ngadep dampar” adalah kebahagiaan beliau. Ketika kecil, dalam kenangan saya, beliau adalah salah satu dzurriyyah Lirboyo yang kuat dalam mbalah kitab. Beliau memiliki kebiasaan ngaji posonan sejak pertengahan bulan Rajab hingga pertengahan bulan Ramadlan, dengan mengkhatamkan satu kitab besar.

Di saat sehatnya, jadwal ngaji posonan beliau adalah pagi hingga Dzuhur. Ba’da dzuhur hingga ba’da Ashar. Kemudian Ba’da Tarawih hingga menjelang tengah malam. Dan suara beliau tetap ajeg tiap kali membacakan kitab-kitab tersebut untuk para santri.

Entahlah, airmata saya selalu bercucuran setiapkali mengingat beliau. Saat ini beliau sedang gerah dan dirawat di sebuah rumah sakit di Surabaya. Banyak kenangan semasa kecil hingga saya dewasa yang memenuhi benak saya. Setelah bapak saya wafat, beliau adalah orang tua saya. Beliau juga yang menjadi salah satu kangenè ati, tiapkali saya pulang kampung ke Lirboyo.

Banyak uswah dari akhlak mulia beliau yang menjadikan beliau pribadi istimewa. Baik bagi saya pribadi maupun insya Allah bagi santri-santri Lirboyo. Semoga beliau pinaringan panjang umur, pinaringan kesembuhan dan kesehatan. Alfatihah… ! (*)

Kajen, 10 Februari 2020