Tarikh

Sel-Sel NII (6): Pesantren Ngruki, Afiliasi dan Jaringannya

Rabu, 08 Desember 2021 07:30 wib

...

Namanya Pesantren Al-Mu’min. Didirikan pada 1972 oleh enam orang: Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Baraja’, Yoyok Rosywadi, Abdul Qohar Daeng Matase, dan Hasan Basri. Lokasinya di dukuh Ngruki, kelurahan Cemani, Grogol, Sukoharjo.

Menurut Fuaduddin (2017), ada tiga latar belakang eksponen utama Al-Mukmin: alumni Gontor, alumni Persis Bangil, dan Al-Irsyad. Ba’asyir, Baraja, Farid Ma’ruf, Yoyo Ruswandi, Aris Raharjo, dan Wahyudin adalah alumni Gontor. Sungkar, Baraja, dan Ba’ayir berlatar belakang Al-Irsyad, organisasi keturunan Arab non-habaib. Ahmad Husnan, Muhammad Ilyas, dan Suwardi adalah alumni Pesantren A Hasan Bangil.

Tali simpul dari ketiga jaringan ini adalah DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). Sungkar dan Ba’asyir direkrut M. Natsir menjadi pimpinan DDII Surakarta pada 1970an. Ketiga alumni Bangil itu, sebelum di Ngruki, adalah aktivis DDII.

Pesantren Ngruki identik dengan Sungkar dan Ba’asyir. Keduanya kabur ke Malaysia setelah diburu aparat karena menolak asas tunggal Pancasila. Baraja tidak ikut pergi ke Malaysia. Bersama dengan Danu Muhammad Hasan, dia adalah pentolan Komando Jihad. Keluar masuk bui selama 20 tahun, Baraja bebas pada 2000. Dia mendirikan Khilafatul Muslimin pada 1997. Pusatnya di Teluk Betung, Bandar Lampung. Dia mengangkat dirinya sebagai Khalifah atau Amirul Mukminin.

Di kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, anak buah Baraja mendirikan Kampung Khilafah seluas 5 hektar. Mereka juga bersiap membangun Rumah Sakit. Dengan organisasi barunya, Baraja menolak cara kekerasan. Di sini dia bersimpang jalan dengan dua koleganya, Sungkar dan Ba’asyir, pendiri Jamaah Islamiyah (JI). JI membekali kader-kadernya dengan kemampuan askariah (militer).

Pesantren Ngruki mengajarkan doktrin pemurnian. Dalam fikih, mereka tidak mau terikat madzhab. Dalam akidah, mereka menganut paham pemurnian tauhid dan menolak konsep tauhid Asy’ari-Maturidi. Mereka membagi tauhid menjadi tiga: ulûhiyah, rubûbiyah, dan asmâ’ wa al-sifât. Konsep lainnya adalah al-wala’ wa al-bara’: cinta kepada sunnah dan membenci bid’ah. Mereka menolak tarekat dan menganggapnya sebagai bid’ah.

Kitab fikih yang digunakan adalah Minhâjul Muslim karya Abu Bakar Jabir al-Jazâiri. Ia termasuk ulama salafi yang tidak mau terikat mazhab. Dalam tauhid, mereka menggunakan kitab Fathul Madjîd/kitab Al-Tauhîd karya Muhammad bin Abdul Wahhab dan kitab tauhid karya Shalih bin Fauzan. Di bidang tafsir, mereka menggunakan Tafsîr Ibn Katsîr.

Dalam politik, mereka mengajarkan kitab Al-Islâm karya Said Hawwa. Dia tokoh militan IM yang menolak nasionalisme dan semua sistem selain Islam. Doktrin jihad ditanamkan melalui jargon ‘Isy kariman aw mut syahidan’ (hidup mulia atau mati syahid). Pesantren Ngruki menggemakan jargon Iman, Hijrah, dan Jihad. Ini persis seperti doktrin yang dikembangkan Kartosoewirjo.

Al-Mu’min Ngruki heboh setelah para alumninya terlibat terorisme. Alumni Ngruki adalah salah satu sumber rekrutmen JI. Sumber lainnya adalah alumni Pesantren Lukmanul Hakim, Johor, dan Pesantren Lukmanul Hakim, Kelantan, Malaysia. Dua pesantren ini dibentuk Sungkar dan Ba’asyir dalam pelariannya ke negeri Jiran.

Sumber lainnya adalah para TKI ilegal di Malaysia. Dari Malaysia, mereka mengirim kader-kadernya ke Afghanistan. Setelah Reformasi, terjadi sejumlah teror bom. Pelakunya alumni Ngruki dan Afghanistan. Mereka, antara lain, Indrawarman alias Toni Togar yang terlibat bom Natal tahun 2000. Nama lainnya Ali Ghufron, Ali Amrozi, dan Ali Imron. Ketiganya bersaudara, dijuluki Trio Bomber Tenggulun, terlibat bom Bali.

Nama lainnya Farhan Mujahidin, Muchsin Tsani, dan Firmansyah. Ketiganya jebolan Ngruki 2005-2008. Ada juga Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan alias Mubarok, terlibat bom Bali dan divonis seumur hidup.

Nama lainnya yang tidak kalah kondang adalah Fathurrohman Al Ghozi, alumnus Ngruki 1986, yang ditembak mati di Filipina pada 2003. Ada juga Zulkarnaen, dedengkot JI, yang baru ditangkap aparat.

Nama lainnya: Asmar Latin Sani, terlibat bom JW Marriot 2003, dan Hutomo Pamungkas alias Mubarok, terlibat bom Bali I. Aris Munandar, pentolan KOMPAK (Komite Penanggulangan Krisis), terlibat kerusuhan di Ambon dan Poso. Dia alumni Ngruki dan Afghanistan angkatan IX/1990. Namanya sempat masuk daftar teroris versi PBB atas usulan AS. Kini dia ketua DDII Jawa Tengah.

Ngruki mungkin mengajarkan cara pandang yang radikal tentang Islam, tetapi tidak lalu semuanya jadi teroris. Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al Mukmin (IKAPIM) Ngruki kumpul tahun 2006. Mereka minta maaf jika rekan-rekannya melakukan aksi terorisme. Mereka menyebutnya sebagai tindakan kriminal. (*)

M Kholid Syeirazi, Sekretaris Umum PP ISNU.