Turats

Kimiya-yi Sa‘adat (11): Pengetahuan tentang Cara Allah Mengatur Kerajaan-Nya

Minggu, 03 Mei 2020 07:30 wib

...

Sekarang, setelah keberadaan Zat Allah telah dibuktikan; sifat-sifat dan kemandirian-Nya dari [alam] dan transendensi-Nya dari ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’ telah dibuktikan; dan kebebasan-Nya dari penisbatan kepada tempat dan arah, juga kunci kepada semua pengetahuan tentang hal ini telah diperlihatkan, satu aspek dari pengetahuan ini masih tersisa: yaitu pengetahuan tentang cara Dia mengatur kerajaan-Nya dan dengan cara apa kuasa-Nya diwujudkan.

Bagaimana menjelaskan hal-hal seperti perintah-Nya kepada para malaikat, pengiriman perintah dari langit ke bumi, pergerakan langit dan bintang-bintang, pengaturan urusan-urusan para penghuni bumi oleh langit, dan bagaimana kunci perawatan alam dipercayakan kepada langit?

Baca: Kimiya-yi Sa‘adat (10): Kemurnian dan Kesucian Tuhan

Ini adalah bab yang agung dalam pengetahuan tentang sang Khalik. Ia disebut “pengetahuan tentang perbuatan-perbuatan [Tuhan],” sementara yang sebelumnya disebut “pengetahuan tentang Zat” dan “pengetahuan tentang Sifat.” Kunci untuk soal ini pun adalah pengetahuan tentang diri. Bila Engkau sendiri tidak mengetahui caramu berkuasa dalam kerajaanmu sendiri, bagaimana Engkau bisa berharap untuk memahami bagaimana sang Penguasa Alam mengatur urusan-Nya?

Pertama-tama, kenalilah dirimu dan salah satu perbuatanmu, misalnya menulis. Bila Engkau ingin menulis kalimat bismillah di atas selembar kertas, yang pertama muncul dalam dirimu adalah keinginan dan kehendak untuk menulis. Kemudian gerakan dan tindakan muncul dalam hatimu —bukan hati-fisik berbentuk daging yang ada di sisi kiri dadamu.

Substansi lemah yang disebut ‘ruh’ oleh dokter ini memiliki kemampuan untuk mencerap [pengetahuan] dan bergerak. Ini adalah ruh yang berbeda dari yang dimiliki oleh binatang dan yang bisa mengalami kematian. Ruh yang lain ini, yang tak dimiliki oleh binatang, kita sebut ‘hati’ dan ia tidak akan musnah. Ia adalah lokus pengetahuan tentang Tuhan.

Maka, ketika ruh ini mencapai otak dan bentuk basmalah ditemukan dalam gudang penyimpanan di otak bagian depan, yang menjadi lokasi organ imajinasi, hasilnya dipindah dari otak ke saraf yang menyebar dari otak ke segala arah dan terhubung dengan jari-jari seperti benang —mereka kelihatan di lengan orang yang ramping. Jari-jari menggerakkan pena dan pena menggerakkan tinta.

Selanjutnya, bentuk basmalah muncul di kertas, persis seperti yang ada dalam bayangan imajinasi, dengan bantuan indera, terutama mata, yang sangat diperlukan untuk menulis. Hasilnya, seperti halnya inisiator semua pekerjaan ini adalah keinginan yang muncul dalam dirimu, asal-muasal semua perbuatan [Tuhan] adalah salah satu sifat-Nya, yaitu Kehendak.

Seperti halnya efek pertama kehendak muncul dalam hatimu, lalu dengan perantaraannya, efek tersebut mencapai tempat-tempat lain, efek pertama Kehendak Allah muncul di Singgasan (‘arsy), lalu bergerak ke tempat-tempat lain. Seperti halnya substansi-substansi halus yang menyerupai uap dipindah dari saluran-saluran hati ke otak —substansi yang kita sebut ruh— Tuhan pun memiliki ‘substansi halus’ yang memindah efek [Kehendak] dari Singgasana ke Loh. Substansi tersebut disebut malaikat, ruh, atau Ruh Suci. Seperti halnya ia bergerak dari hati ke otak dan otak dikendalikan oleh ruh dan berada dalam ranah dan kendalinya, demikian pula efek Kehendak [Tuhan] bergerak dari Singgasana Tuhan menuju Loh, dan Loh ada di bawah Singgasana.

Seperti halnya bentuk bismillah, yang merupakan perbuatan dan karyamu, pada mulanya muncul di gudang penyimpanan di otak depan dan perbuatanmu selaras dengannya, bentuk semua yang akan mewujud dalam alam pada mulanya muncul dalam Loh yang Terjaga. Dan seperti halnya organ halus yang ada di otak mengaktifkan saraf untuk menggerakkan tangan dan jari-jari sehingga jari-jari membuat pena bergerak, demikian pula ‘substansi halus’ yang mengawal Singgasana dan Loh menjadi penyebab pergerakan langit bersama bintang.

***
Dan seperti halnya otak, yang melalui jaringan tulang dan saraf, menggerakkan jari-jari, substansi halus itu, yang kita sebut malaikat, mengatur penempatan unsur-unsur dalam alam melalui benda-benda langit dan sorotan cahaya mereka ke alam bawah. Unsur-unsur tersebut ada empat: panas, dingin, basah, dan kering.

Dan seperti halnya pena mengguratkan tinta dan membangun gambar sehingga bentuk bismillah pun muncul; panas, dingin, basah, dan kering menggerakkan unsur-unsur dalam benda. Pada saat kertas menerima tinta dan tinta menyebar atau berkerumun di atas permukaannya, sifat basah membuat tinta berbentuk sementara sifat kering menjadi penjaga bentuk tersebut, melindunginya dan tak membiarkannya keluar jalur. Bila sifat basah tidak ada, tinta tak mungkin membangun [susunan kata-kata] dan bila sifat kering tidak ada, tinta tak mungkin terjaga.

Dan ketika pena telah menuntaskan pekerjaannya dan menghentikan gerakannya, bentuk bismillah yang selaras dengan desain yang ada dalam bayangan imajinasi pun muncul dalam pandangan mata. Dengan cara yang sama, seperti panas dan dingin membantu pergerakan unsur-unsur dalam tinta, bentuk-bentuk tanaman, binatang, dan lain-lain menjadi ada dalam alam ini melalui perantaraan malaikat selaras dengan citra yang ada dalam Loh yang Terjaga.

Seperti halnya permulaan tindakan dalam tubuh semuanya mengalir dari hati dan kemudian disebarkan ke seluruh organ tubuh, begitu pula permulaan tindakan dalam semesta alam fisik berawal dari Singgasana. Dan, seperti halnya penerima pertama ide tentang tindakan tersebut adalah ruh dan anggota badan yang lain terikat kepada ruh sehingga gagasanmulah yang menetap dalam ruhmu, maka karena kuasa Tuhan adalah melalui Singgasana, ‘perbuatan’ Tuhanlah yang menetap dalam Singgasana-Nya.

Dan, karena Engkau telah mengendalikan ruhmu dan urusanmu telah diatur, Engkau bisa berkuasa atas kerajaanmu. Dengan cara yang sama, ketika Tuhan, dengan menciptakan Singgasana, menjadi penguasa Singgasana, Singgasana-Nya menjadi tegak dan seimbang. Pengaturan kerajaan-Nya pun berjalan dan firman-Nya adalah “Dia duduk di atas Singgasana, mengatur segala urusan” (QS 10: 3).

Ketahuilah bahwa semua ini adalah benar dan disampaikan kepada mereka yang mengerti melalui wahyu. Dan kebenaran dari hadis “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam citra-Nya” dapat diketahui.

Ketahuilah bahwa hanya rajalah yang bisa mengetahui kerajaan dan kekuasaan. Seandainya Engkau tidak diberi kuasa atas kerajaanmu dan tidak diberi salinan kerajaan Sang Penguasa Alam, Engkau tak akan pernah bisa memahami Tuhan semesta alam. Maka, bersyukurlah kepada Raja yang menciptakanmu dan memberimu kuasa dan kerajaan, sebuah dalil akan kerajaan-Nya.

Bersyukurlah atas ruh yang Dia berikan sebagai singgasanamu. Dia telah menciptakan ruh binatang, yang sumbernya adalah jiwamu, Israfil-mu. Dia telah membuat otak loh-mu, dan gudang imajinasi, Loh yang Terjaga. Dia telah menciptakan malaikat dari mata, telinga, dan segenap inderamu. Dia telah menciptakan langit dan bintang dari kubah otakmu, yang menjadi tempat saraf otakmu. Dia telah mengatur unsur-unsur dari jari-jari, pena, dan tintamu. Dia telah membuatmu unik, gaib, dan tak terlukiskan, dan menjadikanmu raja atas segalanya.

Lalu, Dia berfirman kepadamu, “Hati-hatilah! Bila Engkau mengabaikan dirimu dan kekuasaanmu, Engkau akan mengabaikan Penciptamu! Sebab, Allah menciptakan manusia dalam citra-Nya. Sadarilah ini dan kenali dirimu! Maka Engkau akan mengenal Tuhanmu!” (*)

Muhammad Ma‘mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember.

——-
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di Tanah Air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook.

Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)