Puisi

Haiku Bulan Mati

Minggu, 24 November 2013 09:35 wib

KATA sembunyi
cahya pergi
menepi menunggu sepi

Denpasar, 2013

Haiku Bulan Purnama

Malam benderang
mega-mega membayang
mimpi menggenang.
Jogjakarta, 2013

Sebuah Kedai Kopi

Dini Hari
Kita adalah dua cangkir kesepianbutir-butir ampas kering kesedihan

Kau hening menatap jalan
Lampu-lampu perlahan padam

Aku dalam kantuk yang dipaksa jaga
Luka di bibir, retak-retak yang rawan

Kita bermuasal dari sentuhan lembut jemari
Dilahirkan riuh bara tungku api dan keretak kayu hangus
Apa yang lebih sunyi dari ini
Ketika embun masih terlalu dini

Kembalikan aku pada api, bisikku
Dan kau menunduk nyeri.
Denpasar, 2013.

Komang Ira Puspitaningsih, relawan Blood for Others regional Jogja, yaitu komunitas pendonor darah sukarela bagi anak-anak dengan penyakit kanker (follow twitter @bloodforothers untuk mengikuti informasi tentang donor darah). Konsultan kesehatan dan kecantikan. Sedang memulai usaha di bidang kuliner. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit berjudul, “Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu” (Ning Publishing, 2012).