Khazanah

Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Mode Busana Muslim Dunia

Senin, 05 Agustus 2013 02:02 wib

Jakarta – Analisis terbaru Prapancha Research (PR), Indonesia dinilai siap menjadi pusat mode busana muslim dunia. Analisis itu berdasarkan hasil pantauan terhadap jejaring sosial selama kurun Agustus 2011-Agustus 2013.

Namun, promosi dan pembentukan jaringan internasional mesti gencar dilakukan bila negeri ini tak ingin kehilangan momentum.

“Tentu saja tak pernah ada pendataan seberapa banyak pengguna jilbab di Indonesia. Tetapi ada 5.447 perbincangan tentang jilbab di Twitter per hari,” kata analis PR, Muhammad R Nirasma, seperti dilansir beritasatu.com, Ahad, 4 Agustus 2013.

Sebagai perbandingan, kata kunci “rok” diperbincangkan sebanyak 7.526 kali per hari, “topi” diperbincangkan 5.295 kali per hari, dan “kemeja” 3.513 kali per hari.

“Kita tahu busana-busana ini tak pernah terlepas dari keseharian kita. Dengan frekuensi perbincangan yang tak kalah banyak, bisa dibilang jilbab juga sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia,” imbuh Nirasma.

Hanya saja, lebih lanjut PR mendapati media-media internasional masih cenderung belum memersepsikan Indonesia sebagai negara yang perlu diperhitungkan dalam kancah busana muslim global.

Kalaupun disinggung oleh media-media mancanegara dalam berbagai artikel tentang industri busana muslim, Indonesia dipandang baru sebatas salah satu pasar potensial.

“Ajang-ajang busana muslim yang kerap menjadi buah bibir adalah ajang-ajang di Barat, Arab, atau terkadang India. Nama-nama desainer maupun brand yang dikenal pun berasal dari ketiga wilayah ini,” urainya.

Menariknya, di samping merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar dan PDB tertinggi di antara negara-negara mayoritas muslim, Indonesia juga menunjukkan antusiasme yang jauh lebih tinggi terhadap busana muslim dibanding negara-negara lain.

Dari total pencarian “Muslim fashion” di Google, 77%-nya ternyata berasal dari Indonesia. Kemudian, 16%-nya dari Malaysia, dan 2% dari Inggris serta India.

Belakangan media internasional memang mulai marak mengangkat potensi industri busana muslim dunia.

Potensi ini dianggap sebagai kesempatan di tengah lesunya perekonomian Barat, kian meningkatnya populasi muslim global, dan fakta bahwa sebagian besar populasi muslim berada pada usia produktif. Ditaksir bahwa kini nilai industri ini secara global mencapai $96 miliar.

Potensi menjanjikan Indonesia ini bahkan tak tertangkap oleh analis-analis luar. Sebagian besar pemerhati industri busana muslim dalam artikel-artikelnya selalu ramai mendiskusikan pasar Eropa, Amerika Serikat, atau Timur Tengah.

Menjamurnya gerai-gerai jilbab di Indonesia memperlihatkan kalangan wirausaha tanah air sudah berhasil memanfaatkan pasar domestik yang menjanjikan ini. Namun disayangkan, menurut Nirasma, apabila kita berhenti hanya pada titik ini.

“Indonesia punya semuanya. Punya pasar, bahan baku, pabrik, desainer, pemodal. Kekurangannya hanya jalur untuk go international. Para pelaku industri tak bisa melakukan ini sendirian. Pemerintah harus turut membantu agar visi Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia tidak hanya menjadi retorika semata,” pungkasnya. (jaz/ahay).