Ingat Maroko, Ingat Soekarno

Presiden Sukarno dan Raja Mohammed V dalam mobil terbuka memasuki kota Rabat, Maroko, 2 Mei 1960 (santrinews.com/historia)

Pemerintah Maroko mengabadikan nama jalan Syari’ Ahmed Soekarno. Nama Jakarta dan Bandung menjadi nama jalan di Ibu Kota Maroko.

Dukungan terhadap tim sepak bola Maroko sangat banyak di Indonesia. Mereka yang merasa terwakili lantaran sesama negara mayoritas berpenduduk muslim. Walaupun Piala Dunia 2022 di Qatar, tak ada hubungan dengan agama. Ini murni even pertandingan sepak bola antar negara di belahan dunia.

Banyak beredar di media sosial, dukungan doa terhadap tim milik Raja Muhammad VI. Berharap Maroko dapat mengalahkan tim Prancis. Namun ternyata, takdir berbicara lain. Tim berjuluk Usudul Athlas (Singa Atlas) kalah dengan skor 2-0 atas kemenangan tim milik Presiden Emmanuel Macron.

Betapun banyak yang tahu, kesebelasan Maroko ala kulli hal merupakan tim underdog dibandingkan tim Prancis yang dua kali juara dunia. Namun dalam benak ini tetap muncul harapan, tim Prancis kalah. Maroko terasa mewakili negara berkembang sekaligus negara bekas jajahan Barat.

Maroko itu monarkhi konstitusional yang pernah dijajah oleh Prancis pada 1844. Kemudian dijajah Spanyol pada 1850-1860. Invasi politik militer Barat ini memicu perang sipil hingga 1873. Raja Muhammad IV mengkonsolidasi perlawanan dengan mengerahkan suku di Atlas Tinggi.

Kedaulatan Maroko bisa terjaga sampai 1905 setelah kepemimpinan nasional berganti tiga raja. Mulai dari Raja Muhammad IV, Moulay Hasan I sampai Moulay Abdoelaziz. Sejak tahun tersebut Prancis menguasai kembali Maroko. Tetapi perlawanan rakyat tetap berjalan. Prancis tak pernah tenang. Apalagi setelah Kaisar Wilhelm Jerman memberi sokongan terhadap Raja Maroko. Ini memicu krisis politik militer kembali.

Prancis baru menguasai penuh Maroko setelah kedua negara menandatangi Traktat Faiz pada 1912. Dimana kedaulatan Maroko diserahkan pada Prancis sebagai protektorat hingga 1956.

Namun demikian, perlawanan rakyat atas pendudukan Prancis terus berlangsung. Sehingga memicu Perang Rif antara 1919-1926. Raja Muhammad V memproklamasikan Kesultanan Cherifian pada 1927. Raja ini dikenal sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Maroko atas Prancis. Disamping perjuangan bersenjata, perjuangan diplomasi juga dilakukan. Meski berulang-ulang gagal. Termasuk proklamasi kemerdekaan 1944 ditolak oleh rezim koloni Prancis.

Baru pada 1956, Prancis mengakui kemerdekaan Maroko setelah terjepit di medan perang dan perundingan. Kemunduran di Indochina dan Aljazair serta pemberontakan kaum nasionalis di Maroko yang menggulingkan raja dan mengasingkannya bersama keluarga kerajaan ke Madagaskar di pesisir Timur Afrika.

Pidato Bung Karno
Bangsa Maghribi ini benar-benar bangsa yang tak mudah menyerah. Bangsa pejuang lawan kolonialisme dan imperialisme Barat. Dan, akhirnya Prancis kewalahan dan menyerah serta mengakui kedaulatan Maroko setelah diilhami oleh hasil Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika 1955 di Bandung.

Bahkan, kaum muda Maroko mengakui secara jujur bahwa pidato Bung Karno KAA di Bandung-lah yang telah membakar semangat juang bangsanya untuk merdeka dari Prancis.

Bahwasannya kemerdekaan adalah hak seluruh bangsa. Oleh sebab itu, segala bentuk penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.

Pasca konferensi tersebut, Bung Karno membentuk Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara. Panitia ini diketuai oleh Muhammad Natsir, Hamid Alkadrie sebagai sekretaris jenderal dan I.J Kasimo sebagai bendahara. Panitia ini untuk membantu perjuangan rakyat Maroko dan Aljazair.

Sesaat setelah 5 tahun Maroko merdeka, Bung Karno melakukan kunjungan kenegaraan kepada Raja Muhammad V ini. Luar biasa, presiden Indonesia pertama ini diarak dari Bandara Internasional Saleh Rabat menuju Istana Dar Al-Makhzen dengan mobil terbuka bersama sang tuan rumah. Penduduk berdiri berjejeran di pinggir jalan melambaikan tangan sambil mengelu-elukannya.

Bung Karno diperlakukan layaknya pahlawan. Karena itu, Raja Muhammad V menganugerahkan bintang mahkota Orde Du Trone kepada Bung Karno. Serta Sang Bung juga disebut sebagai pahlawan revolusi kemerdekaan dunia Islam.

Sebagai bentuk penghormatan atas lawatan Bung Karno pada 2 Mei 1960, pemerintah Maroko mengabadikan nama jalan Syari’ Ahmed Soekarno, sekaligus nama Jakarta dan Bandung menjadi nama jalan di Ibu Kota Maroko tersebut. Sejak 1960 sampai sekarang, otoritas yang berkuasa di sana memberikan kebijakan bebas visa kunjungan selama 3 bulan bagi warga Indonesia.

Posisi Indonesia di hadapan negara-negara bekas jajahan Barat boleh dibilang penting dan strategis. Ini berkah Bung Karno sebagai tokoh dunia yang menginisiasi gerakan dekolonialisasi negara Asia Afrika dan Gerakan Non Blok (GNB) yang independen dari Blok Barat maupun Timur, tapi diplomasi tangan di atas dalam istilah Jusuf Kalla, juga dijalankannya.

Sebagai bukti nyata, Bung Karno memberi bantuan $ 10.000 atas korban bencana gempa bumi di Kota Aqadir Maroko yang menewaskan separuh penduduknya pada 25 Februari 1952. Meskipun, kondisi ekonomi nasional tak kalah berat dibandingkan dari Maroko sendiri.

Ceramah Kiai Said
Hubungan persahabatan Maroko Indonesia ini, yang diingatkan oleh Ketua Umum PBNU (2010-2021), Prof Dr KH Said Aqil Siradj, sewaktu menyampaikan pidato dalam rangka Durus Hasaniah Ramadhaniah di hadapan Raja Muhamad VI beserta para pembesar kerajaan lainnya pada Jumat, 29 Agustus 2010.

Ternyata, Kiai Said adalah ulama pertama Indonesia yang dipercaya memberi ceramah dengan judul: “Himayatul Millah wad Din fi Duwalid Dimoqrathiyah (Perlindungan Agama dan Kepercayaan di Negara-negara Demokrasi)”. Ini pengakuan dari Maroko terhadap peran NU dan Indonesia menyelaraskan Islam dan demokrasi.

Kiai Said mengambil contoh historis dari Piagam Madinah serta realitas sosiologis umat Islam Indonesia. Sebuah negara muslim terbesar dunia dengan penduduk 275 juta, serta negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat.

Kerukunan umat beragama di Indonesia merupakan sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Kerukunan ini dibangun di atas kebebasan beragama yang dijamin konstitusi dan toleransi yang berlandaskan Bhineka Tunggal Eka.

Indonesia kata Kiai Said bukan negara agama dan bukan pula negara sekuler. Suatu negara yang berketuhanan yang maha esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Negara Pancasila ini memberi tempat pada partai berbasis nasional dan partai berbasis Islam, menyelenggarakan sistem pendidikan umum dan juga pendidikan yang bercirikan Islam, menyediakan layanan bank konvensional dan bank syariah, memiliki badan amil zakat yang mengelola dana zakat, menyelenggarakan pelaksanaan haji, dan seterusnya.

Demokrasi telah memberi kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat Indonesia untuk ikut serta dalam pemerintahan. Saiful Mujani berkesimpulan, bahwa NU dan Muhammadiyah-lah yang menjadi pilar penyanggah budaya demokrasi di Indonesia.

Sesungguhnya, Maroko dan Indonesia merupakan negara muslim sunni yang banyak memiliki kesamaan dalam praktek keberagamaan. Kiai Said mengatakan melihat Maroko sama dengan melihat diri sendiri. Suatu bangsa yang sama-sama berpedoman pada nilai i’tidal, tawasuth, tasamuh dan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan bermasyarakat.

Di sana, ragam macam tarikat tumbuh subur dengan baik. Masyarakatnya mencintai ahlul bait (anak keturunan Rasulullah SAW). Kegiatan dzikir semarak dimana-mana. Dan, tradisi menghormati para wali dan ulama mengakar dalam.

Di balik kesamaan di atas, Maroko dan Indonesia memiliki perbedaan cara memperlakukan negara yang pernah menjajah dalam kurun waktu tertentu. Maroko tetap melawan dominasi dan hegemoni kultural bekas negara yang menjajahnya. Sedangkan, Indonesia lebih banyak melakukan penyesuaian diri dengan identitas kultural negara-negara Barat yang bersangkutan.

Dalam konteks hubungan antar dua negara muslim ini, kerjasama dalam banyak hal sudah berlangsung lama. Maroko terinspirasi pada pengembangan gagasan para pemimpin dalam pidato. Kemudian, Indonesia terinspirasi pada perkembangan olah raga dari pemain sepak bola.

Pidato dan Sepatu
Pidato dan sepatu memiliki dimensi dakwah dalam mensyiarkan bangsa Indonesia dan Maroko. Keduanya punya sejarah besar yang ingin menciptakan perdamaian dunia yang abadi dan berkeadilan sosial.

Piala Dunia Qatar 2022 ini memiliki tema: “Kebersamaan untuk Seluruh Umat Manusia, Menjembatani Perbedaan Melalui Kemanusiaan, Rasa Hormat dan Inklusi”. Tema ini punya kesamaan substansi dengan pidato Bung Karno dan ceramah Kiai Said. Sayangnya, Indonesia hanya masuk dalam tema.

Maroko sendiri masuk sebagai peserta Piala Dunia. Tim asuhan pelatih Walid Regrague ini telah masuk 4 besar. Timnas Afrika yang pertama masuk babak semifinal. Banyak rakyat Indonesia yang menginginkan Maroko minimal bisa 3 besar dengan mengalahkan Kroasia yang dijadwalkan bertanding pada 17 Desember jam 22.00.

Indonesia harus banyak belajar pada Maroko dalam pembinaan sepak bola Tanah Air. Bagaimanapun, sebuah kebanggaan menjadi timnas yang ikut bertanding. Apalagi sampai menjadi juara. Sebuah anugerah yang besar dalam perjalanan sejarah persepakbolaan kita.

Lagi-lagi, persebakbolaan Indonesia ketiban nasib sial atas Tragedi Kanjuruhan Malang yang menewaskan 153 orang. Alih-alih, bangsa ini bangga malah justru nestapa akibat manajemen pertandingan sepak bola yang tak dikelola dengan baik. Lalu, sampai kapan Indonesia menyusul Maroko? Biar sejarah yang menjawabnya. (*)

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.

Terkait

Opini Lainnya

SantriNews Network