Uswah

Gus Sholah, Sosok Kiai Multidimensi

Rabu, 05 Februari 2020 10:00 wib

...
KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah (santrinews.com/istimewa)

Salah satu tokoh NU dan cucu Pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dipanggil keharibaan Allah, pada Ahad, 2 Februari 2020, pukul 20.55 WIB.

Sosok Multi Dimensi
Pertama, beliau adalah penulis produktif. Banyak buku yang dilahirkan. Tulisannya menyebar di berbagai harian nasional. Salah satunya Kompas.

Kedua, beliau sosok manajer handal. Pesantren Tebuireng di bawah tangan dingin Gus Sholah berubah total infrastrukturnya, manajemennya, sumber daya manusianya, dan jaringannya.

Ketiga, beliau sosok akademisi. Beliau Rektor Unhasy Tebuireng yang membawa wajah Unhays lebih modern dan kompetitif. Beliau memperoleh gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari UIN Maliki Malang.

Keempat, beliau organisator ulung. Beliau aktif di PBNU. Beliau juga aktif di Komnas HAM. Berbagai jabatan penting di organisasi diembannya sehingga relasinya luas dan kepribadiannya matang.

Kelima, beliau sosok politisi yang berwawasan kebangsaan. Gerakan dan pemikirannya berorientasi kebangsaan dan keumatan.

Beberapa Pemikiran
Pertama, NU harus berdiri tegak di khittahnya. Khittah NU adalah landasan berpikir, berpijak, dan mengambil keputusan. Khittah NU mengamanatkan supaya NU gigih mengamalkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah dan aktif memberikan kemaslahatan umat dalam segala aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, keagamaan, dan politik kebangsaan.

Kedua, kesalehan umat Islam harus berimbang antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Realitasnya, kesalehan sosial umat Islam sangat timpang dengan kesalehan sosialnya. Banyak orang berhaji sehingga daftar antrian panjang. Namun semangat berzakat rendah.

Ketiga, Islam tidak hanya berada di jalur kultural, tapi juga struktural. UU Haji, Zakat, Wakaf, dan Pernikahan adalah bukti Islam di Indonesia juga masuk dalam ranah struktural formal.

Legacy
Banyak legacy Gus Sholah, khususnya dalam kepemimpinannya di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Diantaranya:

Pertama, mengembalikan IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari) ke bawah Yayasan Tebuireng yang sekarang berubah menjadi Unhas (Universitas Hasyim Asy’ari).

Kedua, memperkokoh Ma’had Aly Fil Hadis. Ma’had Aly Tebuireng sekarang menjadi pilot project Ma’had Aly tingkat asional karena manajemen, kurikukum, pendanaan, dan sumber daya manusianya profesional.

Ketiga, membangun pendidikan calon alumni dengan melakukan Diklat intensif, baik teori maupun praktek sehingga alumni Tebuireng punya karakteristik sendiri yang khas Tebuireng.

Keempat, menggalakkan tradisi literasi di Tebuireng sehingga ada penerbitan Pesantren yang melahirkan karya yang banyak.

Kelima, membangun kemandirian Pesantren dengan berbagai macam usaha yang produktif dan prospektif.

Keenam, infrastruktur Pesantren yang sangat kokoh dan representative untuk pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia.

Ketujuh, membangun makam Gus Dur dan keluarga Hadlratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari sehingga menjadi destinasi spiritual keilmuan representatif yang dikunjungi ribuan zairin-zairat setiap saat.

Jalan masuk Pondok Pesantren Tebuireng tidak hanya digunakan jualan pakaian dan asesoris yang biasa ada di Makam Wali, tapi juga toko buku yang menyediakan buku-buku berkualitas, sehingga Makam ini juga menjadi destinasi keilmuan.

Selamat jalan Kiai bangsa, semoga Allah memberikan rahmah maghfirah kepadamu. Jasa-jasamu selalu dikenang sepanjang masa. Amiin! (*)