Syariah

Shalat Tarawih: Makmum Tak Perlu Baca Al-Fatihah

Sabtu, 02 Mei 2020 22:00 wib

...
Suasana shalat Tarawih di salah satu masjid di Jakarta, Kamis, 23 April 2020 (santrinews.com/antara)

Masih saja ada jamaah bertanya, bagaimana hukum bacaan Fatihah Makmun yang pasti ketinggalan khususnya pada rakaat kedua, ketika imam baca “Qul Hu”. Bukannya mendengar bacaan surat imam, melainkan bacaan fatihah makmun berkejaran dengan bacaan “Qul Hu” imam. Bagaimana sebaiknya?

Sebagaimana pertayaan fikih lainnya, tidak ada masalah fikih yang tidak terjawab dalam kitab-kitab kuning, hampir semua jawaban telah tersedia.

Makmum yang selalu ketinggalan membaca Fatihah, sebaiknya tidak perlu membaca Fatihah, lebih baik mendengarkan dan meresapi bacaan surat imam, ya setidaknya mendengar saja. Ini berlaku baik dalam shalat tarawih maupun lainnya. Nabi bersabda:

عن أبي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عنه، قال: قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ((إنَّما جُعِلَ الإمامُ ليؤتمَّ به، فإذا كبَّر فكبِّروا، وإذا قرأَ فأَنصِتوا،

Seorang dijadikan imam agar diikuti, maka bila imam bertakbir maka bertakbirlah, bila imam membaca (Fatihah), maka dengarkanlah (jangan ikut baca Fatihah juga).”

Lafadz “inshat” di hadist ini, dan juga dalam khutbah Jumat artinya “diam sambil memperhatikan”, bukan hanya diam saja.

Dalam hadist lain Nabi bersabda:

من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة

Barang siapa yang bermakmum pada seorang imam, maka bacaan imam adalah juga bacaan makmum.”

Berdasar dua hadist ini, sebagian ulama menyatakan bahwa makmum tidak harus membaca Fatihah dan juga surat. Cukuplah bacaan imam sebagai bacaannya.

Jadi dari pada ketinggalan mulu dan terus berkejaran dengan imam yang menyebabkan shalat tidak fokus (khusuk), maka makmum sebaiknya cukup dengarkan bacaan imam, karena mendengar hakikatnya adalah membaca.

Bagaimana dengan pandangan Imam Syafi’i dan imam yang lain yang menyatakan bahwa bacaan Fatihah menjadi kewajiban bagi siapapun yang shalat termasuk makmum, berdasar hadist “tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Fatihah”?

Ya, sekali lagi, ini soal fikih. Tidak usah diributkan. Bagi yang mantab dengan pandangan fikih tertentu ya dipersilakan, yang penting tidak bertengkar karena shalat. Agar ada bedanya shalat dengan “betengkar akibat berebut pembagian sembako”. Wallahu A’lam. (*)

Situbondo, 1 Mei 2020

KH Imam Nakha’i, Dosen Fikih-Ushul Fikih di Ma’had Aly Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.