Tarikh

KH Muhammad Arwani Amin dan Tradisi Menyembunyikan Nasab

Rabu, 14 Oktober 2020 07:30 wib

...

Selain dikenal sebagai keluarga “saudagar”, rumah tangga kedua orang tua dari Kiai Muhammad Arwani, juga dikenal sebagai keluarga yang istiqomah mendaras dan mengamalkan Al-Qur’an. Konon hampir setiap minggu H Amin Said dan Hj Wanifah (orang tua Muhammad Arwani) menghatamkan Al-Qur’an, karena itu pula para tetangga menjuluki rumah mereka sebagai “rumah Al-Qur’an” (Maslicha, 2012).

Tradisi inilah yang menurun kepada anak-anak mereka termasuk Arwani muda yang juga menjalani proses pendidikan dari beberapa Kiai pondok pesantren di kota Kudus untuk mempelajari kitab kuning dan Al-Qur’an, selain “bersekolah” di madrasah Mu’awanatul Muslimin Kenepan Kudus.

Kehidupan inilah yang berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian KH Muhammad Arwani. Disamping dikenal sebagai anak yang rajin dan cerdas, Arwani juga dikenal sebagai anak yang sangat patuh kepada kedua orangtuanya. Karena itulah setelah sempat “mengambil sanad” keilmuan dari beberapa kiai pesantren beliau dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan putri seorang saudagar yang cukup “mapan”(masih memiliki hubungan kekerabatan), dan menikah pada usia 30 tahun.

Pada saat itu Kiai Arwani sedang dikader secara “khusus” oleh Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta sebagai calon ulama Al-Qur’an. Meskipun telah menikah, Kiai Arwani tetap kembali ke pesantren Krapyak untuk menuntaskan sanad keilmuannya dari KH Munawir yang dikenal sebagai ahli qira’ah sab’ah.

Latar kehidupan keluarga KH Muhammad Arwani dan juga istrinya Nyai Hj Naqiyul Khud sebagai “pedagang atau pengusaha” muslim sangat menarik untuk diulas.

Perlu diketahui bahwa kehidupan sosial pesisir Jawa memang sangat “ramai” dengan arus kedatangan orang asing dari berbagai bangsa. Karena itu “perdagangan” menjadi salah satu pilihan profesi yang strategis. Mereka tidak hanya menjual dan menawarkan komoditi hasil alam, tetapi juga sumber-sumber ilmu pengetahuan, baik dari India, China, Persia atau pun dari Arab. Seperti kitab-kitab agama Islam yang banyak dibawa para saudagar muslim dari daerah semenanjung Arabia, Persia serta Gujarat India.

H Abdul Hamid (Mertua KH Muhammad Arwani) adalah contoh saudagar muslim yang juga menjadi pedagang kitab yang cukup “sukses”. Tokonya yang bernama “Mubarokatan Toyyibatan”, yang berada di sekitar Masjid Kudus sangat terkenal pada masanya.

Untuk diketahui banyak sekali orang Islam pesisir yang melakukan “kerjasama” ekonomi dengan para saudagar Arab yang juga berperan sebagai “pendakwah”. Karena itulah bisnis yang mereka lakukan bukan hanya menjual kitab atau komoditi yang lain, tetapi juga “investasi” di bidang pertanian dan perkebunan. Namun fenomena ini jarang sekali mendapatkan perhatian para peneliti. Karena memang “sengaja” disembunyikan, untuk menghindari kecurigaan pihak kerajaan ataupun penjajah Belanda.

Posisi sebagai saudagar yang juga pendakwah inilah yang dimasa kolonial sering mendapatkan intimidasi dari bangsa Eropa sebagai penjajah, seperti Potugis, Inggris, Spanyol, Prancis dan terutama Belanda. Kedatangan dan menguatnya Islam dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan Kolonialisme mereka.

Maka muncul beragam “kebijakan” pembatasan dan pengaturan alur perdagangan (bahkan termasuk ibadah haji). Termasuk di dalamnya mengatur status kependudukan pendatang asing yang masuk daerah koloninya. Ruang gerak para saudagar asing (Arab, Persia China dan India), terutama para pendakwah Islam dari Arab semakin sempit dan terus terancam. Apalagi bangsa Eropa punya “trauma politik” dengan umat Islam, karena pernah terlibat “perang salib” yang berkepanjangan.

Itulah salah satu sebab kenapa kemudian para saudagar asing itu “mulai meleburkan diri” dengan penduduk lokal dan menyembunyikan status “etnisnya” dengan menikahi para penduduk setempat.

Fenomena “kekerasan atau intimidasi politik” semacam ini bahkan terus terjadi hingga saat ini terutama pada orang-orang Tionghoa dan sebagian juga orang Arab. Maka wajar jika sebagian bangsa kita ada yang kesulitan “menerima” mereka dalam proses “naturalisasi” sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Alasan ini pula yang mungkin menjadi sebab dari adanya “tradisi” menyembunyikan “sanad genetis” para ulama pesisir Jawa Tengah pada khususnya dan Nusantara pada umumnya di masa lalu.

Bahkan para Wali Songo lebih dikenal sebagai “keturunan” China daripada Arab. Sebab pada masa itu orang-orang China yang lebih dahulu datang dan sudah “terkenal” dengan dinasti besarnya. Dianggap lebih punya “daya tawar” politik, ekonomi dan budaya yang kuat. Sehingga tidak akan banyak mendapatkan gangguan baik dari penguasa ataupun dari para perompak atau bajak laut. Banyak sekali nasab para ulama Pesisir yang “putus” dan tidak terlacak lagi, serta hanya bisa diidentifikasi pada level kakek buyut mereka atau satu generasi di atasnya, seperti yang dialami oleh KH Arwani dari garis ayah.

Untuk diketahui pula keluarga kiai Arwani juga dikenal sebagai keluarga saudagar yang tidak pernah “bersentuhan” secara langsung dengan kegiatan politik praktis. Hal ini juga menjadi semacam “bukti” bahwa ada upaya “sengaja” untuk “menyembunyikan” status keluarga mereka, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Ada dua kemungkinan besar kenapa para ulama Pesisir sering kali “menyembunyikan” nasab mereka. Pertama, sebagai bentuk ikhtiar untuk menghindari konflik dengan penguasa lokal. Baik itu para raja tanah Jawa ataupun penguasa kolonial Belanda.

Kedua, fenomena ini adalah bagian dari prinsip ajaran sufi yang apolitis yang awal berkembangnya dimulai pasca “peristiwa tragedi” Karbala. Dimana para “Dzurriyah” Nabi Muhammad yang masih “tersisa”, mencoba menyembunyikan identitasnya agar terhindar dari fitnah politik yang kejam. Strategi ini kemudian (dimasa-masa selanjutnya) mendapatkan legitimasi ideologis atau kultural.

Kita tentu ingat satu maqola dalam kitab Al Hikam yang berbunyi: اِدْفِنْ وُجُودَكَ فيِ أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَـبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لاَ يَــتِمُّ نَـتَاءِجُهُ

“Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (ketiadaan), maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya.”

Maka dengan menyembunyikan identitasnya diharapkan mereka bisa lebih leluasa dalam berdakwah dan tidak terbebani dengan “kemuliaan” nasab para leluhur mereka. Para ulama juga bisa lebih tawadhu dan ikhlas dalam berjuang di jalan Allah. Sehingga hasilnya bisa maksimal. Hal ini kemudian sampai saat ini Islam tetap bisa kuat bertahan di bumi Nusantara. Wallahu alam. (*)

Tawangsari, 14 Oktober 2020

Muhammad Khodafi, Dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya.