Turats

Kimiya-yi Sa‘adat (14): Mengikuti Syariah Adalah Jalan Menuju Kebahagiaan

Kamis, 07 Mei 2020 20:00 wib

...

Menjelaskan pengetahuan tentang Tuhan akan terlalu panjang dan tak bisa ditulis dalam buku ini, karena tidak akan memuaskan. Yang berikut ini mungkin sudah cukup sebagai peringatan dan dorongan untuk mencari kesempurnaan tentang pengetahuan ruhani ini, sejauh dimungkinkan oleh kapasitas manusia, karena ksempurnaan kebahagiaan [ruhani] ada di sana. Memang, kebahagiaan [ruhani] seseorang ada dalam pengetahuan dan pengabdian atau ibadah kepada-Nya.

Satu aspek dari pengetahuan [tentang Tuhan] sudah dijelaskan di atas. Adapun aspek yang menekankan bahwa pengabdian dan ibadah adalah sumber kebahagiaan manusia, [penjelasannya adalah sebagai berikut]: Ketika manusia mati, ia akan bersama Tuhan. Kepada-Nyalah tempat kembali semua manusia. Bagi siapapun yang sedang bersama orang lain, kebahagiaan akan muncul dalam dirinya bila ia mencintai orang tersebut. Semakin besar cintanya kepada orang tersebut, akan semakin besar pula kebahagiaannya, karena ia senang dan terhibur bisa melihat dan selalu bersama orang yang ia cintai.

Nah, cinta kepada Tuhan tidak akan mungkin berkuasa kepada hati kecuali melalui pengetahuan dan zikir terus menerus. Setiap orang yang mencintai kekasihnya, pasti akan selalu mengingatnya. Semakin sering ia menyebut namanya, akan semakin mendalam pula cintanya. Karena alasan inilah, Allah berfirman kepada Daud, “Akulah obatmu! Maka datanglah kepada obatmu!” maksudnya, “Aku akan menolongmu. Aku akan mengatur urusanmu. Maka jangan sampai Engkau melupakan-Ku biar sedetik pun!”

Ingat kepada Allah akan mendominasi hati bila orang terus-menerus beribadah; ibadah hening akan datang nanti dan akan bisa diraih manakala belenggu nafsu badaniah dilepaskan dari hati. Belenggu nafsu badaniah akan terlepas dengan meninggalkan maksiat.

Jadi, meninggalkan maksiat adalah penyebab ketenangan batin, sementara melakukan ibadah adalah penyebab ingat kepada-Nya. Keduanya adalah sumber cinta yang menjadi benih kebahagiaan [ruhani] yang disebut keberuntungan (al-falah), seperti yang difirmankan oleh Allah, “Beruntunglah dia yang menyucikan hatinya. Dan mengingat nama Tuhannya, kemudian salat” (QS 86: 14-15).

Karena semua perbuatan manusia tak mungkin diisi dengan ibadah—alih-alih, ada yang bisa menjadi ibadah dan ada yang tidak—tidaklah mungkin meninggalkan semua nafsu badaniah. Berhenti makan adalah haram, karena bila orang berhenti makan, ia akan mati; dan bila orang berhenti berhubungan seksual, generasi penerus tidak akan ada. Maka, sebagian nafsu badaniah sebaiknya ditinggalkan, sementara sebagian yang lain sebaiknya dipuaskan. Jadi, orang harus dipisahkan dari nafsu menurut batas-batas tertentu.

Batas-batas ini tidak boleh lepas dari dua syarat yang bisa didapat oleh manusia dari akal, nafsu, dan ijtihadnya; atau dari sumber lain. Tidaklah mungkin ia diserahkan kepada pilihan atau ijtihadnya sendiri. Mengapa? Karena nafsunya berkuasa terhadap dirinya dan selalu menyembunyikan jalan Tuhan darinya. Apapun yang ia inginkan akan tampak benar di matanya.

Oleh karena itu, kendali pilihan tidak boleh ditempatkan di tangannya; alih-alih, ia sebaiknya dipegang oleh otoritas yang lain. Tapi, tidak semua orang pantas memegang otoritas ini; maka sebaiknya posisi ini diserahkan kepada orang yang paling berhati-hati. Dan mereka adalah para nabi.

Jadi, tidak boleh tidak, mengikuti Syariah dan mematuhi batas-batas hukumnya adalah niscaya dalam jalan kebahagiaan [ruhani]. Inilah pengertian ubudiyah. Siapapun yang melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh agama dalam tingkah lakunya akan celaka. Karena alasan ini, Allah berfirman, “Dan siapapun yang melanggar batas-batas [yang ditetapkan oleh] Allah telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri” (QS 65: 1). (*)

Muhammad Ma‘mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember.
——-
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di Tanah Air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook.

Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)