Daerah

Peduli Anak Yatim, Fatayat NU Tembalang Bagikan Paket Khusus

Senin, 09 Oktober 2017 23:09 wib

...
Anak yatim berfoto bersama usai mendapat santunan paket khusus (santrinews.com/rifqi)

Semarang – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Tembalang melaksanakan agenda pengajian selapanan rutin, Ahad, 8 Oktober 2017.

Bertepatan dengan bulan Muharram kegiatan pengajian selapanan dilaksanakan dengan memberikan santunan bagi 15 anak yatim yang ada di sekitar kecamatan tembalang. Santunan dibuat dengan paket khusus terdiri atas paket sembako, paket sekolah dan uang tunai.

Pemberian paket tersebut diakui oleh Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Tembalang Isti’anah bukan sebatas inovasi. Namun adanya kesadaran akan pentingnya memahami kebutuhan dalam memberikan sumbangan.

“Paketan kami tentukan berdasarkan kebutuhan. Masing-masing pengurus ranting diminta untuk mengajukan anak yatim yang ada di kelurahannya serta diminta masukan dan sarannya mengenai hal-hal yang dibutuhkan. Kami tegaskan sumbungan tidak boleh asal memberi sumbangan. Tapi harus jelas dulu apa yang sekiranya dibutuhkan,” ujarnya.

Pengajian rutin yang dihadiri oleh para sepuh dan tokoh masyarakat sekitar Meteseh dilaksanakan di Masjid Baitul Muttaqin Perum Bukit Kencana Jaya Meteseh Tembalang. Pembina Fatayat NU Tembalang Dwi Supratiwi dalam sambutannya selalu memberikan motivasi pada para pengurus agar perempuan dapat bergerak aktif dalam menyelesaikan permasalaan sosial yang dihadapi masyarakat.

“Kita sebagai perempuan jangan hanya mengagumi pemikiran sosok RA. Kartini saja namun harus mampu menjadi inisiator dalam pergerakan perempuan Indonesia. Ini adalah kunci utama agar kader Fatayat dapat terus berkembang dan maju,” kata Tiwi memotivasi.

Memahami era di mana kapitalisme telah merebut nanyak dari budaya bangsa ini dirinya terus mengingatkan agar kader Fatayat peka terhadap perkembangan zaman.

“Entah berapa banyak budaya luhur bangsa kita yang direnggut oleh ideologi kapitalis. Gotong-royong sudah mulai hilang ditelan peradaban modern, lagu dam permainan anak telah berubah dan entah berapa banyak lagi tradisi yang dahulu lestari kini hanya tinggal cerita,” tegasnya. (rifqi/onk)