Daerah

Kiai Mutawakkil: Kesejahteraan Warga Jadi Perhatian NU Jatim

Minggu, 24 September 2017 19:08 wib

...
Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah (santrinews.com/hady)

Surabaya – Kesenjangan dan keterbelakangan ekonomi yang dirasakan masyarakat bawah hendaknya menjadi perhatian berbagai kalangan. Nahdlatul Ulama juga ditunggu kiprahnya untuk mengangkat kesejahteraan warga.

PWNU Jatim memberikan perhatian khusus kepada isu ekonomi,” kata KH M Hasan Mutawakkil Alallah, Minggu (24/9).

Menurut Ketua PWNU Jatim tersebut, dalam masalah keteguhan terhadap ajaran Islam khususnya paham Ahlussunnah wal Jamaah, warga NU demikian dapat diandalkan. “Akan tetapi, hal tersebut bukanlah jaminan kalau secara ekonomi ternyata mereka hidup dengan kondisi yang memprihatinkan,” kata Kiai Mutawakkil.  

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Kerja (Musker) III PWNU Jatim yang berlangsung di Graha Residence Surabaya.

Karena itu, dalam rangka merealisasikan amanah Konferensi Wilayah NU Jatim, maka tugas berat yang harus diemban pengurus adalah mendorong serta memastikan kian meningkatnya taraf perekonomian warga.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo tersebut, kemiskinan akan dapat mengantarkan seseorang kepada kekufuran. “Oleh sebab itu, program strategis aksi nyata kemandirian ekonomi warga dalam upaya meningkatkan perekonomian nahdliyin atau warga NU sangat mendesak untuk segera dilakukan,” jelasnya.

Apa yang disampaikan Kiai Mutawakkil juga diamini Gubernur Jatim, Soekarwo. Baginya, tugas semua kalangan termasuk pemerintah dan stakeholder untuk mewujudkan masyarakat di kawasan ini mandiri dan sejahtera.

“Sudah saatnya pemerintah meninggalkan paradigma ekonomi liberal,” ungkapnya.

Secara khusus, Pakde Karwo  mendesak pemerintah pusat untuk membantu dan memberikan perhatian kepada usaha kecil dan menengah. “Jangan biarkan masyarakat bertarung dengan pengusaha besar,” terangnya. Sebab kalau itu yang dilakukan, maka keberadaan pemerintah tidak ubahnya sebagai paguyuban.

Kegiatan yang berlangsung sejak Minggu hingga Senin (24-25/9) tersebut diikuti fungsionaris PWNU Jatim baik lembaga, serta badan otonom, juga utusan dari kepengurusan cabang se-Jatim. (*)