Uswah

Mengenang Perjuangan KH Hizbullah Huda: Ansor, PKI dan Pendirian PMII

Minggu, 24 Januari 2021 10:04 wib

...
KH Hizbullah Huda

“Aku baca Fatihah 10 kali buat Hizbullah karena sedang melawan PKI,” kata Nyai Zainab, ibundanya.

KH Hizbullah Huda lahir di Arjosari Sidoarjo dari pasangan KH Muhammad bin Hasyim dan Nyai Zainab Shiddiq. Nama beliau ‘hizbullah’ karena sang ayah KH Muhammad bin Hasyim adalah pejuang Hizbullah di Sidoarjo.

Ada tiga hal yang ingin saya kenang dari beliau dengan harapan semoga bisa menjadi hikmah pelajaran.

Pertama, pejuang Ansor melawan PKI.

Pada tahun 1965 beliau terpilih menjadi ketua Ansor Jawa Timur. Sebagaimana diketahui bersama, PKI beberapa kali melakukan pemberontakan. Seperti tahun 1948 di Madiun. PKI membunuh para kiai NU dan juga merusak beberapa pesantren NU. Lalu puncaknya pada tahun 1965 PKI membunuh para jenderal. Bagi PKI, NU dan Tentara adalah halangan terbesar untuk menjadikan Indonesia menjadi Negara Komunis.

Sehingga KH Hizbullah Huda yang saat itu menjadi ketua Ansor Jawa Timur memimpin perjuangan di Jawa Timur dan menggerakkan Banser dalam pembelaan dan pertahanan dari pemberontakan dan pembunuhan yang dilakukan PKI kepada negara maupun kiai-kiai NU.

Masih teringat cerita ayahanda (KH Nadhier Muhammad yang juga adik dari KH Hizbullah Huda) bahwa menjadi rutinitas Nyai Zainab setelah shalat fardhu membaca Fatihah untuk tujuh putranya, masing-masing satu kali. Namun, khusus untuk KH Hizbullah Huda, Nyai Zainab membaca Fatihah 10 kali. Nyai Zainab berucap “aku baca fatihah 10 kali buat Hizbullah karena sedang melawan PKI”.

Saya sendiri juga pernah menyaksikan bagaimana bukti perjuangan beliau, ketika saya menemukan pedang di kamar beliau ketika beliau sudah wafat dan membuka pedang tersebut yang bertuliskan huruf-huruf arab sepanjang pedang namun seketika itu juga ayahanda yang melihat langsung memerintahkan untuk menutup pedang sambil berucap “jangan dibuka nak, itu pedang waktu membunuh PKI”.

Sebagaimana kita ketahui, Hukum Islam memperbolehkan berperang terhadap orang atau kelompok yang memerangi kita terlebih dahulu sebagaimana Firman Allah:

قاتلواالذين يقاتلونكم

“Perangilah mereka yang telah memerangi kalian”

Kedua, pendirian PMII.

KH Hizbullah menimba ilmu tingkat SMP dan SMA di Jember, namun ketika kuliah beliau ingin meneruskan kuliah di Fakultas Hukum Unair Surabaya. Beliau memilih Fakultas tersebut karena ingin mengikuti jejak sang ayah KH Muhammad bin Hasyim yang selain menjadi kiai juga menjadi pokrol (istilah pengacara pada zaman dulu) yang sering membela kiai-kiai zaman dulu dalam persidangan melawan pemerintah Belanda maupun Jepang. Diantaranya membela KH Hasyim Asyari dan KH Mahfud Shidiq ketika ditahan oleh Jepang.

Karena kondisi ekonomi Nyai Zainab yang tidak kaya, maka Nyai Zainab memutuskan untuk menjual mesin jahit untuk bekal kuliah KH Hizbullah Huda di Unair. Namun karena faktor ekonomi pula, KH Hizbullah Huda akhirnya tidak bisa menamatkan perkuliahan.

Namun, ada hikmah besar beliau memutuskan kuliah di Surabaya walau tidak bisa selesai karena faktor ekonomi. Selama di Surabaya beliau aktif dalam pengabdian di NU sehingga pada 17 April 1960 di Balai Pemuda Surabaya, beliau bersama 12 mahasiswa yang lain dari berbagai daerah mendeklarasikan pendirian PMII.

Beliau juga bersama dua Mahasiswa lainnya (Khalid Mawardi dan Said Budhairi) yang menemui KH Idham Khalid di Jakarta sebagai ketua umum PBNU untuk meminta restu akan pendirian PMII. Dan dari PMII inilah lahir banyak kader mahasiswa NU yang kelak menjadi pemimpin di negeri ini.

KH Hizbullah Huda memiliki karakter tegas dan berani dalam mendidik kader. Termasuk kepada saudara sendiri. Masih teringat cerita ayahanda ketika paman KH Yusuf Muhammad yang ketika itu masih menjadi mahasiswa IAIN Yogyakarta dan menjadi aktifis PMII dimasukkan penjara oleh tentara bersama H Slamet Efendi Yusuf, maka ayahanda yang telah menamatkan kuliah di Jogja dan mengetahui hal ini meminta tolong kepada KH Hizbullah Huda untuk membantu membebaskan.

Namun, di luar dugaan KH Hizbullah Huda malah meminta ayahanda dan paman menyelesaikan sendiri permasalahan tersebut dan akhirnya pamanda bebas dari penjara setelah ayahanda dan KH Tholhah Mansyur menghubungi Pangdam.

Dan akhirnya ayah dan paman pun mengetahui bahwa sikap KH Hizbullah tersebut sebagai pendidikan supaya mereka berdua menjadi kader PMII yang lebih tangguh dan berani dalam menghadapi masalah segenting apapun sebagaimana KH Hizbullah Huda sendiri telah melewati berbagai masalah yang lebih genting sebelumnya.

Ketiga, Figur kakak pengganti Ayah.

KH Hizbullah Huda menjadi yatim mulai umur 12 tahun. Ayahanda sendiri yatim mulai 3 tahun. Dan pamanda KH Yusuf Muhammad yatim mulai umur 3 bulan. Maka mulai kecil KH Hizbullah Huda membantu Nyai Zainab untuk mencari nafkah. Termasuk ketika ayah dan paman meneruskan kuliah di IAIN Jogja, KH Hizbullah ikut serta membantu biaya.

Beliau merasakan sendiri bagaimana rasanya tidak bisa menjadi sarjana karena faktor ekonomi, maka beliau tidak ingin itu menimpa kepada kedua adik beliau. Termasuk dalam pernikahan adik adiknya.

KH Hizbullah Huda telah menjalankan amanat dari al Arif Billah KH Abdul Hamid Pasuruan melalui pesannya:

الاخ الكبير يقوم مقام الاب

“Saudara tertua menempati posisi ayah (dalam kewajiban)”.

Sehingga, KH Hizbullah Huda selain memiliki sikap ketegasan dan keberanian yang besar dalam melawan PKI dan mendirikan PMII, beliau juga memiliki hati yang penuh welas asih kepada adik-adiknya yang sudah yatim semenjak dini.

Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat untuk kita semua. Untuk KH Hizbullah Huda, al-Fatihah. (*)