Nasional

Mbah Wahab, Peletak Kesadaran Nasionalisme di Pesantren

Minggu, 26 Januari 2014 20:40 wib

...
KH Abdul Wahab Hasbullah (kanan) bersama KH Bisyri Syansuri, dalam sebuah kesempatan (santrinews.com/dok)

Surabaya – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur, Ainul Yakin mengatakan, KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) adalah salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang mula-mula menanamkan kesadaran kolektif di kalangan pesantren dalam melawan penjajah.

Hal itu disampaikan Ainul Yakin saat menjadi pembicara di acara dialog interaktif oleh Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) Jawa Timur, Ahad sore, 26 Januari 2014 di Wisma Bahagia Surabaya.

Cak Nico – panggilan akrab dia, menjelaskan, saat Indonesia dijajah selama tiga setengah abad sebenarnya bukan tidak ada perlawanan, melainkan belum ada kesadaran kolektif yang terbangun di masyarakat. “Saat itu perlawanan muncul secara sporadis dan bersifat lokal,” jelasnya. Sehingga, lanjut dia, kekuatan perlawanan tidak begitu dahsyat untuk memukul mundur penjajah secara keseluruhan.

“Nasionalisme itu terkait dengan kesadaran kolektif. Kesadaran untuk merdeka, melawan penjajah, berdaulat, mandiri, dalam naungan satu negara dan bangsa,” katanya di hadapan seratus peserta lebih.

Menurut Cak Nico, nasionalisme, kesadaran penyatuan gerakan perlawanan terhadap penjajah, baru muncul pada awal abad ke – 19 yang dimulai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo dan disusul Syarikat Islam (SI). Sejak itu, bermunculan organisasi berbasis agama, termasuk NU.

“Nah, NU sendiri sebenarnya diawali oleh berdirinya anak-anak mudanya. Dan Mbah Wahab (KH Abdul Wahab Hasbullah) yang memulai kesadaran kolektif di kalangan pesantren yang kemudian berdiri NU,” tandas pria yang saat ini tercatat sebagai calon DPD RI dari daerah pemilihan Jatim.

Pada 1955, banyak pemuda NU membentuk gerakan organisatoris melalui jalur partai politik. “Yang paling banyak sayap-sayap organisasinya saat itu PKI dan NU,” ujarnya. Kala itu NU menjadi partai politik.

Mantan Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur ini menegaskan, saat ini Indonesia sejatinya hanya merdeka secara teritori wilayah. “Yang kita serang sekarang bukan lagi teritori, tapi budaya, ekonomi, dan lain-lain dikuasai. Indonesia sudah terkontaminasi oleh asing,” tegasnya.

Pria kelahiran Jember ini menambahkan, sekarang nasioanalisme masih dalam pencarian bentuk. Pemerintah masih belum berbuat sesuai harapan. “Harapan kita adalah organisasi-organisasi sayap kepemudaan, termasuk organisasi kepemudaan di parpol,” tandasnya.

Tentu, kata dia, harus ada standar-standar ideal pada gerakan sayap-sayap pemuda Islam. “Sayap pemuda di partai sejak dulu adalah palang pintu nasionalisme,” katanya. “Nasioanalisme bisa dimulai dari pemilu 2014 ini karena pemilu sekarang sudah transaksional. Di sini Gemasaba harus memainkan peran,” imbuhnya.

Selain Ainul Yakin, tampir sebagai pembicara dalam dialog bertema “Menakar Nasionalisme Pemuda Islam Melalui Kancah Pemilu 2014” ini adalah Suyitno, dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.

Suyitno menegaskan, salah satu medan perjuangan pemuda saat ini adalah menguasai teknologi informasi. “Itu cara lain untuk melakukan gerakan-gerakan perubahan yang penting juga dilakukan oleh pemuda Islam,” tegasnya. (ahay)