Ziarah

Ziarah ke Palestina, Menapak Jejak Sejarah Isra Miraj

Sabtu, 21 Maret 2020 21:30 wib

...
Penulis (kiri) bersama KH Ahmad Idris Marzuqi dan KH Muhammad Soebadar, di depan Masjid Aqsha pada 2005 (santrinews.com/istimewa)

Saat ini, mungkin sudah banyak kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia, yang telah melaksanakan Umrah Plus Aqsha, yaitu melakukan perjalanan ibadah Umrah ke Baitullah di Makkah Al-Mukarramah, kemudian berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi di Madinah. Lalu dilanjutkan berziarah ke Masjid Al-Aqsha. Atau ke Al-Aqsha dulu, baru kemudian ke Madinah dan Makkah.

Namun pada 2005, masih sangat jarang terdengar rombongan ziarah yang berani pergi ke sana, karena situasi politik di Palestina saat itu belum cukup kondusif di bawah tekanan Israel.

Saat itu tiba-tiba saya dipanggil oleh guru saya almarhum simbah KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, untuk mengupayakan ziarah bersama beberapa kiai sepuh, diantaramya KH Ahmad Idris Marzuqi beserta Ibu Nyai dari Lirboyo, KH Nurul Huda Djazuli bersama Ibu Nyai dari Ploso Mojo Kediri dan KH Moehammad Soebadar Pasuruan.

Beliau berkeinginan shalat di Masjidil Aqsha, meskipun dibayangi berita suasana perang yang masih panas di Hebron dan jalur Gaza.

Masjid Al-Aqsha merupakan salah satu dari tiga tempat utama ziarah yang mulia dan menjadi harapan impian ziarah umat Islam seluruh dunia.

Sering saya mendengar Imam Haramain Syeikh Dr Abdurrahman Assuddays menangis dalam doa qunut Ramadlan agar diberikan kesempatan shalat di Masjid Al Aqsha sebelum wafat, karena sangat dianjurkan untuk berziarah ke sana, untuk shalat di dalamnya dan mengetahui tentangnya secara mendalam.

Sejarah mencatat hampir seluruh sahabat utama Rasulullah Muhammad SAW pernah berkunjung ke sana. Beberapa di antaranya yaitu Umar bin Khattab saat menjadi Khalifah, Abu Hurairah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin ‘Abbas, Abu Ubaidah bin Jarrah,Mu’az bin Jabbal, Bilal bin Rabbah, Khalid bin Walid, Abu Dzar Al-Ghiffari, Salman Al-Farisi, Abu Darda, Abu Mas’ud Al-Anshari, Amr bin ‘Ash, Abdullah bin Salam, Said bin Zaid, Murrah bin Ka’ab, Abdullah bim Amr bin Ash, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Auf bin Malik, Ubadah bin Shamit, Sa’id bin Al-Ash, dan Shafiyah istri Rasulullah.

Imam Syafi’i lahir di Jalur Gaza, beberapa puluh kilometer dari Baitul Maqdis (Al-Aqsha), pada Rajab 150 H (766 M). Demikian pula Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqolani (773-852 H), penyusun Kitab Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari dan Kitab Bulughul Marom min Adillatil Ahkam. Ia lahir di Asqalani, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

Semasa hidupnya, pada 489 H, Imam Al-Ghazali masuk kota Damaskus, Suriah, kemudian menziarahi Baitul Maqdis (Al-Aqsha) di Palestina dan tinggal di sana untuk waktu beberapa lama, juga tokoh sufi perempuan terkenal Rabiah Al-Adawiyah menetap di Palestina dan wafat pada 135 Hijriyah dan dimakamkan di dekat Baitul Maqdis (Al-Aqsha).

Alhamdulillah, saya berhasil menemukan satu travel di Surabaya yang untuk pertama kalinya dia akan membawa grup kami untuk pergi mengunjungi Masjid Al Asqsha di Palestina pada 7 Juli 2005. Perjalanan kami dimulai dari Bandara Juanda Surabya menuju ke bangkok Thailand, karena kami akan menumpang pesawat Egypt Air yang berangkat dari Bangkok menuju Amman Jordania via Kairo.

Kami menginap semalam di Kota Bangkok dan berkesempatan mengikuti city tour ke berbagai obyek wisata, diantara yang berkesan ketika kami mengunjungi kuil Wat Arun Ratchawararam atau Wat Arun  Temple. Kuil ini merupakan salah satu tempat wisata iconic pemeluk agama Budha di Bangkok yang letaknya tepat di samping Chao Phraya River, sungai utama di Thailand.

Wat Arun disebut juga Temple of the Dawn yang tinggi pagodanya bervariasi dari 66 hingga 86 meter dengan hiasan porselen warna warni sehingga dari kejauhan pagoda ini berkilauan bila ditimpa sinar matahari.

Ketika menyusuri sungai Chao Praya, kami mendapat pengalaman yang sangat unik dimana di sepanjang perjalanan diatas perahu kami melewati beberapa kuil yang tertata apik, pemandu wisata melemparkan beberapa keping roti ke permukaan air ketika melintas di depan kuil, dan sejurus kemudian bermunculan ribuan ikan patin berebut makanan.

Saya kagum dan bertanya keheranan kenapa terdapat banyak sekali ikan di sungai itu tanpa ada yang berani menjala atau mengambilnya yang pasti sangat mudah. Dijawab oleh sang pemandu; masyarakat disana tidak berani mengambil ikan tersebut karena dipelihara oleh para pendeta di kuil, yang secara rutin pagi sore memberinya makanan meski hidup lepas di alam bebas. Saya pun berkelakar membandingkan dengan kondisi di masjid negeri kita yang kadang masih sering kehilangan sandal.

Singkat cerita esok harinya kami terbang dengan egypt air dan tiba di Amman Jordania Airport, di sini kami menginap semalaman dilanjut esoknya di pagi hari kami menaiki bus dari hotel menuju Allenby Bridge Israel, pemeriksaan bagasi dan fisik sangat ketat dan agak bertele tele karena kami rombongan muslim dan harus melewati pos interviuw dengan berbagai pertanyaan security, kebetulan hanya saya yang sedikit lancar berbahasa inggris dan perjalanan tidak boleh ditemani guide lokal sampai kami lolos melintas ke sisi Israel.

Tangis haru ketika pertama kali bagaikan mimpi kami berhasil memasuki bumi para nabi di kota Yerussalem Palestina. Beruntung kami dapat menginap di hotel seven arche intercontinental yang berlokasi di puncak bukit Zaitun dan mempunyai kaitan dengan agama Islam, Yahudi, serta Kristen.

Bukit Zaitun berkali kali disebut dalam kitab Injil perjanjian baru. Konon dahulu masyarakat Yahudi, tiap tahun melakukan ritual untuk naik ke gunung Zion pada hari Tisha B’Av untuk berpuasa dan berduka, dan dari sana mereka berjalan turun sepanjang lembah Yosafat dan naik ke atas Bukit Zaitun, dari sana mereka melihat seluruh bukit tempat Bait suci dan mereka menangis serta meratapi kehancuran Bait suci yang sekarang menjadi Masjidil Aqsha.”

Puncak Ziarah kami adalah memasuki masjidil Aqsha, bangunan kedua yang diturunkan di atas muka bumi sejak zaman Nabi Adam AS, keberadaan Masjid Al-Aqsha tidak kalah penting dengan Masjid Al-Haram dan Masjid An-Nabawi di hati umat muslim, dimana nilai pahala shalat di dalam Masjidil Aqsha adalah 500 kali lebih baik daripada shalat di masjid lain, selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Dan juga riwayat lain satu Hadits yang menyebutkan shalat di Masjid Al-Aqsha lebih utama 1.000 kali dibandingkan shalat di masjid lain, yaitu:

أَنَّ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ أَرْضُ الْمَنْشَرِ وَالْمَحْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Artinya: “Sesunggunya Maimunah pembantu Nabi berkata, “Ya Nabiyallah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis”. Maka Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia, maka shalatlah di dalamnya, karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat dari shalat di tempat lain.” (HR Ahmad).

Nabi Muhammad SAW mengimami shalat jamaah bersama para nabi di kawasan Masjid Al-Aqsha. Sehingga siapapun yang berkunjung ke Masjid Al-Aqsha, maka di situlah jejak para Nabi pernah shalat dan bersujud kepada Allah.

Kami juga berkesempatan menapak tilas menghayati mukjizat Isra’ Mi’raj Rasul, memasuki bangunan indah persegi delapan bernama qubbatus shokhroh atau qubah batu berwarna emas, bangunan yang seringkali dikira sebagai Masjidil Aqsha oleh banyak orang. Di sini terdapat batu besar bersejarah tempat pijakan Nabi saat akan berangkat naik ke atas langit pada waktu Isra Mi’raj. Kita bersyukur dapat shalat dan berdoa dengan para kiai sepuh cukup lama di sana.

Semoga Allah SWT segera membebaskan Masjidil Aqsha dari cengkeraman Yahudi Israel ke tangan umat Islam, dan memberi kita kesempatan beribadah di sana dengan leluasa. Amien. (*)

Dr KH Ahmad Fahrur Rozi, Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang, Malang. Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.