Puisi

Kuhafal Warna Airmataku

Minggu, 27 Oktober 2013 13:16 wib

Waktu begitu terbangun dan akulah laut
Aku belum tahu apa-apa tentang
jalan di bibir kita

Sepasang airmata kita menikahi segala
yang telah puisi di matamu:
agar hujan yang kuntum warna tubuhku
sejengkal lagi membuahi akar sunat rindu
di tepian khuldi dadamu
sejauh subuh yang telah rakaat menuai anggun mentari

Kuhafal warna airmatamu
saat kau menangis menyesali waktu
yang begitu cepat menjauhkan jarak
pandang kita

Akupun paham ini tidak lama untuk dilanjutkan
dan kotaku masih sepi dari gerimis

Apa kabar airmatamu,
perempuan yang tulus mencintai tubuhku.

:sisakan basah doa yang lembut
di tahajudmu untukku, jangan cemaskan
aku di sini
dengarkan sekali lagi puisiku

Lalu bacalah, hingga
kulit rembulan telah menjelma purnama dan
sebagian bintang yang cahayanya pindah
di nadi airmataku
adalah rindumu yang kuhitung tanpa jeda

Kuhafal lagi warna airmatamu
sampai deru kereta tubuhmu begitu sunyi mengantar
mimpi yang kedua sehabis i’tidzalmu
mencium bara puisi

Di kedua biji kelaminku malam ini. (*)

Bekasi-Jakarta, 2013

Untuk Tanah Kalianget

Sehabis purnama di dahan matamu
perempuan mengukir gelombang di dagu matahari
mengaji tikar dengan episode airmata
tak habis aroma tembakau

Kita sudah sampai ibu.
tanah kalianget saat bapak sakera
mengunyah perang dahaga dalam mulut pecutnya
saat Jokotole lahir dari mimpi rahim ibunya
dalam tubuh Gua Pajuddan
dengan lelaki bernama Agus Wedi

Kau akan melihat betapa
tanahku terus berasa asin garam
dari ombak arus yang membawa sampan Tongkang
dari hulu rambutmu
ke hilir Pulau Talango
tempat maqom Syech Sayyid Yusuf
meneruskan rumah doanya sepanjang bulan dhilawal
ke kuncup bulan dhilaher

Di pelabuhan, orang-orang membunga
segala waktu yang tersisa dari redup hidup
membakar matahari ke akar matanya

Gubuk dengan derai musim yang
telanjang di tanean
syukur ucap yang bertalas ke huruf tubuhmu
mengantarku pada malam
di mana kapal feri tujuan Jawa
akan segera melumur perjalanan

Pedagang asongan
berteriak mencari benih keringat
di loket karcis, senyum kita menjadi hujan
walau tak ada musim
tapi jumpaku padamu
seperti aku merindukan seorang kekasih
di sudut kamar tanpa cahaya

Lampu-lampu dari atas mercusuar
melampaui masa kanakku dahulu
melewati kemarau yang tandus
bertemu dengan selusin warna kunang
yang sekarang hilang entah pindah
ke kota mana

Masihkah ingat, tadarus jangkrik di mengkang
menunjuk rembulan
agar puisi tetap sampai pada tujuannya
merangkum derit airmata ibu
dalam doaku
sebab ayah yang sedang majang ikan
di lautmu
adalah rintihan alif di bara doaku
yang tak pecah di akar keresahan

Ke kalianget aku kembali
karena ketika aku lahir
ari-ariku telah menjadi tanah
tempat tembakau dan garam dihaluskan
tempat nenek moyang disemayamkan
agar khutbah surga
tetap hangat di alif yasin kita

Juga surga ibu
dari merah darahku yang
menetes tanpa henti
sampai batas akar tanah ini
menyebutku telah kembali pada muasalnya. (*)

Kalianget, 2013

En Kurliadi Nf, nama pena dari Kurliadi, lahir di Giligenting Sumenep. Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Sumenep, ini menulis karya sastra berupa puisi, cerpen, novel, roman, pantun, esai dan lain-lain. Beberapa karyanya juga pernah dipublikasikan di media massa: Horison, Kuntum, Radar Madura, Waspada, Buletin Jejak, Radar Bekasi, Sastra Mata Buana. Karyanya juga terkumpul dalam Antologi Puisi Untuk Padang (2011), Nyanyian Langit (Ababil, 2006), Nemor Kara (Balai Bahasa Surabaya, 2006), Ayat-ayat Ramadhan (Kisah Inspiratif Ramadhan AG. Publishing 2012), Selayang Pesan Penghambaan (Pustaka Nusantara 2012), Dialog Tanian Lanjheng (Majlis Sastra Madura 2012 yang akan terbit), Mengabadikan Keajaiban Dekapan Hangat Kasih Sayang Ibu (JPIN, 2012), Indonesia dalam Titik 13 (Lintas Penyair Indonesia, 2013), Jejak Sajak di Mahakam (Lanjong art 2013).