Syariah

Mujtahid Palsu, Perusak Ilmu Hadis dan Ushul Fiqh

Jum'at, 06 Mei 2022 14:00 wib

...

Dari dulu perjalanan Mazhab selalu mengalami pro kontra. Fikih 4 Mazhab lah yang paling bertahan lama ribuan tahun dan diikuti oleh mayoritas umat Islam.

Kali ini sama, Ilmu Ushul Fikih dan produknya berupa Fikih kembali dihujat dan dirusak seperti Ilmu Hadis. Mereka mengambil serampangan Ilmu Hadis lalu banyak prosedur yang ditabraknya tanpa beraturan.

Ilmu dalam Islam yang saya pelajari adalah menggunakan sistem Mazhab. Bukan semua merasa mampu ijtihad. Rusak tatanan yang ada. Ilmu kedokteran saja ada jurusannya dan ada kriteria tersendiri untuk mencapai gelar dokter, apalagi Ilmu Agama.

Mereka mengaku ikut ulama Salaf. Tapi kali ini bohong untuk yang kesekian kalinya. Sebab ternyata tidak semua sahabat berijtihad, tetapi mengikuti Sahabat lain yang lebih ahli.

Ulama Ahli hadis, Syekh Ali Al-Madini menjelaskan:

ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻟﻪ ﺻﺤﺒﺔ ﻳﺬﻫﺒﻮﻥ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﻭﻳﻔﺘﻮﻥ ﺑﻔﺘﻮاﻩ ﻭﻳﺴﻠﻜﻮﻥ ﻃﺮﻳﻘﺘﻪ ﺇﻻ ﺛﻼﺛﺔ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻭﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ

“Tidak ada dari para Sahabat Nabi shalallahu alaihi wa sallam yang pendapat dan fatwanya diikuti oleh Sahabat lain kecuali 3, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas” (Ibnu Al-Madini, Al-‘Ilal, 1/42)

Jadi sistem bermazhab sudah ada sejak zaman Sahabat.

Imam Ahmad yang luar biasa keilmuannya di bidang hadis pun masih mengikuti Imam Syafi’i:

قال أحمد بن حنبل: إذا سئلت عن مسألة لا أعرف فيها خبرا، قلت فيها بقول الشافعي، لانه إمام قرشي، وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “ عالم قريش يملا الارض علما “

Ahmad bin Hanbal: “Jika saya ditanya suatu masalah yang tidak saya temukan hadisnya, maka saya fatwakan dengan pendapat Syafi’i. Sebab dia Imam Bani Quraisy, seperti hadis: “Orang alim dari Quraisy akan memenuhi ilmu di dunia” (al-Hafidz al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, 10/82)

Padahal penguasaan hadis beliau:

قال عبد الله بن أحمد: قال لي أبو زرعة. أبوك يحفظ ألف ألف حديث، فقيل له: وما يدريك ؟ قال: ذاكرته فأخذت عليه الابواب.
فهذه حكاية صحيحة في سعة علم أبي عبد الله

Abu Zur’ah berkata kepada Abdullah bin Ahmad: “Ayahmu hafal 1.000.000 hadis”. Abdullah: “Dari mana anda tahu?”. Abu Zur’ah: “Aku pernah berdialog dan aku ambil beberapa bab”

Al-Dzahabi: “Ini adalah kisah sahih tentang luasnya keilmuan Ahmad bin Hambal” (Siyar A’lam al-Nubala’, 11/187)

Bagaimana kriteria Mujtahid menurut ulama Salaf?

ﻭﻗﺎﻝ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ اﻟﻤﻨﺎﺩﻱ: ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺟﻼ ﻳﺴﺄﻝ ﺃﺣﻤﺪ: ﺇﺫا ﺣﻔﻆ اﻟﺮﺟﻞ ﻣﺎﺋﺔ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻘﻴﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ: ﻻ، ﻗﺎﻝ: ﻓﻤﺎﺋﺘﻲ ﺃﻟﻒ؟ ﻗﺎﻝ: ﻻ، ﻗﺎﻝ: ﻓﺜﻼﺙ ﻣﺎﺋﺔ ﺃﻟﻒ؟ ﻗﺎﻝ: ﻻ، ﻗﺎﻝ: ﻓﺄﺭﺑﻊ ﻣﺎﺋﺔ ﺃﻟﻒ، ﻗﺎﻝ ﺑﻴﺪﻩ ﻫﻜﺬا، ﻭﺣﺮﻙ ﻳﺪﻩ.

Muhammad bin Abdullah Al Munadi mendengar seseorang bertanya kepada Ahmad bin Hambal: “Jika seseorang hapal 100 ribu hadis apakah disebut sebagai ahli Fikih?” Ahmad: “Belum!” al-Munadi: “Jika hapal 200 ribu?” Ahmad: “Belum!”. al-Munadi: “Jika hapal 200 ribu?” Ahmad: “Belum!” Ketika ditanya 400 ribu hadis baru Imam Ahmad mengisyaratkan dengan tangannya. (I’lam Al-Muwaqqi’in 1/36)

Mereka mengaku mampu berijtihad dengan mengikuti Ulama Salaf adalah kebohongan! Jika ada dokter tidak sesuai kriteria disebut dokter palsu. Juga orang yang mengaku polisi atau tentara tapi tidak sesuai prosedur juga disebut gadungan. Maka mereka adalah Mujtahid Palsu. ®

Ustadz Ma’ruf Khozin, Ketua Aswaja NU Center PWNU Jatim dan Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim.