Uswah

KH Sya’roni Ahmadi: Ulama Pemersatu Umat, Penjaga Moral Kota Kretek

Rabu, 28 April 2021 22:30 wib

...

Ribuan orang berbondong-bondong menuju gedung itu. Setelah menyelesaikan jamaah shalat Maghrib, seakan tak mau ketinggalan, dengan berbekal sebuah buku catatan kecil aku bergegas mempercepat langkah.

Karena luas gedung yang terbatas maka jamaah pun mengular di jalanan. Aku berjejal-jejal mencari posisi agak depan. Sejenak kemudian kami para jamaah berdiri memberi sambutan seraya melantunkan bait-bait “thola’al badru”. Seremonial itu berhenti ketika seseorang memasuki ruangan dan duduk paling depan menghadap kami.

Penuh wibawa beliau mengucap salam. Dengan sorot wajah yang teduh kemudian mengumandangkan tilawah beberapa ayat Al-Quran. Ujud dan umur yang telah renta menjadikan nafasnya tak kuat lagi melengkingkan suara panjang. Tapi tak mengurangi kefasihan dan kekhidmatan kami yang mendengarkan.

Tilawah kini usai. Dilanjutkan pembacaan doa yang kuketahui di kemudian hari adalah “hizbun nashr”. Kami membaca bersama-sama dengan dipimpin oleh beliau. Pembacaan selesai dan dilanjutkan dengan pengajian inti.

Kali ini pengajian tafsir menginjak awal surat An-Nur. Sang Kiai menguraikan penjelasan beberapa ayat dengan gamblang nan jelas. Sesekali humor jenaka sarat makna disisipkan, menghadirkan gelak tawa para jamaah tak terkira. Retorika balaghah dan mantiq yang terukur menambah kemantapan para jamaah.

Kala jarum jam menunjuk angka delapan malam, pengajian diakhiri dengan konsultasi agama bagi para jamaah yang memiliki permasalahan. Shalat Isya’ berjamaah didirikan. Dan majelis malam itu benar-benar berakhir dengan menyempatkan bersalaman dengan sang Kiai seraya mengecup tangannya. Para jamaah pulang dengan membawa oleh-oleh nilai agama dan kehidupan.

Demikianlah sepenggal rutinitas Sang Kiai. Seorang KH Sya’roni Ahmadi di tengah rutinitas lain yang padat.

Nasabnya yang dari keluarga santri, menjadikan seorang Sya’roni kecil telah dikenal sebagai anak yang gandrung mengkaji agama, mulai dari al-Quran sampai tauhid, fikih, tasawuf dan sebagainya. Strata ekonomi keluarga yang pas-pasan tidak lantas menyurutkan niatnya menimba ilmu.

Kota Kudus, tempat beliau tinggal, sejak dulu terkenal sebagai kota yang agamis. Sumber daya masyayikh yang tersebar ketika itu tidak disia-siakan. Beliau rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kota tersebut.

Sya’roni kecil termasuk anak yang cerdas. Pada usia 11 tahun beliau sudah hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik. Bahkan hafal al-Quran pada usianya yang ke-14 dan Qira’ah Sab’iyyah pada usia 17 tahun.

Kiai Sya’roni merupakan anak yang ketujuh dari delapan bersaudara. Ketika usianya menginjak delapan tahun ibundanya telah tiada. Sepeninggal ibunya kiai Sya’roni diasuh oleh sang ayah. Namun masa ini pun tidak berlangsung lama. Karena menginjak usiannya yang ke 13 tahun, ayahnya pun juga tiada. Maka lengkap sudah duka Kiai Sya’roni karena sejak saat itu ia menjadi anak yatim piatu.

Kiai Sya’roni sempat mengenyam pendidikan formal di Madrasah Diniyah Mu’awanah di Madrasah Ma’ahid lama —pada masa KH Muchit. Sedangkan pendidikan non formalnya, beliau banyak belajar dari satu tempat ke tempat lain. Untuk belajar al-Quran utamanya Qira’ah al-Sab’iyyah beliau berguru kepada KH Arwani Amin Kudus, seorang ulama besar alim Al-Qur’an, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus.

Beliau juga sempat berguru kepada KH Turaikhan Ajhuri, seorang alim fikih dan maestro astronom dari kalangan santri. Sedangkan guru-gurunya yang lain adalah KH Turmudzi dan KHAsnawi dan lain-lain.

Kiai Sya’roni banyak dikenal sebagai sosok yang menguasai ilmu agama secara interdisipliner. Beliau tidak hanya mahir dalam ilmu tafsir, tetapi juga dalam ushul fiqh, fikih, mantiq, balaghah dan sebagainya.

Dalam hal Al-Qur’an, beliau tidak hanya hafal dan pandai membacanya namun juga pintar melantunkannya. Maka tak heran jika beliau pernah menjadi dewan Musabaqah Tilawatil al-Qur’an (MTQ) tingkat nasional.

Setelah sekian lama bergumul dengan ilmu dan pengajian-pengajian, Kiai Sya’roni akhirnya menikah pada 1962. Beliau menyunting seorang gadis bernama Afifah. Dari pernikahan itu beliau dianugerahi 8 anak; 2 laki-laki dan 6 perempuan. Salah satunya diperistri oleh KH Ulil Albab Arwani, putra kedua KH Arwani Amin, guru beliau sendiri.

Pada masa penjajahan Belanda Kiai Sya’roni sempat terlibat dalam perang-perang gerilya dalam rangka pengusiran Belanda dari muka bumi Indonesia. Tahun 1965 yakni masa pemberontakan PKI beliau juga merupakan salah seorang yang menjadi target operasi oleh PKI. Hal ini karena Kiai Sya’roni merupakan sosok yang rajin berkampanye dan membuat pengajian-pengajian. Kiai Sya’roni dengan tegas menolak ideologi komunisme PKI.

Dari Masjid Hingga ke Mimbar
Setelah sekian lama belajar, Kiai Sya’roni mulai berdakwah di masyarakat dalam usianya yang sangat muda. Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah ini, beliau menggunakan dua model.

Pertama, model dakwah di masjid-masjid atau di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat untuk mengaji. Metode ini biasanya dipakai dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Pengajian yang dilakukan sudah ditetapkan jadwalnya dan proses pengajarannya pun dilakukan secara berkesinambungan.

Kedua, pengajian umum atau tabligh akbar. Model ini biasanya dipakai untuk berdakwah di luar daerah. Hal ini karena di samping masalah waktu yang tidak memungkinkan untuk berdakwah dengan model pertama juga terkadang karena permintaan dari penduduk setempat.

Pada dekade sekitar tahun 1960 sampai 1970-an, Kiai Sya’roni dikenal sebagai tokoh yang sangat keras. Apalagi saat itu adalah masa-masa gencarnya ideologi komunisme yang dilancarkan PKI. Gaya yang “keras” ini selalu dipakai Kiai Sya’roni dalam berbagai kesempatan karena keadaan waktu itu menuntut demikian. Baik ketika khutbah maupun pengajian umum atau tabligh akbar beliau selalu tampil dengan mengambil hukum yang tegas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang terjadi dalam masyarakat (waqi’iyyah). Konon gaya seperti ini sering dipakai KH Turaikhan dalam berdakwah.

Seiring dengan hangusnya PKI, lambat laun gaya dakwah Kiai Sya’roni mulai berubah. Gaya dakwah yang selama ini dilakukan dengan nada keras dirubah total dengan memakai gaya yang melunak.

Perubahan gaya dalam berdakwah ini dilakukan dengan pendekatan komparatif yakni merujuk kepada pergeseran masyarakat dari waktu ke waktu serta logika kebutuhan masyarakat yang tiap saat berubah. Karena masyarakat dari waktu ke waktu berubah maka metode berdakwah pun mesti berubah.

Khidmah Al-Quran Sepanjang Hayat
Kepakaran Al-Quran yang dimiliki sang maha guru, KH Arwani Amin, ternyata menitis ke jiwa Kiai Sya’roni. Sejak muda beliau telah dikenal sebagai alim di semua keilmuan Al-Quran.

Maka tak heran jika beliau diminta untuk mentashih Al-Qur’an cetakan Menara Kudus, bersama KH Arwani Amin dan KH Hisyam Hayat. Inilah termasuk salah satu khidmah beliau di bidang Al-Qur’an.

Sepeninggal KH Arwani Amin dan KH Hisyam Hayat, KH Sya’roni menjadi seorang alim Al-Qur’an yang amat tersohor di kota Kudus, bahkan se-Jawa Tengah.

Kealiman dan kecintaannya tersebut menjadikan aktifitasnya kini tidak jauh dari hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an. Bahkan di usianya yang senja dan diantara kesibukannya yang padat beliau masih menyempatkan mengisi pengajian tafsir sebanyak tiga kali dalam seminggu. Senin pagi di Masjid Mu’ammar Janggalan, Rabu malam di gedung Wisma Muslimin, dan Jum’at pagi di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Ketiga-tiganya dihadiri oleh ribuan jamaah dari kota Kudus dan sekitarnya.

Khusus untuk hari Jumat KH Sya’roni meluangkan waktunya hanya untuk Al-Quran. Begitu selesai mengisi pengajian tafsir di Menara Kudus pukul enam pagi, beliau menyempatkan ziarah ke makam KH Arwani Amin. Kemudian menerima para tamu sejenak dan dilanjutkan dengan menerima setoran Al-Quran puluhan santri, baik bil ghaib maupun bin nadzar.

Bahkan banyak dari mereka yang telah berumah tangga dan menjadi Kiai di daerah masing-masing. Mereka rela datang jauh-jauh dari luar kota Kudus sekedar tabarukan Al-Quran. Majlis ini berlangsung hingga kira-kira pukul sembilan pagi. Saking begitu pentingnya majlis ini KH Sya’roni sering menolak bila ada acara-acara yang lain.

Bila bulan Ramadlan tiba beliau akan lebih sibuk lagi. Mulai Subuh sampai siang hari beliau luangkan waktunya untuk berkhidmah Al-Qur’an. Beliau mengisi pengajian Tafsir di Masjid Menara Kudus dan setoran Al-Quran di rumahnya setiap hari selama sebulan penuh. Tidak sedikit santri yang bahkan mampu mengkhatamkan setorannya selama sebulan itu. Demikian wujud khidmah Al-Qur’an KH Sya’roni Ahmadi.

Ulama Pemersatu Umat
Suatu ketika salah seorang jamaah mengajukan sebuah pertanyaan, “Pak Kiai, dalam penentuan awal bulan Ramadhan ada yang dengan cara rukyah dan ada yang dengan cara hisab, manakah yang harus kita ikuti?”. KH Sya’roni pun menjawab singkat, “yang cocok”.

Demikianlah cara beliau menanggapi permasalahan di kalangan umat. Sekalipun beliau dari kalangan NU, tidak lantas mendoktrinkan ajaran-ajarannya. Beliau tidak memperlihatkan kefanatikannya dan cenderung memberikan kebebasan kepada umat untuk memilih yang diyakininya. Bahkan di kalangan NU sendiri beliau tidak menonjolkan afiliasi kepartaiannya. Beliau lebih senang tampil netral.

Demikian cara KH Sya’roni mengupayakan persatuan umat. Bukan berarti beliau tidak punya pegangan. Akan tetapi lebih memilih kemaslahatan yang lebih besar bagi umat. Seringkali beliau menyampaikan, baik ketika pengajian tafsir maupun menjadi pembicara, tentang kesalahpahaman umat.

Pertikaian antarormas tentang ajaran-ajaran yang dianut mereka sebenarnya sebagian besar hanya kesalahpahaman. Masing-masing merasa benar dan menyalahkan yang lain. Padahal kalau dijelaskan dengan sekasama tidak ada perbedaan yang signifikan.

Di lain kesempatan ada lagi yang bertanya, “bolehkah berdoa setelah shalat lima waktu secara bersama dengan dipimpin imam atau berdoa sendiri-sendiri?”. Dengan ringan beliau menjawab, “tidak berdoa juga tidak apa-apa”.

Itulah seorang KH Sya’roni Ahmadi. Maksud beliau adalah agar umat Islam yang terpecah-pecah di berbagai ormas tidak mempermasalahkan perihal yang spele. Terlalu mahal persatuan umat ini untuk gadaikan dengan isu-isu perbedaan kecil. Selama ini umat Islam lebih sibuk bertikai dengan saudaranya sendiri dibanding memikirkan kemajuan Islam di masa yang akan datang.

Untuk itulah, hampir di setiap pengajian tafsir beliau selalu berpesan, “wong Islam seng rukun, senajan omahe bedo-bedo”. Artinya umat Islam hiduplah yang rukun, meskipun rumahnya (ormasnya/partainya) beda-beda.

Demikian cara beliau menyederhanakan masalah yang besar dan meniadakan masalah yang kecil. Kendati demikian, bukan berarti beliau seenaknya saja mempermudah masalah agama. Beliau tetap berpegang teguh pada dalil-dalil yang shahih. Bahkan tidak jarang beliau mencontohkan dalil dari logika sederhana dan kehidupan sehari-hari.

Model dakwah yang demikian ini menjadikan KH Sya’roni mampu diterima oleh semua kalangan. Tidak sedikit jamaah dari kalangan Muhammadiyah yang mengikuti pengajiannya. Beliau menjadi sosok yang mampu mengayomi umat tanpa memandang latar belakangnya. Sehingga beliau disegani oleh semua kalangan.

Humoris Yang Kritis
“Ilmu itu tidak harus diperoleh di bangku sekolah. Ilmu bisa juga diperoleh dengan bertanya. Malah biasanya dengan bertanya kepada orang yang ahli itu lebih cepat merasuk dan mudah diingat. Ilmu itu dicapai ‘bi lisanin sa’ul wa qolbin ‘aquul’. Kadang-kadang saya bertanya kepada murid saya seorang kolonel di Jakarta tentang masalah keamanan. Kadang pula bertanya kepada Dr. X tentang masalah kesehatan. Saya juga bertanya, apakah ada obat penawar ngantuk?”.

Seketika seluruh jamaah bergelak tawa mendengarkan guyonan jenaka dari KH Sya’roni. Dan yang tadinya ngantuk pun terbangun dan merasa salah tingkah.

Humor-humor ringan sarat makna akan kehidupan sehari-hari tidak pernah ketinggalan di setiap pengajian. Beliau selalu menyisipkannya baik berupa cerita, sindiran maupun kisahnya sendiri. Dan gaya seperti inilah yang menjadikan pengajian terasa hidup dan tidak membosankan.

Beliau sangat lihai mengemaskan dalam retorika mantiq dan balaghah yang mumpuni. Ini sangat berbeda dengan para muballigh kebanyakan, yang lebih banyak menjadi tontonan dengan humor-humornya. Di tangan KH Sya’roni semua humor menjadi tuntunan dan memiliki nilai-nilai universal tentang arti hidup.

Meskipun terkesan humoris, beliau tetap kritis terutama mengenai fenomena-fenomena yang berkembang di masyarakat. Pernah suatu ketika beliau mengkritisi tentang penggunaan istilah ‘kerukunan beragama dan kerukunan antarumat beragama’. “Kalau kerukunan beragama haram, sedangkan kerukunan antarumat beragama bisa diterima. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah ditawari Abu Lahab dan Abu Jahal untuk bertukar Tuhan. Nabi Muhammad menyembah berhala satu tahun. Abu Jahal dan Abu Lahab menyembah Allah satu tahun.

Kemudian turunlah surat Al-Kafirun yang menjelaskan tentang keharaman kerukunan bergama. Artinya kalau kerukunan dalam masalah akidah haram. Sedangkan kerukunan dalam masalah dunia bisa dipertimbangkan”.

Karya-Karya
Menulis merupakan tradisi yang banyak digeluti oleh ulama-ulama Islam sejak dulu kala. Sudah tidak terhitung lagi karya-karya ulama klasik yang menjadi rujukan umat Islam hingga sekarang.

KH Sya’roni merupakan sosok yang bukan hanya pandai membaca kitab dan berpidato, namun beliau juga tergolong produktif dalam berkarya. Kepakarannya dalam bidang agama mencoba diabadikan melalui kitab-kitabnya. Tercatat beliau kerap menulis, mensyarah dan menterjemah beberapa kitab yang digunakan untuk mengajar.

Kitab-kitab tersebut banyak dikonsumsi oleh madrasah-madrasah di kota Kudus. Adapun karya-karya tersebut adalah:

1. Al-Faraid al-Saniyah
Kitab ini banyak mengupas tentang doktrin Ahlusunnah wal jamaah. Penyusunan kitab ini konon diilhami oleh kitab Bariqat al-Muhammadiyah ‘ala Tariqat al-Ahmadiyah milik KH Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati yang saat itu rajin berpidato dan mengisi pengajian untuk menolak gerakan Muhammadiyah di kota Kudus. Kiai Sya’roni menulis kitab ini selama kurang lebih dua tahun.

2. Faidl al-Asany
Kitab ini terbagi ke dalam tiga juz dan banyak membahas tentang Qira’ah al-Sab’iyyah.

3. Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi al-Tafsir
Kitab ini banyak mengupas tentang tafsir al-Qur’an mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, sanad, arti-arti yang berhubungan dengan hukum dan sebagainya. Kitab setebal 79 halaman ini ditulis pada tahun 1972 M/1392 H.

4. Tarjamah Tashil al-Turuqat
Kitab ini membahas ilmu manthiq.

5. Tarjamah al-Ashriyyah
Kitab ini membahas ilmu Ushul al-Fiqh yang banyak mengupas tentang lafadz ‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma, qiyas dan sebagainya. Kitab ini disusun pada hari ahad siang tanggal 29 Juni 1986 M/21 Syawal 1406 H

6. Qira’ah al-Ashriyyah
Kitab ini terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini dimaksudkan, sebagaimana penuturan Kiai Sya’roni, untuk memudahkan para santri atau para siswa dalam mempelajari kitab kuning.

Kekinian
Rasanya tidak akan habis membicarakan sosok KH Sya’roni Ahmadi yang sangat membumi di kota Kudus dan sekitarnya. Perjuangan dan kiprah beliau harum tercatat oleh tinta emas sejarah. Sosok kiai yang toleran, mengayomi dan pemersatu umat.

Selama perjuangannya di Kudus, beliau telah memberikan banyak hal. Tradisi santri yang sekarang ini lekat dengan masyarakat Kudus rasanya tak bisa dilepaskan dari jasa beliau.

Dalam bidang pengembangan fisik, Kiai Sya’roni banyak memberikan jasa dalam mengembangkan madrasah-madrasah di kota Kudus, seperti Madrasa Banat NU, Muallimat, Qudsiyyah, Tasywiq al-Thullab al-Salafiyah (TBS), dan Madrasah Diniyah Keradenan Kudus.

Kiai Sya’roni juga tercatat sebagai penasehat Rumah Sakit Islam YAKIS dan menjabat mustasyar PBNU. Beliau juga mengisi pengajian rutin tiap ahad pagi di Masjid Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK).

Di usianya yang menginjak 80-an lebih, beliau masih sibuk melayani umat melalui pengajian dan aktifitas-aktifitas lainnya. Semoga Allah memberkahi umur beliau, memudahkan urusan-urusannya, dan ilmunya bermanfaat bagi umat Islam. Amin. (*)

15 Desember 2013 (tulisan lama)

Ulin Nuha, Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, Alumnus Magister Tafsir Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.