Hikmah

NU, Gus Yus, dan Jalan Tengah

Jum'at, 31 Agustus 2018 15:17 wib

...
KH Yusuf Muhammad alias Gus Yus bersama KH As'ad Syamsul Arifin (santrinews.com/moqsith

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Perbedaan pandangan termasuk dalam soal politik lazim terjadi di kalangan para kiai. Tapi perbedaan-perbedaan seperti itu tak menimbulkan keretakan. Kenapa?

Jawabnya, satu; selalu ada kiai-kiai yang berperan sebagai jembatan pengubung antara satu kiai dan kiai lain. Para kiai penghubung ini berfungsi mencairkan komunikasi yang agak renggang, mengklarifikasi kesalah-pahaman.

Para kiai penghubung itu di antaranya adalah Alm. KH Yusuf Muhammad—akrab dipaggil Gus Yus (Jember). Beliau ini alim, kharismatik, komunikasi publiknya baik, rendah hati, —dan jangan lupa; presentasinya selalu memukau.

Ketika bicara, diksi Gus Yus selalu terjaga sehingga tak ada hati yang terluka. Ia rajin mencari jalan tengah saat sejumlah kutub saling berhadapan. Mungkin karena itu, beliau dipercaya para kiai sepuh dan kiai muda sekaligus.

Gus Yus bisa masuk ke lingkungan kiai yang a-politis, juga bisa santai berdiskusi dengan para kiai politisi. Beliau bisa diterima di kalangan kiai yang pemikirannya dikenal hati-hati, juga bisa satu meja dengan para kiai yang pemikirannya dikenal “terbuka”.

Pendeknya, Gus Yus ini bisa dekat dengan para kiai model Mbah Wahab Hasbullah dan Mbah Bisri Syansuri dalam waktu bersamaan. Beliau dekat dengan kiai seperti KH As’ad Syamsul Arifin dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

NU terus membutuhkan figur kiai seperti KH Yusuf Muhammad ini. Belakangan, saya kian merindukan panjenengan Gus Yus. Lahul fatihah. (*)

Jakarta, 31 Agustus 2018