Khutbah

Khutbah Idul Adha: Tips Membuang Sifat Serakah

...

Disampaikan dalam khutbah Idul Adha 1440 H di Masjid Al-Muttaqin Perum Tawangsari Permai, Sidoarjo.

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْد.ُ

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ .وقال ايضا : وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِين.َ

—-
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah.
Ungkapan rasa syukur sudah seharusnya kita ungkapkan biqouli alhamdulillah karena sampai dengan saat ini kita masih mendapat kepercayaan dari Allah SWT untuk tetap bisa menikmati karunia Allah untuk tetap dapat menginjakan kaki kita di atas bumi-Nya.

Terlebih lagi saat ini kita masih diberikan-Nya kesempatan untuk bertemu dengan Hari Raya Idul Adha 1440 H. Mudah-mudahan semua ini mampu menjadi motivasi kita untuk meningkatkan dan memperkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Kaum muslimin jemaah Idil Adha rahimakumullah.

Idul Adha adalah salah satu hari raya dalam agama Islam yang di dalamnya menyimpan peristiwa bersejarah Nabi Ibrahim AS, beserta putranya Nabi Ismail AS, dan keluarganya sekalian yang kemudian kita peringanti setiap tahunnya menjadi pelaksaan ibadah haji, salat idul adha, dan berkurban.

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Dalam kesempatan di hari Idul Adha yang berbahagia ini, ijinkan saya untuk menyampaikan khutbah idul adha terkait dengan sifat serakah dan kurban sebagai salah satu tools untuk menghilangkannya.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah,

Serakah itu adalah selalu berhendak memiliki lebih dari apa yang dimiliki. Biasanya ia adalah hasrat untuk memiliki apa yang bukan menjadi haknya dan bukan miliknya. Keadaan yang ada padanya tak pernah cukup untuk dirinya. Ia adalah keadaan hati bukan tentang keadaan dari sebuah realita. Dalam bahasa Arab disebut toma’ atau yang kemudian kita kenal sebagai tama’. Artinya adalah angan-angan (al-amal) dan harapan (raja’) untuk mendapatkan sesuatu yang tidak ia punya.

Bagi orang yang serakah, sekaya apapun ia jika ia serakah maka kekayaan itu tak akan pernah ada cukupnya. Sekilo emas ia punya dua kilo ia inginkan. Satu miliar uang ia dapatkan dua miliar uang ia inginkan. Itulah keserakahan.

Rasulullah juga mengingatkan:
1. “Setiap anak Adam akan mengalami masa tua, kecuali dua hal, yaitu kerakusan terhadap harta benda dan panjangnya umur.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

2. “Seandainya seorang anak Adam telah memiliki dua lembah, maka dia akan mencari lembah yang ketiga, dan perutnya tidak akan merasa puas sampai dimasukkan ke dalam tanah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Sifat serakah ini jelek. Ia dapat membuat orang tidak bersyukur atas apa yang ia punya. Sifat serakah disebabkan oleh nafsu untuk memperoleh sesuatu yang lebih secara terus menerus. Keinginan untuk mendapatkan sesuatu tersebut tentu disebabkan oleh kecintaan dia atas harta tersebut.

Orang yang cinta harta maka ia akan berusaha untuk terus mendapatkan harta lebih dan lebih bahkan harta yang sebenarnya bukan haknya. Ia bisa menghalalkan segala cara agar hasrat keserakahannya terpenuhi. Seperti yang dilukiskan dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, “barang siapa mencintai sesuatu maka ia adalah budaknya”.

Saya tidak berkata bahwa mempunyai harta itu jelek, sekali lagi tidak!. Perintah Allah SWT dalam Alquran jelas seperti yang termaktub dalam perintah-perintah zakat. Kita diperintah untuk menjadi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) dan bukan mustahiq zakat (orang yang berhak menerima zakat). Kita diperintah untuk memberi dan bukan menerima seperti disebutkan dalam hadits aw kamaqal, “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”.

Tapi sekali lagi, kita tidak diperintah untuk menumpuk-numpuk kekayaan hingga kekayaan itu menjadi tujuan kita. Hingga kita menyangka bahwa dengan kekayaan tersebut kita dapat kekal dengannya. Padahal sekali lagi tidak. Harta benda, istri dan anak-anak tak ada yang kekal bersama kita. Mereka semua hanya titipan dari yang kuasa.

Allah Ta’ala berfirman,
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1) الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3) كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ (4)

1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (2) yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, (3) dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, (4) sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah. (QS. Al Humazah: 1-4).

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Sifat serakah dapat membuat kita menjadi orang bakhil, egois, bahkan menjadikan kita menjadi orang yang musyrik karena telah menuhankan harta benda dan sejenisnya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Untuk itu diperlukan latihan terus menerus untuk membuang sifat serakah tersebut. Nilai filosofi kurban adalah cara paling efektif untuk menyembelih sifat serakah kita. Karena dengan qurban maka kita dapat berlatih melepas apa yang kita cintai.

Ibadah kurban adalah ibadah yang berawal dari sejarah ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk mengorbankan putranya, Ismail, dengan cara disembelih. Berbekal keimanan yang tinggi, Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah yang disampaikan Allah melalui sebuah mimpi.

Namun, sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, malaikat membawa seekor kambing dari surga sebagai ganti untuk disembelih. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Asshoffat: 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dari sejarah inilah umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban yang pada hakikatnya merupakan sebuah ibadah untuk mengingatkan kita semua untuk kembali kepada tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzaariyaat: 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.”

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Dengan kurban kita dapat berlatih 3 nilai lain yaitu ikhlas, sabar, dan berbagi. Ikhlas itu artinya melepaskan, selesai dengan apa yang sudah diberikan dan tidak memikirkan kembali. Orang yang mengikhlaskan berarti sudah tidak ada dalam dirinya perasaan menyesal memberikan sesuatu, eman mengasihkan sesuatu. Sedangkan sabar adalah kekuatan untuk melaksanakan perintah Tuhan dan menerima atau ridha atas takdir-Nya.

اللهُ أَكْبَر ،اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Akhirnya, sekelumit yang bisa saya sampaikan. Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita. Semoga ibadah kita diterima oleh Alllah swt, semoga kita digolongkan menjadi orang yang qanaah, menerima pemberian Tuhan dan terus berusaha sebagai bentuk syukur terhadap-Nya serta tidak menjadi orang yang serakah atau tama’ serta tidak ridho atas segala pemerian-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِى اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.

Dr Iksan Kamil Sahri, Ketua Lembaga Penelitian STAI Al Fithrah Surabaya dan Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur.