Setan Dibelenggu di Bulan Ramadlan: Godaan Setan Vs Godaan Nafsu

Hadist yang sangat masyhur menyatakan setan-setan dibelenggu di bulan Ramadhan. Tapi mengapa masih banyak orang yang melakukan dosa, baik dosa kepada Allah secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dosa kepada Allah dengan menyakiti, merugikan, menyusahkan, membahayakan kehidupan manusia lainnya.

Apakah belenggunya kurang kuat sehingga setan bisa lepas? Atau sesungguhnya yang membuka pintu surga dan membelenggu setan hakikatnya adalah kita sendiri? Setan terbelenggu karena kita tidak memberi ruang untuk menggoda, surga terbuka karena kita banyak melakukan kebaikan dan neraka seakan tertutup karena kita mengekang nafsu.

Ada beberapa pendapat ulama menafsirkan hadist itu. Al-Qurthuby dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa yang dibelenggu adalah setan yang top top, embah embahnya (maradatusy syayathin). Sementara pion-pion setan tetap dilepas. Nah yang masih mengganggu yang pionir-pionir ini.

Sedang menurut ulama yang lain, hadist itu menggunakan bahasa metaforis atau dalam ushul fiqih disebut “majas”. Artinya, bukan setan dibelenggu pakai rantai begitu, (sebab produksi rantai juga butuh pabrik. Lha mendirikan pabrik rantai disana kan sulit), melainkan karena orang yang berpuasa mampu menahan diri dan menahan nafsunya, sehingga setan dengan sendirinya terbelenggu.

Makna kedua ini diisyarahkan oleh teks hadist yang menggunakan redaksi “mabni majhul” (istilah khusus dalam gramatika Arab), yaitu redaksi “wa shuffidat”-dibelenggu. Siapa yang membelenggu? boleh jadi kita sendirilah yang membelenggunya.

Apapun tafsirannya, sesungguhnya ada satu lagi penggoda dahsyat manusia melebihi godaan setan, yaitu “Hawa Nafsu”.

Apa Hawa Nafsu? Secara bahasa “hawa” bermakna “keinginan-syahwat” dan “nafsu” bermakna “diri sendiri”. Hawa Nafsu adalah keinginan diri sendiri. Mengikuti hawa nafsu artinya memperturutkan keinginannya sendiri, bukan “keinginan Allah” atau “keinginan orang banyak”, merasa benar sendiri bukan kebenaran menurut Allah dan kebenaran orang banyak.

Bagaimana membedakan bahwa ini godaan setan atau godaan hawa nafsu? Mudah. Dalam kitab al Minahu as Saniyah disebutkan: jika kita ingin sekali menyakiti orang lain, dan tidak akan berhenti keinginan itu sebelum menyakitinya, belum puas sebelum melaksanakannya, maka itu adalah godaan nafsu. Nah jika kita ingin menyakiti orang, tapi kemudian muncul rasa kasihan, namun muncul lagi untuk menyakiti orang yang lain, dan begitu seterusnya, maka ini adalah godaan setan. Sebab bagi setan tidak penting siapa yang disakiti, yang penting kita “menyakiti”, yang penting berdosa apapun bentuknya dan kepada siapapun.

Contoh lain, jika kita ingin belanja barang tertentu, dan harus membeli barang itu, dan keinginan itu tidak akan pernah berhenti sebelum membeli barang itu, maka itu godaan nafsu. Nah jika kita ingin membeli barang tertentu, tapi kemudian dipikir tidak perlu karena menghabiskan uang, lalu muncul bisikan lain agar barang yang lain saja dan begitu seterusnya, maka pastikan itu godaan setan, karena yang penting bagi setan bukan barangnya, yang penting uang kita habis.

Jika kita ingin mengkorupsi senilai 50 juta misalnya, dan tidak hilang keinginan sebelum mendapatkannya, maka pastikan itu godaan nafsu. Nah jika jita mau korupsi 50 juta, lalu kita merenung sebaiknya tidak karena merugikan orang banyak, lalu datang pembisik lagi, tida usah 50, 30 juta saja, 20 juta saja, 10 juta saja, 5 juta saja, 500 ribu saja, dst, maka pastikan itu godaan setan. Karena bagi setan tidak penting jumlahnya, yang penting kita korupsi.

Demikian lah beda godaan setan dan godaan nafsu. Lebih jelas, silahkan mengaji kitab diatas.

Jadi jika ada bisikan dalam hati kita untuk melakukan dosa atau sesuatu yg sia sia, maka mari kita raba dada kita, kita kenali, siapakah pembisik itu? Setan kah? Atau hawa nafsu? Surat terakhir dalam al Quran, menyatakan bahwa pembisik itu (al muwaswis) ada dua yaitu jin-setan dan “hawa nafsu manusia”.

Mengenali dua macam pembisik itu menjadi pintu mengobatinya. (dua obat pembisik itu akan ditulis kemudian, insyaallah). (*)

Situbondo, 24 April 2020

KH Imam Nakha’i, Dosen Fikih-Ushul Fikih di Ma’had Aly Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Terkait

KHAZANAH Lainnya

SantriNews Network