Dirosah

Propaganda Hoax dan (Krisis) Budaya Literasi

Sabtu, 11 Februari 2017 11:11 wib

...

Oleh: Mushafi Miftah

Indonesia, dewasa ini tengah dilanda wabah informasi hoax. Salah satu contohnya adalah pemberitaan tentang Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj sebagai makelar penjualan tanah di Malang oleh media Harian Bangsa dan Bangsa Online beberapa bulan yang lalu.

Kemudian pemberitaan tentang Presiden Joko Widodo sebagai anak PKI dan pemberitaan kebangkitan-kebangkitan PKI, dan masih banyak informasi-informasi hoax lainnya yang berbau provokasi dan SARA. Momentum politik di DKI Jakarta seakan menjadi momentum menyebarnya berita hoax.

Adanya informasi-informasi hoax ini,menyebabkan nilai-nilai jurnalistik yang seharusnya menjadi media edukasi mulai terkikis seiring perkembangan teknologi dan media sosial (medsos).

Media sosial yang seharusnya menjadi sarana untuk menyerap informasi positif yang mencerdaskan telah banyak didistorsi oleh kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab, dengan menjadikanya sebagai ruang untuk doktrinasi dan menebar kebencian. Tak jarang, informasi yang muncul di media sosial adalah informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya.

Akibat dari maraknya informasi hoax tersebut, sering terjadi hujat menghujat dan caci mencaci antar sesama anak bangsa. Nilai-nilai etik dan moralitas terus terkikis. Adat ketimuran yang kental dengan sikap saling menghormati dan menghargai, yang muda menghormati yang tua, dan yang tua mengayomi yang muda terus terkikis dan tidak lagi menjadi karakter bangsa ini. Sikap-sikap intoleran terus mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini.

Sebagai media informasi, media massa sebenarnya memiliki fungsi memberikan informasi dan edukasi pada publik dan masyarakat. Banyaknya informasi hoax yang lahir dari media massa, mengaburkan nilai mulia dari media tersebut.

Secara tidak langsung ia telah meruntuhkan nilai-nilai jurnalistik dan dunia kewartawanan. Padahal dalam Undang-Undang No.40 Tahun 1999 Pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa, pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

Artinya, sebagai salah satu pilar demokrasi, media massa memiliki kewajiban untuk memberikan pencerahan pengetahuan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat lebih cerdas dan melek informasi.

Namun demikian, merebaknya wabah informasi hoax dewasa ini, telah mencoreng kemuliaan fungsi dari media tersebut.

Harus diakui bahwa kehadiran media massa terutama media online dewasa ini telah menciptakan keresahan masyarakat. Publik cenderung kesulitan membedakan media online yang memiliki krediblitas dan payung hukum jelas dan yang tidak. Karena kehadiran media online di media sosial begitu merayap.

Akibatnya para pengguna media sosial dengan mudah meng share berita-berita yang muncul tanpa melakukan kroscek dan filter apakah informasi yang diterima benar atau tidak. Dalam situasi yang demikian inilah maka anak bangsa akan mudah terjangkit wabah informasi hoax.

Propaganda Hoax
Harus diakui bahwa apapun bentuknya, informasi adalah “˜teks’ yang mengandung kompleksitas unsur nilai (kepentingan). Sebagai teks, informasi mempunyai fungsi representatif””mewakili hal-hal yang tersurat dan tersirat.

Nilai ideologis sangat inheren dengan keberadaan sebuah informasi, meski dalam praktiknya konsumen informasi cenderung tidak menyadarinya. Dalam ketidak sadaran inilah sebenarnya “˜kuasa’ ideologi, melalui informasi bekerja.

Setiap informasi yang hadir pada ruang publik sebenarnya memiliki nilai-nilai ideologis yang senafas dengan kepentingan subjeknya. Dari sini kita akan mengerti, meminjam istilah Norman Fairclough, bahwa merebaknya wabah informasi hoax sebenarnya ada propaganda tertentu yang dilakukan oleh aktor-aktor yang ada di balik lahirnya teks informasi tersebut.

Melalui struktur bahasa yang rapi, mereka akan mudah mempropagandakan keyakinan dan pemahaman pada publik. Karena bahasa dalam filsafat linguistik adalah medan pertarungan berbagai kelompok dan kelas sosial yang berusaha menanamkan keyakinan dan pemahaman pada publik.

Bahasa dan ideologi bertemu pada pemakaian bahasa dan materialisasi bahasa dan ideologi. Keduanya, kata yang digunakan dan makna dari kata-kata menunjukkan posisi seseorang dalam kelas tertentu. Pengetahuan-pengetahuan yang disampaikan melalui bingkai media massa menegasikan bahwa pengetahuan adalah kekuatan (knowledge is power).

Media sebagai alat komunikasi paling efektif dalam menanamkan keyakinan pada publik. Ketika keyakinan ini tertanam rapi pada pembaca, maka selanjutnya adalah mewujudkan kepentingan ideologis atau politisnya.

Perkuat Budaya Literasi
Kalau ditinjau dari aspek sosiologis, informasi adalah bagian dari praktik sosial. Sebagai praktik sosial, informasi memiliki hubungan dialektis praktis dengan praktik-praktik politik dan ideologi. Artinya, kehadiran informasi hoax ini sebenarnya memiliki relasi dalam situasi, institusi, dan kelas sosial tertentu.

Di sinilah pentingnya kecerdasan dalam membaca informasi. Kita perlu melakukan pembongkaran secara kritis terhadap kandungan-kandungan ideologi dan politis yang menjadi kekuatan dominan dalam kehadiran informasi hoax.

Jika ini dilakukan, maka kita akan bisa memilah dan memilih berita-berita atau informasi mana yang harus dibaca. Sebab, setiap media informasi bekerja sesuai dengan relasi ideologi politik medianya masing-masing.

Karena itu, menyikapi wabah informasi hoax tidak cukup hanya melalui pendekatan yuridis formal atau hukum dan perundang-undangan, tapi harus ditopang dengan penguatan budaya literasi.

Pengamatan saya, beberapa tahun terakhir ini, bangsa indonesia mengalami krisis membaca. Krisis membaca ini tidak hanya terjadi pada masyarakat umum, dalam dunia pendidikan pun juga mengalami hal yang sama.

Pemandangan pelajar membaca yang dahulu mewarnai lembaga-lembaga pendidikan kini mengalami kegersangan. Akibat minimnya wawasan dan pengetahuan, maka akan mudah terjangkit wabah hoax yang mengandung unsur hegemoni dan kepentingan politik tertentu.

Dalam konteks itulah, budaya literasi di Indonesia perlu dilestarikan, dan dimulai dari dunia pendidikan. Hal ini dalam rangka untuk menyelematkan anak bangsa dari wabah hoax.

Sebab, jika wabah hoax ini dibiarkan bukan tidak mungkin sikap-sikap intoleran akan terus berkembang di Indonesia karena terprovokasi dengan berita-berita bohong. Wallahu a’lam. (*)

Mushafi Miftah, Pegiat Pada Comonity of Crtical Social Research (Comics) dan Dosen Tetap IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo.