Turats

Kimiya-yi Sa‘adat (5): Akar Kebaikan dan Keburukan dalam Diri Manusia

Rabu, 29 April 2020 03:30 wib

...

Ada sebentuk hubungan antara hati di satu sisi dan masing-masing tentara yang menetap dalam diri seseorang di sisi yang lain. Masing-masing menimbulkan watak atau karakter tertentu kepadanya. Beberapa di antaranya buruk dan membuatnya celaka, sementara yang lain baik dan menciptakan kebahagiaan kepadanya.

Walaupun sangat banyak, watak-watak tersebut bisa dikelompokkan menjadi empat tipe: (a) binatang ternak, (b) binatang buas, © setan, dan (d) malaikat. Karena nafsu badaniah ditempatkan dalam diri seseorang, ia melakukan tindakan-tindakan hewani, seperti makan dan bersenggama dengan berlebihan. Karena amarah ditanamkan dalam dirinya, ia berlaku seperti anjing, serigala, dan singa —menyerang, membunuh, dan melakukan kekerasan fisik dan lisan kepada orang lain.

Karena dusta, pengkhianatan, kemunafikan, penipuan, dan kegemaran untuk memanas-manasi publik ditempatkan dalam dirinya, ia melakukan perbuatan-perbuatan setan. Karena akal ditempatkan dalam dirinya, ia melakukan perbuatan malaikat, seperti mencintai pengetahuan dan akhlak, meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela, memperjuangkan kebaikan di antara manusia, membuang sikap kikir, bahagia karena mendapat pengetahuan, dan menganggap ketidaktahuan dan kebodohan sebagai kekurangan.

Baca juga: Tak Satupun Manusia Mampu Menatap Mata Rasulullah

Engkau bisa mengatakan bahwa pada hakikatnya ada empat unsur di dalam diri setiap manusia: seekor anjing, babi, setan, dan malaikat. Anjing dibenci dan tercela bukan karena anggota badan dan kulitnya; akan tetapi karena karakternya yang membuatnya menyerang orang-orang.

Babi dipandang jijik bukan karena penampilannya, tapi karena nafsu makannya yang berlebihan, kerakusannya, dan ketamakannya akan barang-barang kotor dan menjijikkan. Pada hakikatnya, yang dimaksud spirit anjing dan babi adalah ini, dan ini berlaku untuk manusia. Karakter setan dan malaikat dalam diri manusia pun berlaku dengan cara yang sama.

Manusia diperintahkan untuk mengungkap penipuan dan muslihat setan melalui cahaya akal —salah satu percikan cahaya para malaikat— sehingga ia menjadi terhina dan tak mampu untuk menuai pertengkaran [di antara manusia]. Nabi bersabda, “Setiap manusia memiliki setan dalam dirinya. Bahkan aku pun begitu. Namun Allah membuatku menang dalam menghadapinya dan membuatnya takluk kepadaku. Ia tak bisa memerintahkan keburukan apapun [kepadaku].”

Manusia juga diajari agar ia mengendalikan babi-kerakusan dan anjing-amarah ini. Ia harus menempatkan keduanya dalam kendali akal agar mereka tidak bangkit atau duduk kecuali karena perintahnya. Bila ia melakukannya, ia akan meraih akhlak terpuji yang merupakan benih kebahagiaan.

Namun, bila yang ia lakukan sebaliknya, dan ia sibuk untuk melayani keduanya, akhlak yang kotor akan muncul dalam dirinya, yang akan menjadi benih penderitaannya [di akhirat nanti]. Bila keadaan-hatinya ini diungkapkan kepadanya dalam mimpi atau ketika sadar, misalnya, ia akan mendapati dirinya sedang melayani seekor babi, anjing, atau setan.

Baca juga: Ulama-Ulama Salaf yang Ahli Main Catur

Semua orang sudah tahu tentang nasib orang yang menyerahkan sesama Muslim sebagai tawanan bagi orang kafir di akhirat nanti. Sekarang, cobalah pikir, betapa lebih buruk lagi nasib orang yang menyerahkan malaikat sebagai tawanan bagi anjing, babi, dan setan!

Kebanyakan orang, bila mereka mau jujur dan mau bertafakur, siang dan malam cuma sibuk melayani hasrat dan keinginan ego mereka sendiri. Begitulah kondisi batin mereka, biarpun mereka berbentuk manusia.

Di hari kiamat nanti, karakter-karakter tersebut akan tersingkap, dan bentuk manusia akan selaras dengan karakter mereka. Di hari itu, manusia yang didominasi nafsu dan kerakusan akan menjelma dalam bentuk seeokor babi dan manusia yang didominasi oleh amarah akan tampak dalam bentuk serigala.

Karena alasan inilah bahwa takwil mimpi seseorang yang merasa melihat seekor serigala adalah bahwa ia adalah orang yang bengis. Bila ia bermimpi melihat seekor babi, takwilnya adalah bahwa ia bukan manusia yang bersih. Ini karena mimpi adalah penanda-kematian. Selama orang berada jauh dari alam fisik karena tidur, bentuk mengikuti karakter, sehingga setiap orang terlihat selaras dengan karakter batinnya. Ini adalah misteri agung yang tak mungkin dijelaskan dalam kesempatan ini. (*)

Muhammad Ma‘mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

———
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di tanah air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook. Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)