Tarikh

Kisah Penaklukan Konstantinopel: Sultan Al-Fatih, Syeikh Aq Syamsuddin & Abu Ayyub Al-Anshari

Minggu, 02 Agustus 2020 01:00 wib

...
Ilustrasi Penaklukan Konstantinopel

Ketika mengepung benteng Konstantinopel, Sultan al-Fatih mengutus Ahmad Pasya, putra Waliyuddin, untuk menemui gurunya, seorang wali saleh, Syaikh Muhammad bin Hamzah yang masyhur dengan julukan Aq Syamsuddin, dan mengajaknya ke tempat pengepungan.

Ketika sampai di tempat, Syaikh Aq Syamsuddin berkata, “Kaum muslimin akan berhasil memasuki benteng ini dari tempat “anu”, pada hari “anu” pada waktu pagi.”

Ahmad Pasya mengisahkan, “Ketika tiba waktu yang disebutkan oleh Syaikh Aq Syamsuddin, tentara kaum Muslimin belum juga berhasil menembus benteng tersebut. Kami sangat khawatir dengan keadaan itu. Saya pun segera pergi menemui Syaikh di dalam tendanya. Ketika sampai di depan tenda, salah satu pelayannya melarang saya untuk masuk ke dalam tenda sesuai dengan pesan Syaikh.”

“Lalu saya mengangkat tali kain tenda dan melihat Syaikh sedang bersujud di atas lantai tanpa penutup kepala. Ia larut dalam doanya sembari menangis. Tidak lama setelah itu, ia pun bangkit dan mengucapkan takbir lalu berkata, “Alhamdulillah, Allah telah memberikan kemenangan kepada kita dan membukakan pintu benteng.”

Mendengar itu saya langsung melihat ke arah benteng yang dimaksud oleh Syaikh. Dan benar adanya. Saat itu juga saya melihat pasukan kaum muslimin berhasil masuk ke dalam benteng, kemudian Allah pun memberikan kemenangan kepada kami berkat doa sang Syaikh.

Ketika Sultan al-Fatih berada di dalam benteng, saya katakan kepadanya, “Kemenangan ini persis seperti yang diberitahukan oleh Syaikh.” Mendengar hal itu, Sultan al-Fatih berkata, “Demi Allah, kebahagiaanku karena kemenangan ini tidak melebihi kebahagiaanku karena adanya Syaikh Aq Syamsuddin pada zaman saya ini.”

Pada hari berikutnya, Sultan al-Fatih mendatangi Syaikh di dalam tendanya yang ketika itu sedang dalam posisi tiduran. Lalu Sultan Muhammad Fatih masuk dan mencium tangannya dan berkata, “Saya datang untuk suatu keperluan.”
Syaikh menjawab, “Apa keperluanmu?”
“Saya ingin ikut berkhalwat bersamamu untuk beberapa hari,” kata Sultan al-Fatih.
“Tidak boleh. Kamu tidak boleh ikut berkhalwat,” tukas Syaikh.

Sultan terus mendesak agar diperbolehkan ikut berkhalwat, namun Syaikh tetap menolak permintaan Sultan.

Dengan nada emosi sultan pun berkata, “Orang biasa datang kepada Anda untuk ikut berkhalwat langsung Anda izinkan, kenapa Anda tidak mengizinkan saya!”

Dengan tenang Syaikh menjelaskan alasannya, “Jika engkau ikut berkhalwat, engkau akan mendapati kenikmatan yang tiada tara. Jabatan dan kekuasaan pun akan jatuh dari pandanganmu. Semua itu menjadi tidak ada artinya lagi bagimu. Jika engkau meninggalkan jabatanmu, tentu akan terjadi kekacauan, dan keseimbangan pun hilang. Ini tentu akan membuat Allah murka kepada kita semua. Sedangkan tujuan dari khalwat adalah tercapainya keadilan. Maka yang harus kau lakukan adalah hal-hal ini.” Syaikh menyampaikan sejumlah pesan dan nasehat kepada sang Sultan.

Sultan Fatih mendengarkan nasehat dan pesan Syaikh dengan penuh kepatuhan, dan ia pun menerima keputusan Syaikh yang melarangnya untuk ikut berkhalwat.

Sultan lalu memberikan dua ribu dinar emas kepada Syaikh, namun Syaikh tidak berkenan untuk menerimanya.

Kemudian Sultan Fatih bangkit dan mohon pamit. Dari sejak kedatangan hingga berpamitan, Sultan melihat Syaikh selalu dalam posisi yang sama, yaitu tiduran.

Setelah keluar dari tenda, Sultan berkata kepada Ahmad Pasya yang menemaninya, “Syaikh tadi tidak berdiri sama sekali ketika aku datang maupun ketika aku pergi.” Sultan tampak kurang nyaman dengan sikap Syaikh Aq Syamsuddin.

Maka Ahmad Pasya menjelaskan, “Syaikh melihat ada ghurur (rasa bangga) pada diri Anda karena keberhasilan yang Anda raih. Sebuah prestasi gemilang yang tidak pernah berhasil dicapai oleh para sultan besar sebelum Anda. Syaikh adalah seorang murabbi. Dengan sikapnya tersebut beliau ingin menghilangkan ghurur dari Anda.”

Pada beberapa hari berikutnya, Sultan al-Fatih juga meminta kepada Syaikh Aq Syamsuddin untuk menunjukkan makam Sayyiduna Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Karena, dalam literatur-literatur sejarah disebutkan bahwa makam beliau ada di dekat benteng Konstantinopel, namun ketika itu lokasinya tidak diketahui.

Kemudian Syaikh Aq Syamsuddin memberitahu bahwa ia selalu melihat pancaran sinar di tempat tertentu, kemungkinan besar itu adalah makam Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.

Dikarenakan Sultan ingin membuktikan kebenaran apa ysng dikatakan Syaikh, dan atas izin beliau, tempat itu kemudian digali dan ditemukan sebuah marmer yang padanya tertera sebuah tulisan yang menunjukkan bahwa itu adalah makam Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Thâs Zâdah Kubrâ (w. 968 H/1561 M) dalam karyanya al-Syaqâiq al-Nu’mâniyyah fî ‘Ulamâ al-Daulah al-Utsmâniyyah, yang berisi biografi para ulama pada Dinasti Utsmaniyyah.

Disebutkan juga oleh Imam al-Syaukâni (w. 1255 H/1839 M) di dalam karyanya al-Badr al-Thâli’ fî Mahâsin man ba’da al-Qarn al-Sabi’. Sebuah kitab yang berisi biografi para tokoh setelah abad tujuh Hijriyah hingga masa beliau.

Keduanya menyebutkan kisah tersebut dalam biografi Syaikh Muhammad bin Hamzah yang masyhur dengan julukan Aq Syamsuddin rahimahullah (W. 1459 M), seorang ulama sufi yang bukan hanya pakar dalam ilmu-ilmu keislaman, namun juga pakar dalam ilmu kedokteran, strategi perang, astronomi, eksakta, dan ilmu-ilmu lainnya.

Syaikh Aq Syamsuddin Menguasai bahasa Arab, Persia dan Turki. Beliau meninggalkan sejumlah karya dalam tasawuf dan ilmu kedokteran. (*)

Ahmad Ikhwani, Intelektual muda NU, doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir.