Bicara NU Bicara Islam

ORANG yang pertama kali mengenalkan saya terhadap NU adalah ayah saya sendiri. Ya, saya memang pertama kali mendengar kata “NU” dari ayah saya. Sejak kecil ayah sudah memperkenalkan kepada saya tentang NU, kiai-kiai NU, amalan-amalan NU.

Memori yang sampai saat ini saya ingat adalah perkataan ayah kepada saya, “Iki le ulama NU, masio merem ngunu koe takoni opo ae masalah agama pasti dijawab,” sambil menunjuk Gus Dur yang saat itu sedang diwawancarai salah satu stasiun televisi.

Tidak hanya itu. Setiap tahun saya juga rutin diajak untuk menghadiri acara Haul dengan dalih “Nggolek Barokah”. Akhirnya setelah lulus SD, saya pun dimasukkan ke Pesantren yang menurut ayah saya paling jejeg dalam ber-NU.

Juga tatkala saya akan memasuki jenjang kuliah. Pesan beliau sebelum saya berangkat jauh untuk kuliah “Ati-ati lho yo, ojok sampe berubah dalanmu, Aswaja ojok sampek diganti. Bapak nyekolahno koe sampe sak mene cuma pingin koe iki dalane bener, Aswaja NU”.

Saya yakin tidak hanya saya yang mengalami hal seperti ini. Berapa banyak masyarakat pribumi begitu fanatik dalam bertaqlid pada NU. Ayah saya bukan orang yang mengerti agama, tidak pernah belajar di Pesantren, tapi kegetolannya terhadap NU dan Aswaja membuktikan bahwa organisasi ini memang sudah menjadi pegangan banyak orang Muslim pribumi.

Jika kembali ke sejarah, memang benar. NU didirikan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari beserta para kiai saat itu guna menyelamatkan Islam dan negara Indonesia. Sebagai organisasi yang mengayomi umat muslim, membantu umat muslim menuju kesejahteraan dalam beragama.

NU adalah oraganisasi yang dihuni oleh para kiai. Mereka bersatu dan saling membantu masyarakat muslim pribumi dalam ber-Islam. Sejak NU didirikan hingga kini, kegagahan NU tak berkurang dimakan zaman.

Menjadi organisasi terbesar di jagat Indonesia adalah bukti konsistensi NU dewasa ini. Bersatu mengayomi umat itulah prinsip NU. Jika ditilik pula, peran kiai adalah memberikan bimbingan dan juga ketauladanan, maka di dalam organisasi NU tidak dikenal adanya persaingan dan apalagi perebutan untuk menjadi pengurus atau pemimpinnya.

Atas kenyataan dan pandangan seperti itu, seseorang yang telah menjadi pengurus NU biasanya tidak diganti-ganti sebelum yang bersangkutan wafat atau mengundurkan diri dari jabatannya dan atau meminta diganti. Tugas kiai dalam bertabligh memang tidak harus dijalankan setelah yang bersangkutan menjadi pengurus organisasi. Siapa saja boleh, asalkan mampu menjalankannya.

Selain itu, di kalangan para ulama atau kiai terdapat etika atau adab yang selalu dipegangi tatkala akan menjadi pemimpin. Kepemimpinan, termasuk di organisasi NU dianggap sebagai amanah yang tidak ringan. Pemimpin adalah orang yang dijadikan panutan, didengarkan nasehatnya, dijadikan contoh, dan dituakan dengan berbagai beban sosialnya. Selain itu, dalam konsep NU, amanah tidak boleh dicari dan apalagi harus diperebutkan.

Bagi kebanyakan kiai, amanah itu diberikan saja, tidak selalu segera diterimanya, dan bahkan kadang sebaliknya, harus dipaksa untuk menerima. Kiai tidak segera menerima amanah kepemimpinan, jika masih ada yang lain yang dianggap lebih sepuh dan lebih alim.

Bicara NU bicara umat, bicara NU bicara dakwah, bicara NU bicara perjuangan. Selanjutnya, sebagaimana lazimnya orang berjuang juga selalu diikuti dengan pengorbanan. Atas pemahaan seperti itu, adalah wajar, menjelang Muktamar Ke 33 NU yang akan dilaksanakan di Jombang pada 1-5 Agustus 2015 datang, seumpama terjadi pembicaraan tentang siapa yang seharusnya memimpin NU ke depan, bukan dalam konteks memilih antara yang baik dan tidak baik, atau antara yang disukai atau yang tidak, melainkan memilih di antara calon pemimpin yang secara total dan maksimal memiliki kesediaan berjuang untuk umat guna mempertahankan Aswaja sebagai panutan umat muslim pribumi. Meneruskan estafet da’wah Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. ®

Choirul Anam, Mahasiswa Fakultas Syariah Imam Shafie College, Hadhramaut, Yaman.

Terkait

FIKRAH Lainnya

SantriNews Network