Turats

Kimiya-yi Sa‘adat (6): Menjaga Gerak dan Diam Manusia

Rabu, 29 April 2020 06:00 wib

...

Sampai di sini Engkau telah mengetahui bahwa terdapat empat ksatria dan pengawas berani dalam dirimu, yang mengawasi gerak dan diammu sampai salah satu di antara keempat unsur tersebut Engkau patuhi. Sadarilah bahwa dari setiap tindakan yang Engkau lakukan, di dalam hatimu akan timbul sifat-sifat yang menetap dalam dirimu dan menemanimu hingga di akhirat nanti. Sifat-sifat tersebut disebut akhlak. Dan semua akhlak tersebut mengalir dari keempat ksatria tersebut.

Bila Engkau tunduk kepada babi-kerakusan, maka sifat kasar, tak tahu malu, serakah, suka menjilat, munafik, dungu, tamak, senang melihat kesedihan orang lain, dengki, dan seterusnya, akan timbul dalam dirimu. Namun, bila Engkau menguasai dan mengendalikannya dengan disiplin, [akal, dan wahyu,] maka sifat rida, zuhud, sederhana, damai, lemah lembut, saleh, ugahari, dan benci dunia akan timbul dalam dirimu.

Baca juga: KH Azaim: Ulama Terdahulu Ajarkan Akidah Moderat

Bila Engkau tunduk kepada anjing-amarah, maka sifat bengis, kotor, sombong, suka pamer, khianat, bangga-diri, zalim, suka mencemooh, merendahkan, dan menghina orang lain, akan timbul dalam dirimu. Namun, bila Engkau menguasai dan mengendalikan anjing ini dengan disiplin, maka sifat sabar, tabah, suka memaafkan, teguh hati, berani, tenang, dan dermawan akan timbul dalam dirimu.

Bila Engkau tunduk kepada setan, yang pekerjaannya adalah membangkitkan dan memanas-manasi babi dan anjing dan mengajari mereka muslihat dan penipuan, maka sifat suka menipu, berkhianat, curang, nafsu rendah, muslihat, dan munafik, akan timbul dalam dirimu. Namun, bila Engkau menguasainya dan tidak terpedaya oleh kemunafikannya; dan Engkau memenangkan tentara akal; maka kecerdasan, makrifat, pengetahuan, kebijaksanaan, kesalehan, akhlak yang baik, kebesaran jiwa, dan kepemimpinan akan timbul dalam dirimu. Dan bila sifat-sifat baik tersebut menetap dalam dirimu, mereka akan menjadi kebajikan-abadi-mu (al-bâqiyât al-shâlihât) dan benih kebahagiaanmu.

Perbuatan-perbuatan yang melahirkan akhlak yang buruk disebut “dosa,” dan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan akhlak yang baik disebut “ketaatan” [kepada Allah]. Setiap gerak dan diam yang dilakukan oleh seseorang tak mungkin lepas dari keduanya.

Hati (dil) laksana cermin bening; akhlak yang tercela seperti kabut dan kegelapan yang, bila menyentuh cermin, akan menggelapkannya sehingga di hari akhir nanti manusia tidak akan menyaksikan Hadirat Ilahi dan Dia tertutup darinya. Akhlak yang baik adalah cahaya yang mencapai hati dan menghapus kegelapan dosa.

Karena alasan inilah Nabi bersabda, “Tutupilah keburukan dengan kebaikan sehingga ia terhapus karenanya.” Di Hari Kebangkitan nanti, jiwa manusia akan berkumpul di padang mahsyar dalam keadaan bersinar atau gelap. “[Dan tak ada yang akan selamat] kecuali dia yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS 26: 89).

Fitrah Manusia Adalah Esensi Malaikat
Mungkin Engkau akan bertanya: “Karena dalam diri manusia terdapat sifat-sifat binatang buas, binatang ternak, setan, dan malaikat; dari mana kita mengetahui bahwa fitrahnya ada pada esensi malaikat, dan bahwa unsur-unsur yang lain adalah asing [dan aksidental]? Dari mana kita tahu bahwa manusia diciptakan untuk meraih sifat dan tingkah laku malaikat sehingga ia bisa meraihnya dan bukan sifat unsur-unsur yang lain?”

Ketahuilah bahwa Engkau bisa mengetahuinya dari fakta bahwa manusia lebih utama dan lebih sempurna daripada binatang ternak dan binatang buas. Segala sesuatu yang menjadi sumber kesempurnaannya, dan membuatnya memiliki kedudukan yang tertinggi, adalah alasan penciptaannya.

Umpamanya: Kuda lebih utama daripada keledai karena keledai diciptakan untuk untuk mengangkut beban, sementara kuda diciptakan untuk dimanfaatkan dalam adu kecepatan, perang, dan jihad, sehingga ia dapat dipacu untuk berlari oleh penunggang kuda begitu dibutuhkan.

Baca juga: textileRef:11413820085f01582ec3ef5:linkStartMarker:“Kehadiran Malaikat Kala Seorang Mukmin
Sakit”:https://santrinews.com/Hikmah/4932/Kehadiran-Malaikat-Kala-Seorang-Mukmin-Sakit
Seperti keledai, kuda juga diberi kekuatan untuk mengangkut beban, namun ia juga memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh keledai. Bila kuda tidak cakap untuk melaksanakan tugasnya, maka ia akan menjadi binatang pengangkut beban dan jatuh derajatnya ke tingkatan keledai. Ini akan menjadi penyebab kehancuran dan kehinaannya.

Sejumlah orang berpikir bahwa manusia diciptakan cuma untuk makan, tidur, bersenggama, dan bersenang-senang dan mereka menghabiskan seluruh umur mereka untuk melakukan hal-hal tersebut! Sementara yang lain, seperti bangsa Arab badui, Kurdi, dan Turki, berpikir bahwa manusia diciptakan untuk berkuasa, melakukan kekerasan dan penaklukan.

Kedua golongan ini keliru; karena makan dan bersenggama adalah nafsu hewani. Binatang ternak pun punya kemampuan yang sama. Unta bisa makan melebihi kemampuan manusia, dan burung pipit bisa bersenggama lebih sering daripada manusia. Dalam hal apa manusia lebih utama daripada keduanya? Kekuasaan dan penaklukan bersanding dengan amarah, dan keduanya pun dimiliki oleh binantang buas.

Manusia memiliki ciri-ciri yang juga diberikan kepada binatang ternak dan binatang buas, namun di samping itu, ia juga diberi keutamaan, dan itu ada pada akal. Dengannya, ia bisa mengenal Allah dan ciptaan-Nya. Dengannya, ia bisa melepaskan diri dari nafsu dan amarah. Inilah sifat para malaikat! Dengannya, ia bisa menguasai binatang ternak dan binatang buas. Semua tunduk kepadanya; semua yang ada di muka bumi, seperti yang difirmankan oleh Allah, “Dialah yang membuat segala yang ada di muka bumi tunduk kepadamu” (QS 45: 13).

Jadi, hakikat manusia adalah bahwa kesempurnaan dan kemuliaannya ada dalam jatidirinya, dan sifat-sifat yang lain adalah asing dan ditambahkan kepadanya. Sifat-sifat tambahan tersebut ditempatkan dalam dirinya untuk membantu dan melayaninya.

Karena alasan ini, ketika ia mati, baik nafsu maupun amarah akan musnah dan yang tersisa hanyalah dirinya yang sejati: esensinya yang cemerlang dan terang, yang dihiasi oleh pengetahuan tentang Allah dalam bentuk malaikat sehingga ia akan menjadi kawan mereka; dan inilah kawan para penghuni alam tertinggi; mereka akan selalu bersama Hadirat Ilahi, “Di sisi Sang Raja yang Mahakuasa” (QS 54: 55), atau gelap dan suram, dengan kepala tertunduk karena malu, kegelapan yang ditimbulkan oleh kotoran yang datang dari kepekatan dosa, dan rasa malu yang timbul karena mengentengkan akhlak dalam mengendalikan hawa nafsu dan amarah. Apapun yang diinginkan oleh hawa nafsunya, ia turuti di dunia ini. Hatinya terpateri pada dunia ini, karena hasrat dan keinginannya diarahkan pada dunia ini. Namun dunia ini ada di bawah alam akhirat. Maka, wajahnya selalu menghadap ke bawah dan terbalik. Inilah makna dari firman Allah, “Ketika mereka yang berdosa menggantungkan pandangan mereka di hadapan Tuhan mereka” (QS 32: 12). (*)

Muhammad Ma‘mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

———
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di tanah air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook. Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)