Syariah

Perintah Nabi dan Ulama: Doakan Pemimpin, Jangan Dicaci

Minggu, 21 Juni 2020 22:30 wib

...

Di dalam negara terdapat satu kekuatan, pemerintahan namanya. Jika mereka baik maka akan baik pula seluruh rakyatnya yang – di Indonesia— berjumlah 200 juta lebih. Jika tidak baik maka akan berdampak buruk kepada seluruh warganya. Mendoakan kebaikan untuk para pemimpin hakikatnya untuk kebaikan kita bersama.

- Nabi shalallahu alaihi wasallam:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻣﺎﻣﺔ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗﺎﻝ: “ «ﻻ ﺗﺴﺒﻮا اﻷﺋﻤﺔ ﻭاﺩﻋﻮا اﻟﻠﻪ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼﺡ ﻓﺈﻥ ﺻﻼﺣﻬﻢ ﻟﻜﻢ ﺻﻼﺡ» “.

Dari Umamah bahwa Nabi shalla Allahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan mencaci para pemimpin. Doakan mereka dengan kebaikan. Sebab kebaikan mereka adalah kebaikan bagi kalian” (HR Thabrani)

- Ahmad bin Hambal (241 H)

«ﻭﺇﻧﻲ ﻷﺩﻋﻮ ﻟﻪ ﺑﺎﻟﺘﺴﺪﻳﺪ، ﻭاﻟﺘﻮﻓﻴﻖ، ﻓﻲ اﻟﻠﻴﻞ ﻭاﻟﻨﻬﺎﺭ، ﻓﻲ ﻛﻼﻡ ﻛﺜﻴﺮ.»

Sungguh aku beroda untuk pemimpin dengan kebenaran dan pertolongan, malam atau siang, dalam banyak perbincangan” (Al-Bidayah wa Nihayah 10/372).

- Fudlail bin Iyadl (187 H)

ﻗﺎﻝ اﻟﻔﻀﻴﻞ ﺑﻦ ﻋﻴﺎﺽ : “ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻟﻲ ﺩﻋﻮﺓ ﻣﺴﺘﺠﺎﺑﺔ ﻣﺎ ﺻﻴﺮﺗﻬﺎ ﺇﻻ ﻓﻲ اﻹﻣﺎﻡ

Fudlail bin Iyadl berkata: “Andaikan aku memiliki doa yang mustajab, maka akan kuberikan untuk pemimpin.”

ﻗﻴﻞ ﻟﻪ: ﻭﻛﻴﻒ ﺫﻟﻚ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻋﻠﻲ؟ ﻗﺎﻝ: ﻣﺘﻰ ﻣﺎ ﺻﻴﺮﺗﻬﺎ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻲ ﻟﻢ ﺗﺠﺰﻧﻲ ﻭﻣﺘﻰ ﺻﻴﺮﺗﻬﺎ ﻓﻲ اﻹﻣﺎﻡ ﻓﺼﻼﺡ اﻹﻣﺎﻡ ﺻﻼﺡ اﻟﻌﺒﺎﺩ ﻭاﻟﺒﻼﺩ

Ada yang tanya kepada Fudlail: “Mengaplikasikan demikian?” Ia menjawab: “Jika doa itu untukku maka hanya manfaat untukku saja. Dan jika kujadikan untuk pemimpin maka kebaikan pemimpin adalah kebaikan bagi rakyat dan negeri…”

ﻓﻘﺒﻞ اﺑﻦ اﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺟﺒﻬﺘﻪ , ﻭﻗﺎﻝ: ﻳﺎ ﻣﻌﻠﻢ اﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﻳﺤﺴﻦ ﻫﺬا ﻏﻴﺮﻙ

Kemudian Ibnu Mubarak mencium kening Fudlail bin Iyadl dan berkata: “Wahai pengajar kebaikan. Tidak ada yang sebagus ini selain engkau” (Hilyatul Auliya’ 8/91). (*)

Ustaz Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.