Daerah

Respon Gubernur Jatim Soal Stunting, Muslimat NU Sumenep Bentuk Tim Khusus

Sabtu, 17 Agustus 2019 22:30 wib

...
Ketua PC Muslimat NU Sumenep Nyai Hj Dewi Khalifah (kiri) dalam suatu acara (santrinews.com/istimewa)

Jumlah penderita stunting di Jawa Timur paling banyak di Kabupaten Sumenep.

Sumenep – Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Sumenep, Jawa Timur, langsung membentuk tim khusus untuk melakukan pendampingan terhadap ibu hamil terutama yang beresiko tinggi dalam rangka pemberantasan stunting.

Tim ini memberikan penyadaran agar para ibu peduli akan kesehatan serta menjaga asupan gizi pada masa kehamilannya. Begitu ketika menyusui,” kata Ketua PC Muslimat NU Sumenep, Nyai Hj Dewi Khalifah, ketika dikonfirmasi Sabtu, 17 Agustus 2019.

Langkah Muslimat NU ini merespon pernyataan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menyebut bahwa penderita stunting di Jatim paling banyak berada di Sumenep.

“Kami kemarin (Kamis) bersama bu Menkes dan Pak Menhub, sampai (melakukan) pemetaan. Stunting agak banyak itu di Sumenep,” kata Khofifah usai paripurna mendengarkan pidato kenegaraan peringatan HUT ke-74 RI yang dibacakan Presiden Jokowi, di DPRD Jatim, Jumat, 16 Agustus 2019.

Baca juga: Khofifah Dorong Pesantren Punya Pos Kesehatan

Menurut Khofifah, Menteri Kesehatan hingga mengutarakan bahwa pencegahan stunting yang dimulai dari kehamilan sudah terlambat, sehingga dibutuhkan sosialisasi yang lebih komprehensif.

Khalifah menjelaskan, tim pendamping melibatkan struktur kepengurusan PAC Muslimat NU di masing-masing kecamatan. Tim ini, kata dia, akan melakukan sosialisasi hingga ke tingkat ranting atau desa sekaligus pemahaman pentingnya menerapkan menu sehat dalam keluarga.

“Peran ibu sangat penting dalam mencegah stunting,” ujar Kholifah seraya menjelaskan bahwa stunting itu bukan cebol atau pendek, melainkan otaknya juga tidak berkembang.

Baca juga: Khofifah Ajak Muslimat NU Berdakwah Via Twitter

Selain itu, tim pendamping juga akan melakukan gerakan sadar sadar gizi dengan memakai garam beryodium, agar tingkat resiko Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) bisa dihindari.

“Misalnya gondok, hipotiroid, keterbelakangan mental, hambatan perkembangan fisik,” kata Khalifah yang juga ketua Yayasan Pesantren Aqidah Usymuni Terate, Sumenep. (rus/onk)