Gus Dur Memaknai Ketundukan

Gus Dur—di salah satu catatannya yang terkumpul dalam buku Kiai Nyentrik Pembela Pemerintah —dengan sosok Kiai Adlan Ali, mengungkapkan adanya ketundukan luar, dan ketundukan yang lebih dalam. Bukan berarti ketika berbeda di luarnya, berarti hilang ketundukannya.

Justru ketundukan yang lebih dalam dinilai oleh Gus Dur sebagai ketundukan yang melalui penghayatan dan bersifat pengembangan, dan memiliki nilai sendiri yang mendasar.

Kiai Adlan Ali adalah murid setia yang mencintai gurunya, KH Hasyim Asy’ari. Kata Gus Dur, kecintaan kepada gurunya itu melandasi hidupnya, bahkan setelah gurunya wafat.

Sewaktu Mbah Hasyim (panggilan KH Hasyim Asy’ari) masih hidup, Kiai Adlan dilarang oleh guru tercinta mengikuti tarekat Kiai Romli Rejoso. Setelah Mbah Hasyim wafat, bukan hanya mengikuti, bahkan Kiai Adlan menjadi salah satu mursid tarekat (guru tarekat).

Menurut catatan Gus Dur, sikap Kiai Adlan di atas, secara sepintas tidak bisa dinilai sebagai sikap pembalikan. Harus dipahami rasionalitas Kiai Adlan dalam bersikap. Apa yang dilakukan Kiai Adlan adalah bentuk dari pada ketaatan atas asas dalam berpikir.

Jalan pikiran Kiai Adlan, dalam pembacaan Gus Dur, bertumpu pada pembacaan konteks. Yang ditolak Mbah Hasyim bukanlah tarekat itu sendiri, tapi ekses-eksesnya. Waktu Mbah Hasyim menentang ekses-ekses tarekat, dengan era Kiai Adlan sudah berbeda persoalannya. Orang-orang era Kiai Adlan tidak bergairah menjalankan agama di luar tarekat.

“Apakah kita biarkan mereka tidak sembahyang, hanya karena takut ekses-ekses tarekat itu sendiri? Mana yang lebih perlu, mengajak orang-orang sembahyang, atau meributkan soal ekses-ekses tarekat?” tulis Gus Dur dalam catatan tentang Kiai Adlan.

Menurut Gus Dur, ketundukan Kiai Adlan kepada gurunya itu tidak hanya bersifat literer, tapi justru ketundukan yang bersifat pengembangan dalam kasus yang berbeda.

Gus Dur, dengan sosok Kiai Adlan mengkritik betapa sedikit orang yang mampu mempraktikkan ketundukan yang lebih dalam dengan penghayatan dan pengembangan. Banyak orang yang secara lahir tunduk, namun melakukan penentangan di dalam. [*]

Terkait

Buku Lainnya

SantriNews Network