Puisi-puisi Ferdi Afrar

Kolaman

Kami menghadap baik-baik. kepadamu,
kolaman yang seolah menunggu
kami yang telah lama lupa mengkaliskan diri.
sibuk menggemuki engsel juga roda gerigi
sekadar untuk mempertahankan diri,
dari iri kremi yang terus mengutil sari
pada lambung kami yang perih.

Kepulangan bagi kami hanya memindah rasa takut ke ranjang, kemudian pura-pura terlupakan.
seperti tak ada lagi komidi dan tawa pingkal,
hanya cemeti juragan terlecut berulang.

Kolaman yang seolah menunggu
kami untuk menyaksikan seorang kembaran
yang telah malih rupa. dengan janggut dan kumis semrawut, serta rambut acakadut. tuma dan lingsa yang kian menggatali kepala.

Maka kami menghadap baik-baik.
agar setiap guyangan dan guyuran
membuyarkan waham dan pagebluk pada badan.
menjembarkan keselamatan dan kemakmuran.

Agar taburan melati, kenanga dan mawar rahasia
memancarkan cahaya. yang menunggang-langgangkan kemamang. api palsu yang melinukan tulang dan lengan.

Maka kami menjadi kambang.
dada kami berdenyar.
seperti kuda kepang yang mengkrikiti beling
dan menyepak segala yang membangkang,
juga menantang.

Mimis

Sungguh bagi kami arah ke depan sana tampak lunak
dan mata pijar ketika lontaran salak yang pertama
akan melabrak siapa saja yang hendak mengelak.

Di keremangan, dan moncong lubang bidik yang telah menyipit akan bermadah: kami yang terlahir buta,
akan memacu kecepatan hanya untuk melubangimu.
maafkan kami daging segar yang rekah.

Dan jemari kami yang bermimpi memagut pelatuk abadi
akan menarik pegas jauh ke ujung tangkas, memangkas segala yang tersamar dipermukaan.

Ferdi Afrar
Pria kelahiran Surabaya 9 April 1983 ini adalah mantan aktivis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Indikator di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang. Bergiat di forum SARBI sebagai penata artistik. Buku puisinya yang telah terbit Sepasang Bibirmu Api. Sekarang tinggal dan bekerja di Sidoarjo.

Terkait

No post

Puisi Lainnya

SantriNews Network

Fokus