Syariah

Contoh Para Sahabat Nabi Lakukan Bid’ah, Diazab Karena Tak Sesuai Sunnah?

Rabu, 03 November 2021 07:00 wib

...

Ada riwayat dari Tabi’in yang dijadikan dalil oleh kelompok Salafi tentang perbuatan bid’ah yang menyalahi Sunnah Nabi:

ﻋﻦ اﺑﻦ اﻟﻤﺴﻴﺐ، ﺃﻧﻪ ﺭﺃﻯ ﺭﺟﻼ ﻳﻜﺮﺭ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﺑﻌﺪ ﻃﻠﻮﻉ اﻟﻔﺠﺮ ﻓﻨﻬﺎﻩ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺃﻳﻌﺬﺑﻨﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ؟» ﻗﺎﻝ: «ﻻ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﻌﺬﺑﻚ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻑ اﻟﺴﻨﺔ»

Ibnu Musayyib melihat seseorang mengulang-ulang shalat setelah terbit fajar dan ia mencegahnya. Lelaki itu bertanya: “Apakah Allah akan mengazabku atas perbuatan shalat?” Ibnu Musayyab menjawab: “Bukan, tetapi Allah mengazabmu karena menyalahi Sunnah” (Mushannaf Abd Razzaq).

Benarkah sampai segitunya? Tidak betul. Coba saja buka kitab tersebut di halaman berikutnya kita akan menemukan riwayat dari Tabi’in lainnya yang berbeda:

ﻋﻦ اﻟﺤﺴﻦ ﻗﺎﻝ: «ﺻﻞ ﺑﻌﺪ ﻃﻠﻮﻉ اﻟﻔﺠﺮ ﻣﺎ ﺷﺌﺖ»

Hasan Al-Bashri berkata: “Salatlah setelah terbit fajar sesuai yang kau inginkan” (Mushannaf Abd Razzaq)

Kelanjutan riwayat berikutnya:

ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ اﻟﻜﺮﻳﻢ ﺃﺑﻮ ﺃﻣﻴﺔ «ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺖ ﻋﻄﺎء ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺩﺧﻞ ﻣﺴﺠﺪ ﻣﻨﻰ ﺑﻌﺪ ﻃﻠﻮﻉ اﻟﻔﺠﺮ ﻓﺼﻠﻰ ﺛﻤﺎﻥ ﺭﻛﻌﺎﺕ» ﻓﺴﺄﻟﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﺱ

Abdul Karim Abu Umayyah berkata: “Aku melihat Atha’ masuk Masjid Mina setelah terbit fajar lalu ia shalat 8 rakaat”. Setelah ditanya, ia menjawab: “Aku melihat Thawus melakukan shalat 8 rakaat (Mushannaf Abd Razzaq).

Setidaknya dalam bab ini ada 3 Tabi’in yang tidak sama pendapatnya dengan Ibnu Musayyib. Artinya jika tidak melakukan sesuai Sunnah tidak sampai pada derajat haram. Andaikan sampai haram dan disiksa tentu para Tabi’in yang lain akan sepakat, atau bahkan para Sahabat tidak akan menyalahi Sunnah.

Berikut beberapa perbuatan Sahabat Nabi yang “menyalahi Sunnah”:

1. Riwayat Umar bin Khattab menambah bacaan Qunut dalam shalat.

Kita tahu doa Qunut yang dibaca Rasulullah adalah pendek, yaitu Allahumma ihdini dan seterusnya. Lalu ada Qunut Sayidina Umar yang lebih panjang (riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazzaq. Mufti Saudi menilai sahih).

Sayidina Umar menambah bacaan Qunut yang tidak sesuai dengan Sunnah, apakah Sayidina Umar akan diazab? Yang benar saja! Sayidina Umar termasuk dalam 10 Sahabat yang dikabarkan masuk surga (HR Tirmidzi).

2. Riwayat Utsman bin Affan menambah azan Jumat

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Sahihnya bahwa Ustman bin Affan menambah azan menjadi 2 kali sebelum Jumat, padahal Nabi dan dua Khalifah sesudahnya hanya azan satu kali. Apakah Sayidina Utsman akan diazab? Yang benar saja! Sayidina Utsman termasuk dalam 10 Sahabat yang dikabarkan masuk surga (HR Tirmidzi).

Kalau kita ke Makkah dan Madinah akan menjumpai Shalat Jumat dengan 2 kali azan. Apakah ulama Salafi yang juga ikut jumatan di sana setuju dengan menyalahi Sunnah?

3. Riwayat Sahabat Ustman bin Affan tidak salat Qashar di Mina

Sahabat Ibnu Mas’ud ikut menyaksikan Nabi, Abu Bakar dan Umar melakukan shalat Qashar di Mina. Tapi Utsman bin Affan tidak melakukan sesuai Sunnah (HR Abu Dawud dan Al-Baihaqi). Khalifah Utsman bin Affan saat itu melakukan shalat secara sempurna. Andaikan jika menyalahi Sunnah akan disiksa sudah pasti Sahabat Ibnu Mas’ud akan menegur.

Ahli hadis yang juga bermazhab Syafi’i, Al-Baihaqi, berkata:

ﻓﻜﻞ ﻫﺬا ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻬﻢ اﺧﺘﺎﺭﻭا اﻟﻘﺼﺮ ﺑﻘﺒﻮﻝ ﺭﺧﺼﺔ اﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﺮﻭا اﻟﺘﻤﺎﻡ ﻳﻔﺴﺪ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪ ﺃﺗﻢ

Semua riwayat menunjukkan bahwa mereka memilih shalat Qashar untuk menerima keringanan dari Allah. Tapi mereka tidak mengatakan salah kepada orang yang melakukan shalat secara sempurna saat di perjalanan (Ma’rifat As-Sunan).

4. Riwayat Anas bin Malik shalat sunnah sebelum Hari Raya

Terkait shalat sunnah sebelum Hari Raya dijelaskan dalam riwayat berikut:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻗﺎﻝ: ﻟﻴﺲ ﻣﻦ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﺼﻼﺓ ﻗﺒﻞ ﺧﺮﻭﺝ اﻹﻣﺎﻡ ﻳﻮﻡ اﻟﻌﻴﺪ ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ

Sahabat Abu Mas’ud berkata: “Shalat Sunah sebelum Imam keluar Shalat ‘Id bukanlah termasuk Sunnah” (HR Thabrani, para perawinya adalah terpercaya)

Namun ada Sahabat yang tetap melakukan shalat sunnah sebelum shalat ‘Id:

ﻋﻦ ﺃﻳﻮﺏ ﻗﺎﻝ: ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻭاﻟﺤﺴﻦ ﻳﺼﻠﻴﺎﻥ ﻳﻮﻡ اﻟﻌﻴﺪ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺝ اﻹﻣﺎﻡ

Ayyub berkata: “Aku melihat Sahabat Anas bin Malik dan Hasan Al-Bashri (Tabiin) melakukan shalat sunah sebelum Imam keluar shalat Id.

ﻭﺭﻭﻯ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ: ﺃﻥ ﺃﻧﺴﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺃﺭﺑﻊ ﺭﻛﻌﺎﺕ، ﻭﺭﺟﺎﻝ ﺃﺑﻲ ﻳﻌﻠﻰ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam Al-Kabir bahwa Sahabat Anas shalat 4 rakaat (sebelum Shalat Id). Para perawi Abu Ya’la adalah perawi Sahih.

5. Riwayat Ibnu Umar menambah bacaan dalam shalat

Syekh Albani menyebut sosok Sahabat Ibnu Umar:

ﻭﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﺣﺮﻳﺼﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻨﺔ ﻛﺎﺑﻦ ﻋﻤﺮ

Apalagi jika sahabat tersebut sangat senang kepada Sunnah seperti Ibnu Umar (Silsilah Sahihah, 5/379)

Kita sudah hafal bacaan Tasyahhud dalam shalat sesuai hadis Nabi yang Sahih. Tapi ada sahabat yang menambah bacaan saat shalat:

اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩ اﻟﻠﻪ اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ، ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ – ﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ: ﺯﺩﺕ ﻓﻴﻬﺎ: ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ – ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪا ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ “

Ibnu Umar berkata: “Saya tambahkan bacaan ‘Wahdahu Laa syarika lahu’.” (HR Abu Dawud)

Anehnya Syekh Albani menilai Sahih terhadap riwayat ini. Bukankah kata Syekh Albani orang yang ibadahnya tidak sesuai sunnah akan diazab?

Akhirnya saya tidak percaya kepada mereka yang argumen dalilnya justru bertentangan dengan para Sahabat Nabi dan kebanyakan Tabi’in. (*)

Ustaz Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.