Tarikh

Catatan Saksi di Balik Dekrit Presiden Gus Dur

Senin, 23 Desember 2019 20:00 wib

...
Penulis dan Gus Dur (santrinews.com/istimewa)

Tengah malam dari kamar hotel, Kiai Faqih Langitan telepon Gus Dur di Istana: Sudah Dekrit saja.

Saya ingin menulis memori di balik dekrit yang berujung penjatuhan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari kursi presiden RI, mumpung masih banyak saksi hidup yang bisa saling melengkapi sejarah kebesaran beliau.

Kebetulan saya ikut hadir dalam beberapa pertemuan penting menjelang dekrit itu sebagai khadim (ajudan) alm Mbah KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dan Rais Syuriyah PBNU saat itu.

Baca juga: Gus Dur dan Gelandangan Politik

Pertama, saat rapat di Istana tanggal 21 Juli 2001, saya bersama beliau dan beberapa kiai sepuh termasuk Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi hadir ke Istana, Presiden Gus Dur dawuh soal kondisi politik terakhir negara, kebuntuan sikap pimpinan MPR/DPR dan anasir Orba yang akan bangkit.

Gus Dur memandang perlu dilakukan dekrit pembubaran DPR/MPR dan mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat. Sebagai presiden dan panglima tertinggi TNI, Gus Dur berkeyakinan bahwa dekrit presiden akan dipatuhi dan diamankan oleh aparat keamanan Negara.

Gus Dur menyebut beberapa nama komandan korps pasukan elite yang menurut beliau berada pada posisi mendukung penuh dekrit dan akan beraksi mengamankan gedung DPR/MPR ketika DPR dibubarkan, rakyat akan menyambut dengan suka cita dan akan dibentuk pemerintahan peralihan untuk menyiapkan pemilu.

Kedua, rapat khusus malam hari di kantor PBNU di Jl. KH Agus Salim (saat itu kantor PBNU di Jalan Kramat Raya dalam pembangunan), tanggal 22 Juli 2001. Malam itu saya bersama Mbah Kiai Idris di Hotel Indonesia dijemput untuk rapat mendadak di kantor PBNU di Jl. Agus Salim.

Baca juga: Ilmu Kasyaf Gus Dur Membelah Langit Padang Arafah

Rapat dipimpin Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Kiai Hasyim menjelaskan situasi terkini dari Istana dan desakan untuk segera melakukan dekrit. Situasi rapat menegangkan. Ada dua sikap terhadap rencana pelaksanaan dekrit tersebut.

Kiai Hasyim Muzadi Dkk menolak dekrit segera dilakukan malam itu karena hanya akan mempercepat Sidang Istimewa dan kejatuhan Gus Dur, sebab sore harinya Kiai Hasyim Muzadi menerima rombongan Agum Gumelar yang menyarankan agar tidak ada dekrit dan lebih baik mendatangi Sidang Istimewa DPR untuk menyampaikan penjelasan dan pembelaan.

Sementara sekelompok muda, Choirul Anam alias Cak Anam –waktu itu Ketua DPW PKB Jawa Timur—, Cak Masduqi Baidlowi dkk termasuk saya setuju dekrit karena sudah ada kepastian skenario Sidang Istimewa dan Presiden Gus Dur akan dijatuhkan. Mereka berpikiran lebih baik kita melawan.

Saya masih teringat ada seorang peserta rapat yang berucap: Soekarno dulu dijatuhkan, sekarang sudah bangkit, kalau kita menyerah apa lagi yang akan dibangkitkan?

Baca juga: Gus Dur dan Kisah Mahasiswa Nakal

Akhirnya Pak Hasyim Muzadi berinisiatif menyerahkan kebijakan kepada Mbah KH Abdullah Faqih Langitan. Beliau saat itu menginap di Hotel Sriwijaya. Saya ingat kamar beliau di bawah sebelah tangga bersama alm Gus Mujab, putra Kiai Faqih.

Kemudian dikirim utusan para kiai sepuh untuk menghadap KH Abdullah Faqih dengan mengendarai dua mobil. Saya berada satu mobil bersama Mbah Kiai Idris, alm Mbah Kiai Subadar Pasuruan dan alm Pak Fathurrosyid (Ketua DPRD Jawa Timur).

Ketiga, rapat di kamar Mbah Kiai Faqih Langitan di Hotel Sriwijaya. Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau dekrit presiden malam itu atas persetujuan alm Mbah Kiai Faqih Langitan.

Baca juga: Gus Dur, Sang Arkeolog Kuburan

Setelah Mbah Kiai Subadar dan Kiai Muhaiminan matur lengkap apa yang dibahas dalam rapat di kantor PBNU, dawuh beliau yang masih saya ingat: nggeh pun dekrit mawon, meskipun mboten bunder, mangke kan ketingal sinten ingkang leres (ya sudah dekrit saja, meskipun tidak bulat, nanti akan terlihat siapa yang benar).

Saya masih ingat betul, saat itu kita kesulitan mencari kontak langsung kepada siapa yang berada di samping Presiden Gus Dur di Istana. Akhirnya saya usul agar Gus Mujab menelepon Gus Yusuf Muhammad yang saya tahu ada di samping Gus Dur, kemudian Kiai Faqih langsung dawuh kepada Presiden Gus Dur.

Sebelum kami keluar dari kamar itu, saya melihat di layar TV Gus Yahya Cholil Staquf membacakan dekrit dari Istana.

Demikian para kiai mendampingi Gus Dur dalam situasi genting tersebut. Insyallah kebangkitan para kader Gus Dur segera menjadi kenyataan. Alfatihah. (*)

Dr KH Ahmad Fahrurrozi, Khadim Pesantren Annur 1 Bululawang Malang.