Turats

Ngaji Burdah: Gus Mus dan Tamasya Puitik al-Bushiri

Minggu, 25 April 2021 15:30 wib

...

Mengikuti Ngaji Burdah yang diasuh oleh Gus Mus (disiarkan live setiap pagi, 5-6 am, lewat Youtube), bagi saya, adalah seperti mengikuti sebuah ulasan kritik sastra. Bedanya, ini adalah kritik sastra yang disampaikan secara lisan, sementara kritik sastra yang kita kenal selama ini di lingkungan kampus, biasanya dituangkan dalam bentuk tulisan.

Cara Gus Mus menguraikan kasidah Burdah tidak seperti ngaji yang dilakukan oleh para kiai pada umumnya. Apa yang beliau lakukan adalah: Ngaji Burdah plus. Plusnya ya tadi itu: beliau mengulas bait-bait Burdah layaknya para kritikus sastra (seperti HB Jassin dulu) mengulas puisi.

Yang mengikuti ngaji Burdah-nya Gus Mus akan tahu benar, betapa beliau membaca kitab ini tidak dengan sambil lalu, tetapi dengan penuh penghayatan. Setiap bait beliau nyanyikan dengan melodi khas pesantren; setiap kata ia nikmati pelan-pelan, seperti kita menikmati, me-“nyerutup” pelan-pelan kopi yang masih panas, dengan aroma khas yang membangkitkan pelbagai rupa kenangan dan khayal.

Saya terpukau saat Gus Mus, dalam ngaji Burdah, Ahad pagi ini, 25 April 2021, membaca dan menerangkan bait berikut:

Tharat qulubul ‘ida min ba’sihim faraqan # Fa-ma tufarriqu bainal bahmi wal-buhami

Bait ini menggambarkan keberanian para sahabat Nabi dalam peperangan. Para musuh, kata al-Bushiri (pengarang Burdah), akan ciut nyalinya begitu menyaksikan keberanian para sahabat Nabi. Saking takutnya, engkau tak bisa lagi membedakan: mereka ini sebenarnya prajurit pemberani, atau hanya “cemek,” anak kambing.

Gus Mus, dengan kepekaan puitiknya, mencoba menarik kita pada permainan kata yang indah dalam bait ini: “al-bahmi” dan “al-buhami.” Dua kata ini sekilas mirip, tapi maknanya bukan hanya berbeda, tapi berlawanan: “al-bahmi” adalah anak kambing (Gus Mus memakai istilah yang khas dalam bahasa Jawa: CEMPE), “al-buhami,” seorang gagah berani.

Permainan kata seperti ini kita jumpai di banyak bagian dalam Burdah. Gus Mus tak mau melewatkan “tamasya puitik” ini begitu saja. Beliau seperti hendak berkata kepada para santri: Lihatlah, betapa indahnya taman kalimat yang disuguhkan oleh Burdah ini. Resapi! (*)