Fikrah

Kiai Said Aqil, Regenerasi, dan Jaring Laba-Laba Operator Politik NU

Selasa, 21 Desember 2021 19:00 wib

...
KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Cholil Staquf

Namun, secara politik kalah lincah dari para “operator politik NU” yang kini berada di kubu sebelah.

Dari sejumlah calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj satu-satunya yang memberikan program kongkrit bagi peserta Muktamar NU. Selebihnya, program yang ditawarkan berupa wacana besar dalam menggerakkan NU pada abad kedua. Seperti menghidupkan pemikiran Gus Dur, kemandirian NU, penguatan Aswaja NU dan lain sebagainya.

Program kongkrit Kiai Said bisa dipahami, mengingat posisinya sebagai calon petahana PBNU yang telah berkhidmat dua periode. Alasan maju kembali adalah untuk menuntaskan satu cabang satu perguruan tinggi dan satu rumah sakit. Selama kepemimpinannya, Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) telah memilki 274 dari 94 PT sebelumnya. NU memiliki 25 rumah sakit yang bergabung pada Asosiasi Rumah Sakit Islam (ARSINU).

Kiai Said mengklaim waktu pertama kali menjadi Ketua Umum PBNU, Lembaga Amil Zakat (LAZISNU) mengelola uang Rp500 juta dan kini sudah berkembang menjadi Rp1,8 triliun. Pengelolaan dana umat itu juga sudah diaudit oleh akuntan publik dan memperoleh predikat dengan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Sesungguhnya, berbagai program di atas masih merintis dan membutuhkan perhatian khusus. Salah-salah, PT dan RSI di bawah naungan NU bisa gagal tumbuh, bila disorientasi dan keliru manajemen. Padahal, badan usaha tersebut untuk menopang kemandirian NU. Dalam konteks ini, alasan Kiai Said maju kembali untuk menuntaskan program yang belum selesai.

Namun apa pun alasan Kiai Said, dimaknai sebagai alibi oleh para penentangnya. Sebenarnya, Kiai Said ingin memperpanjang kekuasaannya di NU. Ketua Umum PBNU merupakan jabatan yang memberikan banyak keistimewaan.

Posisi sebagai pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), tokoh muslim paling berpengaruh ke-20 dunia dari Royal Islamic Strategic Studies Center dari Yordania, publikasi fikiran di berbagai platform media, dan lainnya, tak lepas dari posisi Kiai Said sebagai orang nomor satu di organisasi konfederasi pesantren, yakni NU.

Teringat kata Zun Tzu, “Jika yakin perang akan menghasilkan kemenangan, Anda harus bertempur, meskipun aturan melarangnya; jika perang tidak akan membawa kejayaan, janganlah bertempur, meski dalam tawaran kekuasaan”.

Kiai Said pasti sangat yakin mengulangi kemenangan pada Muktamar ke-32 NU pada 2010 di Makassar dan Muktamar ke-33 NU pada 2015 di Jombang. Meskipun banyak yang menentang pencalonannya yang ketiga, namun ia tetap jalan terus dan tak hirau dengan suara regenerasi. Ia berjanji untuk memberikan porsi lebih pada anak muda dalam kepengurusan Tanfidziyah PBNU yang akan datang.

Regenerasi yang dimaksud bukan peremajaan pengurus seperti yang ditangkap oleh Kiai Said melainkan pergantian Ketua Umum PBNU seperti yang dikehendaki oleh para penentangnya.

Sejak berdiri sampai sekarang Ketua Umum PBNU telah berganti 10 kali. Semula KH Hasan Gipo (1926-1929), KH Ahmad Noor (1929-1937), KH Mahfudz Shiddiq (1937-1946), KH Nahrawi Thohir (1946-1951), KH Wahid Hasyim (1951-1954), KH Muhammad Dahlan (1954-1956), Dr KH Idham Chalid (1956-1984), KH Abdurrahman Wahid (1984-1999), KH Hasyim Muzadi (1999-2010), sampai pada Kiai Said (2010-sekarang).

NU Tehnokrat Versus Operator Politik NU
Dari 10 Ketua Umum PBNU di atas, yang paling lama menjabat adalah Kiai Idham, 28 tahun, lalu Gus Dur, 15 tahun, selanjutnya Kiai Said, 11 tahun. Bila Kiai Said terpilih kembali, maka masa khidmatnya di NU melebihi Gus Dur. Oleh karena itu, banyak kekuatan yang menghadang Kiai Said.

Muktamar NU sekarang lebih berat bagi Kiai Said. Gus Ipul dan Cak Imin —yang dikenal sudah terbukti dan teruji seringkali memenangkan pertarungan internal NU dari muktamar ke muktamar— yang dulu pasang badan, kini berada di kubu KH Yahya Cholil Staquf.

Kiai Said tak punya tim sukses sekuat jaringan dua saudara sepupu yang menguasai jaringan NU dan partai tersebut. Ditambah, adik Gus Yahya, Yaqut Cholil Qoumas, yang menguasai birokrasi Kemenag. Para ketua PCNU dan PWNU dari jaringan NU, partai, dan birokrasi, terjerat jaring laba-laba lawan. Nasib Kiai Said bisa seperti telur di ujung tanduk, sangat rentan jatuh.

Namun dalam perebutan kekuasaan, segala kemungkinan bisa terjadi di luar dugaan. Ini disebabkan, kata Aristoteles, politisi itu selalu mengincar sesuatu, tak ada waktu luang sedikit pun tanpa usaha merebut dan mempertahankan kekuasaan. Dari sanalah, sumber kemuliaan dan kebahagiaan akan didapat.

Sebagai Ketua Umum PBNU yang sudah lebih dari 11 tahun memegang kendali, jaringan Kiai Said masih kuat, rata dan luas di seluruh Nusantara. Mereka loyalis yang menikmati keberkahan kekuasan Kiai Said di PBNU. Mereka juga NU tehnokrat yang membantu Kiai Said dalam menjalankan roda organisasi sehari-hari.

Memang, NU tehnokrat secara administratif banyak membantu tugas-tugas Kiai Said. Namun, secara politik kalah lincah dengan para “operator politik NU” di kubu sebelah.

Bisakah Kiai Said terlepas dari kepungan politik dari berbagai penjuru arah? Sementara barisan lawan sudah sangat rapi dan rapet sekali. Biarlah sejarah Muktamar NU di Lampung yang menjawabnya. (*)

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.