Turats

Kimiya-yi Sa‘adat (2): Bentuk Luar dan Inti Batin

Senin, 27 April 2020 21:30 wib

...

Bila Engkau berharap untuk mengenal dirimu sendiri, maka ketahuilah bahwa Engkau diciptakan dari dua unsur. Yang pertama adalah bentuk luar yang disebut tubuh dan bisa dilihat oleh mata-fisik; dan yang kedua adalah inti-batin yang disebut diri (nafs), ruh (jân), atau hati (dil). Ia bisa dikenal melalui mata-batin, namun tidak dapat dilihat oleh mata-fisik.

Hakikat dirimu terletak dalam inti-batinmu. Segala yang lain cuma pengikut, tentara, dan pembantunya. Kami akan menyebutnya hati (dil). Ketika kami berbicara tentang hati, ingatlah bahwa kami mengacu pada realitas ini, yang terkadang juga disebut ruh dan terkadang disebut diri (nafs). Kami mengacu pada ‘hati’ ini, bukan segumpal daging yang ada di sisi kiri dada. [Hati ragawi ini] tidaklah istimewa, karena ia dimiliki pula oleh binatang, orang mati, dan bisa dilihat oleh mata-fisik. Segala sesuatu yang bisa dilihat oleh mata-fisik adalah bagian dari alam fenomenal (‘âlam-i syahâdat).

Baca juga: Al-Zuhdu fi al-Zuhdi: Kritik atas Budaya Narsisme

Hati bukan bagian dari alam ini. Ia datang ke alam ini sebagai pengunjung dan pengelana. Daging-fisik adalah kendaraan dan alatnya, dan seluruh anggota badan adalah tentaranya. Ia adalah raja dari seluruh tubuh. Pengetahuan tentang Allah dan penyaksian akan keelokan Hadirat-Nya merupakan ciri khasnya. Dialah yang diperintah, disapa, dihukum, dan disiksa [oleh Allah]. Kebahagiaan dan penderitaan tak terperi menjadi [kodratnya]. Dalam semua ini, tubuh cuma pengikutnya. Pengetahuan tentang hakikat dan sifat-sifatnya merupakan kunci untuk mengenal Allah.

Berjuanglah untuk mengenalnya, karena ia adalah mutiara berharga, yang berasal dari substansi para malaikat. Asal-muasalnya adalah Hadirat Ilahi, yang dari-Nya ia berasal dan kepada-Nya ia akan kembali. Ia datang kemari sebagai pengunjung untuk berdagang dan menarik laba.

Mengenal Hakikat Hati
Pengetahuan tentang hakikat hati tidak akan Engkau peroleh hingga Engkau menyadari keberadaannya. Baru setelah itu, Engkau akan mengerti tentang hakikatnya. Lalu, Engkau akan tahu betapa banyak tentaranya. Lalu, Engkau akan memahami hubungan hati dengan para tentaranya. Lalu, Engkau akan mengenal karakternya: bagaimana ia memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dan bagaimana ia meraih kebahagiaannya. Masing-masing masalah ini akan dibicarakan pada tempatnya.

Nah, keberadaan hati sudah teramat jelas, sebab orang tidak akan meragukan keberadaan dirinya. Keberadaan seseorang tidak terletak pada tubuh lahiriahnya; seonggok mayat pun bisa disebut ada, tapi ia tidak memiliki kehidupan.

Baca juga: Imam al-Ghazali, Kiai As‘ad, dan Ma‘had Aly

Ketika kami berbicara tentang hati (dil), yang kami maksud adalah hakikat ruh. Bila hati tidak ada, tubuh akan menjadi seonggok mayat. Bila orang menutup matanya dan lupa tentang tubuhnya dan lupa akan langit dan bumi serta segala objek yang bisa dilihat oleh mata, ia pasti akan merasakan keberadaannya dan menyadari keberadaan dirinya, meskipun ia tidak menyadari tubuhnya, bumi dan langit serta segala isinya.

Ketika orang merenungkan hal ini dengan sebaik-baiknya, ia akan sedikit tahu tentang akhirat. Ia akan menyadari bahwa bentuk fisiknya akan dicerabut darinya, namun ia akan tetap ada dan tidak akan musnah. (*)

Muhammad Ma’mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

———
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di tanah air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook. Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)