Cerpen

Kain Mori Budhe Niti

Minggu, 27 Oktober 2013 08:59 wib

Oleh: Widhiarti

PAGI ini, ketika jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi, Budhe Niti memanggilku ke kamarnya. Kamarnya bersebelahan dengan kamar kakak ketigaku, Mas Samsul. Suaranya berbisik lirih saat berbicara padaku. Budhe Niti memintaku membelikannya sesuatu. Namun tidak ada seorang pun yang boleh tahu.

Ini semacam sebuah rahasia besar yang sangat penting dan tertutup. Hanya aku, Budhe Niti, dan Tuhan yang boleh tahu. Budhe Niti memang yang paling dekat denganku. Terlihat kecemasan di wajah budhe Niti yang mulai dipenuhi kerutan saat memintaku merahasiakan ini dari semua orang. Terutama ibu. Ibu tak boleh sampai tahu. Pasti.

Budhe Niti memintaku membelikannya kain. Budhe Niti menyuruhku membeli dengan ukuran sesuai keperluannya. Budhe Niti tidak lupa menginstruksikan agar aku membelikannya di toko kain AS-SALAM. Pemiliknya adalah seorang laki-laki keturunan Arab. Tokonya berukuran lima belas kali tujuh belas meter. Posisinya di pinggir jalan utama kabupaten. Gulungan kain warna-warni menyemarakkan isi toko. Aba Yusuf pemiliknya, dibantu dua pegawai yang ramah.

Sudah hampir lima belas tahun Budhe Niti berlangganan di sana. Budhe Niti sering mengajakku ke sana menjelang lebaran tiba. Membeli kain untuk baju lebaran. Baju koleksi Budhe Niti sangat banyak dan beragam. Hampir semua bahannya dibeli dari toko kain milik aba Yusuf. Kali ini Budhe Niti tidak memintaku membeli kain sutra, katun, beludru, brokat, atau paris. Budhe Niti sendir jugai tidak bermaksud membuat kebayak atau baju muslimah.

Budhe Niti adalah seorang pensiunan dari Dinas Pertanian bagian pengawasan pangan di Jatim yang ditempatkan di Kediri. Baru empat tahun terakhir Budhe Niti tinggal bersama kami. Budhe Niti dulunya tinggal seorang diri di Kediri, setelah saudaraku yang merawatnya menikah, Budhe Niti dipaksa pindah ikut kami.

Suami Budhe Niti dulunya seorang pedagang. Mereka bercerai. Suami Budhe Niti kesemsem janda kembang. Budhe Niti tidak lagi menikah setelah kejadian dua puluh lima tahun itu berlangsung. Budhe Niti dikaruniai seorang anak perempuan yang meninggal karena sakit demam berdarah saat usianya menginjak empat tahun.

Budhe Niti, begitu aku memanggilnya adalah saudara tiri dari ibu, satu ayah dan berbeda ibu. Walaupun begitu, mereka sering cek-cok. Saat ini umur Budhe Niti menginjak enam puluh tahun, sedang ibu sendiri umurnya sekitar lima puluh satu tahun. Budhe Niti paling dekat denganku.

Walaupun sudah berumur, Budhe Niti gemar berdandan. Pakaiannya warna-warni. Budhe Niti juga suka memakai kosmetik. Suka pakai gincu, alis mata, dan bedak. Budhe Niti gemar mengolesi minyak angin di sekujur tubuhnya, itu membuat ibu muntah-muntah setiap pagi.

Budhe Niti juga cerewet, itu yang membuatnya tak akur dengan ibu. Budhe Niti selalu rewel saat makan. Selalu saja membawa beberapa butir telur rebus ke kamarnya untuk bekal saat tengah malam. Jika lauk yang dimasak ibu tak disukainya, lewat tengah malam dia sering memukul-mukul piring yang sengaja dia bawa ke kamarnya sehingga berisik dan membangunkan kami. Ibu tidak sabaran menghadapi kelakuannya.

“Kain mori lagi?” Tanyaku pada Budhe Niti dengan intonasi tinggi, disusul beberapa menit kemudian dengan aksiku membungkan mulut.

“Iya kain mori. Ukurannya sesuai yang kusebut tadi,” jawabnya hampir tak terdengar.

“Kain mori untuk siapa?” Desakku lagi.

“Untuk Budhe. Buat simpanan,” Budhe tertunduk diam. Matanya berkaca-kaca. Sepertinya berharap banyak agar aku bisa menolongnya.

Dadaku bergemuruh. Terlintas dalam bayanganku jika ibu tahu hal ini, sesuatu yang tidak baik akan terjadi di rumah.

“Aja neka-neka tho, Yuk. Mbok ora usah tuku kain mori. Arep digawe apa. Durung ngerti matine kapan wae wis dicepaki. Mengka dikiro wongedan,” ujar ibuku sewot   beberapa bulan yang lalu saat Budhe Niti mengutarakan niatnya membeli kain mori.

“Supaya orang repoti panjenengan. Wong iku kudu duwe guneman supaya ora nyusahake wong liya yen sesok dipundhut Gusti Allah,“ ujar Budhe membela diri.

Akhirnya ibu meluruskan niat Budhe Niti. Berselang satu setengah bulan, sepupuku meninggal. Kain mori Budhe Niti diberikan untuk pengurusan jenazah sepupuku. Budhe Niti meminta ibu membeli kain mori lagi. Ibu meluruskan niatannya. Berselang dua minggu, keponakanku meninggal. Anak dari kakakku yang pertama. Ibu sangat terpukul. Ibu menuding ini karena ulah Budhe Niti yang membeli kain mori, padahal tidak ada yang meninggal.

Semenjak itu hubungan ibu dan Budhe Niti menjadi semakin renggang. Ibu menuding  semua yang terjadi itu karena kain mori yang dibeli Budhe Niti untuk persiapannya saat meninggal kelak. Sejak saat itu aku tak pernah lagi mendengar Budhe Niti berbicara mengenai kain mori. Hingga pagi ini Budhe Niti memanggilku ke kamarnya.

Sepulang dari kantor, aku tak langsung pulang. Aku mampir ke toko kain milik Aba Yusuf. Membelikan kain mori pesanan Budhe Niti. Aku harus melakukannya dengan hati-hati. Jika ibu tahu pasti akan muntab. Sudah terbayang apa yang akan terjadi.

“Iya. Kain mori kualitas baik dengan harga langganan ya, Ba?” Candaku pada Aba Yusuf saat aku datang ke tokonya.

“Ada yang meninggal. Siapa?” Aba terlihat panik. Maklum keluargaku langganan tetap di tokonya. Secara tak langsung Aba sudah mengenal kami dengan baik.

“Tidak ada. Hanya pesanan Budhe.”

Matahari terik siang ini, orang-orang bergegas seperti adegan dalam sebuah film Jakarta. Aku mengemudi dengan baik menuju rumah ibu untuk bertemu Budhe Niti. Budhe Niti ada di kamarnya. Menyambutku dengan seuntas harapan yang terang. Dia merasa hanya aku yang mampu memahaminya selama ini. Aku mengerti kegalauannya, maka dari itu aku bersedia membelikannya kain mori. Apa salahnya, biar dia merasa sedikit tenang. Lagi pula aku bukan tipe orang yang percaya hal-hal begituan.

Sepupuku meninggal menurutku karena kecelakaan lalu lintas, bukan karena budhe Niti membeli kain mori untuk persiapan jika dirinya dipangil Tuhan sewaktu-waktu. Demikian juga dengan keponakanku, dia meninggal karena sakit tifus, bukan karena dua minggu sebelumnya Budhe Niti membeli kain mori.

Aku paham, Budhe Niti tak ingin merepoti kami. Budhe Niti nampak bahagia saat aku datang membawa pesanannya. Matanya bersinar. Budhe Niti mengupahiku selembar uang lima puluh ribuan. Budhe memang selalu begitu. Jika meminta tolong kami selalu mengupahi, jika kami menolak dia akan tersinggung.

“Untuk apa Budhe beli kain beginian?” Tanyaku dengan perasaan tak tenteram.

Budhe Niti tersenyum. Sisa kecantikannya masih terlihat jelas. Begitu.

Setelah bercerai budhe Niti memang tidak menikah lagi. Dia meniti masa tua dengan uang pensiunannya. Dulu dia bepergian dari rumah saudaranya yang satu ke rumah saudaranya yang lain secara bergilir. Rumahnya dijual untuk membayar hutang suaminya di bank setelah usaha yang dirintis suaminya bangkrut.

***

Kondisi keluargaku juga pas-pasan. Tak bisa banyak membantu kesulitan Budhe Niti. Ayah adalah kepala sekolah SD. Dia meninggal saat aku masih di kandungan. Ayah terkena serangan jantung. Kakakku yang pertama adalah seorang bidan. Kakakku yang kedua memiliki tambak sebagai mata pencaharian utama keluarganya. Kakakku yang ketiga adalah seorang guru SMP di desaku. Aku sendiri menjadi seorang pegawai bank di kabupaten.

Budhe Niti seseorang yang serba bisa. Selalu ingin melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin. Saat tinggal bersama kami, budhe Niti selalu melakukan semuanya sendiri. Mencuci bajunya sendiri, mencuci piring, dan menata kamarnya sendiri setiap pagi. Dalam satu hari budhe Niti hanya mandi satu kali.

Budhe Niti mandi pukul dua siang. “Biar awet muda,” jelasnya padaku.

Budhe Niti suka memberikan sejumlah uang dan memintaku ke pasar untuk belanja. Ayam untuk dimasak ayam kalasan, beberapa kilo jeruk, dan beberapa perlengkapannya. Budhe Niti selalu menempeli hampir sekujur tubuhnya dengan koyo. Persediaan obat-obatnya sangat lengkap. Rambutnya ikal sebahu. Biasa memakai dua bandana kepala dan penjepit rambut warna merah berbentuk bunga kamboja. Selendang merah selalu melingkar di lehernya.

“Ibumu dulu kesal. Budhe tidak segera menikah, jadinya ibumu tidak bisa secepatnya menikah dengan ayahmu,” Budhe Niti bercerita padaku soal ibu.

“Ibumu sangat manja. Disekolahkan kakekmu tak mau, dia malah pingin cepat-cepat menikah dan jadi ibu rumah tangga.  Itu mimpinya sejak kecil. Ibumu dulu kembang desa. Banyak yang naksir. Makanya ibumu sewot sama Budhe. Katanya Budhe banyak pola karena tidak mau cepat nikah dan malah sekolah.“

Aku terkekeh mendengar cerita Budhe Niti. Sebelumnya Budhe Niti tak pernah bercerita hal beginian. Aku memang yang memaksanya. Seandainya hari ini aku tidak mengantarkan kain pesanannya, aku tak akan mendengarkan hal-hal semacam ini.

“Kerja yang sungguhan. Diatur uangnya buat bekal nanti di masa tua, nduk. Biar tidak merepotkan anak cucu, apalagi orang lain. Kayak Budhe ini masa tuanya nggak punya siapa-siapa. Budhe nggak mau ngerepoti orang.”

Aku mengangguk tanda memahami ucapan Budhe Niti.

Ibu memang berbeda dengan Budhe Niti. Ibu sejak kecil tidak pernah bekerja dan hidup susah. Budhe Niti tidak tinggal bersama kakek, Budhe Niti ikut ibunya. Setelah ditinggal mati ayah, ibu hanya cukup mengandalkan pensiunan. Kakak-kakakku yang banting tulang saling membantu untuk menyekolahkan adik-adiknya.

Siang itu aku ngobrol bersama Budhe Niti hingga sore. Banyak yang dia ceritakan. Nostalgia bersama masa lalu. Wajahnya sumringah. Aku merasa Budhe selama ini tertekan dengan kelakuan ibu. Budhe Niti tak memiliki siapa pun. Seharusnya ibu yang merupakan satu-satunya kerabat bisa memberikannya rasa nyaman. Selama ini Budhe Niti tidak pernah merepotkan. Budhe Niti juga banyak membantu untuk menyekolahkanku hingga aku menjadi seperti sekarang ini.

***

Menjelang tengah malam, telpon kamar kosku berdering. Dengan rasa kantuk yang menyerang, aku berusaha berdiri. Seseorang dari ujung sana terdengar menangis. Isakannya membuatku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang ingin dikatakannya. Itu suara mbak Laksmi, kakak iparku. Suaranya tersendat-sendat. Rumah juga terdengar gaduh,  seperti banyak orang di sana. Ada apa, semalam ini. Ini sudah pukul dua pagi. Waktu untuk tidur.

“Budhe Niti meninggal?” Tanyaku memastikan.
           
Dadaku bergemuruh. Padahal baru tadi siang aku main ke kamar budhe Niti. Apa benar yang dibilang mbak Laksmi. Tapi buat apa coba mbak Laksmi bohong. Tidak ada untungnya juga. Aku segera mengemudikan motorku menyusuri jalan menuju rumah. Satu jam kemudian aku sampai di rumah. Banyak orang di sana. Budhe sudah dibujurkan di ruang tamu, tubuhnya ditutupi kain jarik milik ibu. Kakak-kakakku menangis di samping jenazah Budhe Niti. Persis saat nenek meninggal dua tahun lalu.

Budhe Niti meninggal bukan karena sakit yang dideritanya. Tadi malam, sekitar pukul dua belas malam, ada sekelompok pencuri membobol rumah. Budhe Niti nekad berteriak hingga ada warga yang menolong, tapi nyawanya melayang digasak pisau lipat pencuri. Tak ada satu pun barang yang hilang. Budhe Niti telah menyelamatkan kami, sekalipun nyawanya telah dipertaruhkan.

Aku melihat ibu, pandangannya kosong. Tak pernah aku melihat ibu sesedih malam ini. Mungkin ibu sudah menyadari beberapa hal yang selama ini tak pernah dipikirkannya. Ibu sudah sadar, walaupun Budhe Niti sudah pergi. Budhe Niti akan dimakamkan esok hari. Bersanding dengan pusara kakek dan nenek.

“Ini Kak untuk biaya pemakaman Budhe,” ujarku menyodorkan amplop pada kakak pertamaku. Sebulan yang lalu kakak pertamaku itu baru saja kecelakaan jadi aku paham dia kesulitan uang.

“Tak usah, Ras. Sudah ada. Semua sudah kakak urus.”

“Nggak papa. Laras masih ada simpanan.”

“Budhe Niti selama ini menyimpan satu tas berisi perhiasan emas di lemarinya,” ujar kakaku tiba-tiba mengejutkanku.

“Emas apa?” Ujarku heran.

“Ya emas beneran. Kita saja baru tahu saat maling-maling itu menggeledah kamarnya. Sebelum meninggal tadi, Budhe minta emas ini dibagi rata.”

Lidahku keluh.

“Maka dari itu Budhe lebih rela berteriak agar perhiasan ini selamat,” air mataku mengucur.

“Budhe juga meninggalkan surat-suratnya, sebuah sertifikat tanah, dan buku tabungan. Itu semua untuk kita.”

Mataku berkunang-kunang. Badanku tiba-tiba terasa ringan. Dadaku sesak. Sampai desahan nafas terakhir pun, Budhe Niti tidak mau merepotkan orang lain. Mungkin begini rasanya saat ibu dan kakak-kakaku ditinggal ayah pergi. Mataku tiba-tiba gelap. Hanya terdengar bacaan kakakku mengaji sebelum kemudian aku tidak bisa merasakan apa-apa. (*)

September 2011

Wdihiarti, cerpenis kelahiran jombang. Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS Unesa ini karya-karyanya dipublikasikan di media lokal maupun nasional.