Uswah

Mengenang KH Hasyim Muzadi dan Amplop Coklat Berisi Dolar

Rabu, 17 Maret 2021 12:00 wib

...
Dari kiri-kanan: KH A Hasyim Muzadi, KH Mas Muhammad Subadar, KH Idris Marzuki, dan penulis (santrinews.com/istimewa)

Kiai Hasyim Muzadi mampu melampaui fase tirakat dan hidup melarat.

Saya teringat saat dulu bersama Bapak Taufiqurrahman Saleh SH bersilaturahim ke KH Hasyim Muzadi di Pesantren al-Hikam, Malang. Beliau berkata: Aku kalau dulu ngga manut patuh sama kakekmu (KH Anwar Noer) ya ngga jadi seperti ini, paling full ya jadi kayak pak Taufik ini (anggota DPR RI).

Lalu beliau bercerita keajaiban hidupnya bersama kakek saya alm Mbah KH Anwar Nur. Mbah KH Anwar adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Annur Bululawang, Malang, tempat Pak Hasyim menimba ilmu setelah dari Pesantren Gontor.

Dulu saat tahun 1972, kata pak Hasyim, ia dipanggil Mbah Kiai Anwar dan disuruh mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Malang. Ia sempat menolak karena yakin dapat jatah nomor buncit yang hampir pasti tidak akan jadi, tapi Mbah Anwar mendesak dan betul memang ternyata pak Hasyim tidak dapat kuota anggota DPRD yang saat itu memakai urutan.

Baca: KH Hasyim Muzadi Versus Dai Kompor

Namun saat hampir pelantikan keajaiban pun terjadi, atas takdir Allah anggota pemegang nomor jadi di atasnya meninggal dunia maka pak Hasyim pun katut sebagai anggota DPRD Kabupaten Malang secara mendadak otomatis.

Seiring perjalanan waktu, setelah KH Hasyim Muzadi duduk sebagai anggota DPRD tingkat 1 Jawa Timur, tiba-tiba dipanggil Mbah Anwar dan diminta mundur sebagai anggota DPRD Jatim untuk berkonsentrasi dakwah membina santri.

Beliau sempat bimbang dan setelah berpikir keras akhirnya ia tunduk patuh kepada Mbah Anwar untuk mundur dari anggota DPRD Jatim dan berkata: “Waduh mendadak melarat aku, Rur,” kata Pak Hasyim kepada saya.

Beliau pun menjalani fase baru hanya konsen sebagai kiai dan dai, menjalani hidup tirakat sangat sederhana bahkan kata beliau sampai taraf kekurangan dan anehnya kalau dia sedang tidak punya beras Mbah Anwar selalu datang membawakan beras dan lauk.

Alhamdulillah, fase tirakat itu beliau lampaui dengan baik dan Allah memberinya anugerah kemampuan luar biasa memimpin umat dan jam’iyah NU sampai menjadi ketua umum PBNU.

Baca juga: Ketika Gus Dur Dimarahi oleh Kiai Misbah

Pernah saat Munas NU di Pondok Gede Jakarta saya diajak naik mobilnya dan ditunjukkan amplop coklat sangat tebal berisi dolar US sambil berkata : Rur, ini berkah niru kakekmu Mbah Anwar, yang meladeni umat tanpa pamrih sehingga kalau beliau ada perlu semua orang tanpa diminta sudah datang sendiri membantu.

Begitu dekat hubungan beliau dengan Mbah Anwar. Seringkali ia ceritakan itu di panggung saat pidato dan ketika haul Mbah Anwar, beliau selalu datang, hingga dua minggu sebelum meninggal dalam kondisi sakit Pak Hasyim masih sempat minta diantar istrinya untuk datang ke Bululawang untuk khusus sowan pamit ke makam Mbah Anwar.

Semoga beliau telah bersama Mbah Anwar di Sorga-Nya, Amien. (*)

Dr KH Ahmad Fahrur Rozi, Cucu Mbah Kiai Anwar Nur, Penerus Pesantren Annur 1 Bululawang Malang, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.