Tarikh

Sisi Lain Mbah Hasyim, Sang Kiai Revolusioner (2)

Minggu, 12 Maret 2017 01:15 wib

...

Sebelum kemerdekaan, Mbah Hasyim juga sempat disowani Tan Malaka. Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng yang mengajari santrinya untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan kedua orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak seagai sumber penghidupan para santri dibilik rombeng pondok pesantren.

Inilah alasan ketertarik Tan Malaka kepada Mbah Hasyim yang selanjutnya diaktualisasikan di tempatnya Semarang dengan Sekolah Rakyatnya, di mana infrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan saudagar.

Mbah Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut Sosialis, bahwa ada korelasi atau hubungan yang serasi antara Sosialis dan Islam. Yakni Sosialis mengajarkan orang untuk bersikap adil dan melindungi kaum marginal yang tertindas, pun begitu dengan pengajaran Islam terdapat Zakat Fitrah untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan diajari untuk bersikap adil dan melindungi orang lemah.

Kiai kelahiran Jombang Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar di berbagai Pondok Pesantren di Jawa, Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Makkah Al-Mukaromah sampai beberapa tahun lamanya. Diantara guru beliau yang termasyhur seantero negeri ialah Ulama Hijaz asal Banten yakni Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Tanara Al-Bantani yang melahirkan tidak sedikit ulama dan pejuang-pejuang kemerdekaan tanah air ini.

Sebagai salah satu contoh, saat Hasyim Asyari muda nyantri kepada Kiai Soleh Darat di Semarang, beliau bertemu dan bersahabat akrab dengan Muhammad Darwis atau yang lebih populer KH Ahmad Dahlan, pimpinan sekaligus pendiri organisasi terbesar di Indonesia yakni Muhammadiyah. Beliau bersahabat akrab sampai masa dewasa dan tuanya, yang meskipun berbeda pandangan atau pendapatnya tetapi, kerukunan dan kearifan yang beliau contohkan kepada para santri sungguh menakjubkan.

Menurut beliau, perbedaan ialah hal yang fitri dan memang manusia di dunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam melawan penjajajah. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut.

Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sebelumnya, Mbah Hasyim sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan Tebu milik kolonial Belanda. Alasannya, tanah yang dipakai koloni sejatinya ialah milik rakyat, namun dalam praktiknya disewa Belanda secara paksa, sehingga rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Mbah Hasyim benar-benar tak tega melihat keadaan rakyat yang menderita.

Tidak sedikit rintangan dan halangan yang beliau hadapi, bahkan sampai-sampai kobng bilik rombeng Pondok Pesantren Tebuireng dibakar habis oleh pihak koloni Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan dan Mbah Hasyim menyadari hal itu. Mbah Hasyim tidak serta merta merasa putus asa dan takut menghadapi akibat dari perjuangan yang dilakukannya, karena menurut beliau berjuang membela Tanah Air memang semestinya dilakukan oleh semua orang di Negara ini tanpa terkecuali.

Mempelajari kisah dan perjuangan dari para pendahulu bangsa, salah satunya dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari inilah, yang semestinya kita sebagai bagian dari Bangsa dan Negara ini insyaf dan sadar akan pentingnya sebuah perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dengan melakukan hal-hal yang positif, seperti perjuangan membela kaum-kaum yang termarjinalkan dan tertindas oleh elit penguasa yang bisa dikatakan rezim kekuasaan serta perjuangan untuk menegakkan keadilan. Dengan penuh rasa nasionalisme dan kesadaran Kebhinekaan antara satu dengan yang lainnya untuk bersatu membangun Bangsa dan Negara ini agar senantiasa Maju, Makmur dan Sejahtera. (*)

Kota Serang, 3 Januari 2017

Taufik Hidayat, Kader PR PMII Fakultas Syariah Komisariat UIN SMH Banten Presiden HMJ Hukum Tata Negara KBM UIN SMH Banten Masa Khidmat 2016