Wawancara

KH Maruf Amin: MUI Tak Berpolitik, Ahok Yang Masuk Ranah MUI

Jum'at, 21 Oktober 2016 01:49 wib

...
Ketua Umum MUI, KH Ma'ruf Amin (santrinews.com/ist)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersikap netral di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. MUI tidak pernah terlibat politik kekuasaan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin menanggapi tudingan instansinya terlibat politik praktis. Dia menyatakan, MUI menanggapi polemik surat Al Maidah hanya untuk memenuhi tanggungjawab terhadap umat.

MUI tidak ada hubungan­nya dengan berbagai masalah hiruk pikuk politik. Sikap MUI ini semata-mata karena menjadi bagian tugas untuk membimbing umat dan menjaga negara,” ujarnya.

Menurut Kiai Ma’ruf, pihak yang beranggapan MUI berpolitik justru berpikir terbalik. Bukan MUI yang berpolitik, melainkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang masuk ke ranah agama.

“Surat Al Maidah merupakan masalah agama. Jadi sebetulnya Pak Ahok yang masuk ke ranah agama duluan. Bukannya MUI yang berpolitik praktis,” tuturnya.

Berikut wawancara selengkapnya:

Jadi anda mau mengatakan, MUI sepenuhnya bersikap netral?
Iya. Dalam menentukan sikap, MUI tidak mendapat intervensi dari pihak mana pun. Masyarakat itu kan umat. MUI tidak ada uru­san dengan politik atau pilkada di mana pun, termasuk di DKI Jakarta.

Tapi kan bisa saja anggota MUI memiliki pandangan politik tertentu, ketika memberikan masukan untuk sikap yang diambil?
Memang. MUI tidak melarang anggotanya melakukan aktivitas demokrasi dengan mendukung calon tertentu. Anggota MUI itu memiliki latar belakang bermacam-macam, termasuk sikap politik.

Namun jika anggota MUI mengambil sikap politik ter­tentu, maka itu adalah tindakan pribadi, dan bukan sikap organ­isasi MUI. Jadi bila terdapat pernyataan dari pengurus MUI di luar konteks pernyataan resmi yang dikeluarkan, itu merupakan pendapat pribadi.

Situasi politik kan lagi panas. Kenapa MUI ikut-ikutan membuat pernyataan?
Bukannya ikut-ikutan. Jadi setelah Pak Ahok mengeluarkan pernyataan soal Al Maidah, masyarakat ribut, geger, dan banyak yang meminta kami mengeluarkan pernyataan (sikap). Mereka menganggap itu ranah kami. Maka kemudian kami bersikap.

Tapi sikap MUI ini kan jadi bisa dimanfaatkan oleh lawan politik Ahok?
Soal itu kami tidak bisa apa-apa. Karena kami ini kan berangkatnya dari masalah agama, bukan politik. Kami berharap dan berusaha supaya ke depan tidak ada lagi yang melecehkan agama. Kami tidak memikirkan dampak politiknya, karena MUI memang tidak ada urusannya.

Meski akhirnya bisa dipolitisasi, dan membuat polemik ini tidak selesai?
Kami tidak bisa berbuat banyak terkait hal itu. Karena itu kan hak. Kami tidak bisa melarang masyarakat untuk berdemonstrasi misalnya. Kami hanya bisa menghimbau.

Dalam sikapnya, di satu sisi MUI kan menyatakan memaafkan Ahok. Tapi di sisi lain meminta agar penegak hukum bertindak. Maksudnya apa sih?
Begini, apa yang dilakukan Pak Ahok ini kan masalah agama. Persoalan itu sudah menyangkut kepentingan publik, yang perlu dituntaskan. Supaya di masa mendatang tidak ada lagi pihak yang menjelekkan agama. Nah saluran yang kami anggap tepat itu ya melalui proses hukum.

Dan karena Pak Ahok meminta maaf, maka secara organisasi MUI sudah memaafkan. Tapi proses hukumnya harus tetap berjalan, hingga tuntas. Ini demi kepentingan masyarakat, bukan MUI. Karena MUI sudah tidak ada hubungannya.

Pandangan Anda kepada pihak yang menjatuhkan lawan politik dengan memanfaatkan (mempolitisasi) ayat suci bagaimana?
Menjatuhkan di sini itu seperti apa. Kalau seorang kandidat muslim hanya sekadar mengutip ayat, tidak apa-apa. Lain halnya jika kemudian dia sampai menghina, mengucapkan kata-kata kasar dan tak pantas. Meskipun lawannya itu non muslim, dia tetap salah.

Ini menggunakan Al Qur’an hanya untuk kepentingan politik loh?
Begini, muslim itu memang harus berpedoman kepada Al Qur’an. Di seluruh hidupnya, dia harus berpedoman kepada Al Qur’an. Begitu juga dengan berpolitik.

Jadi memang tidak ada salahnya juga seorang kandidat muslim mengutip ayat. Cuma saya tegaskan, jangan pakai sampai menghina, mengucapkan kata-kata kasar dan tak pantas. Itu tetap saja salah. Dia harus menggunakan jalur yang tepat. Kalau dianggap menistakan agama, ya laporkan saja kepada polisi. (*)

Sumber: Rakyak Merdeka