Virus Corona

Takut Hanya Kepada Allah, Jangan Takut pada Corona

Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menunjukkan hasil rapid test pendektesian Covid-19 kepada orang dalam pengawasan (ODP) di Bogor, Jawa Barat, Ahad, 22 Maret 2020 (santrinews.com/antara)

Semalam gabungan takmir masjid di Kecamatan Lakarsantri Surabaya berkumpul untuk membuat kesepahaman terkait bulan Ramadhan bila keadaan memang masih seperti saat ini –pandemi Corona, misalnya dari PBNU, MUI dan Kemenag telah menganjurkan shalat Tarawih dan Hari Raya di rumah, shalat bersama keluarga di rumah, sambil menjaga jarak dalam shaf dan sebagainya. Mereka yang hadir pakai masker semua dan mencuci tangan dengan perlengkapan yang diberikan oleh Puskesmas setempat.

Karena itulah mereka mengundang dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya untuk menjelaskan apa itu Corona, bagaimana penyebarannya, cara mengatasinya, pola hidup sehat dan seterusnya. Sementara saya diminta menjelaskan dalil-dalilnya.

Karena yang menjelaskan dari pihak Dinas Kesehatan terlebih dahulu maka saya bisa mendengarkan dan menyesuaikan dengan dalilnya. Misalnya soal social distancing atau menjaga jarak 1 sampai 2 meter agar terhindar dari penularan virus, supaya jamaah lebih yakin maka saya sampaikan sebuah riwayat hadis dalam kitab Kanz Al-Ummal yang mencantumkan riwayat:

“ ﻛﻠﻢ اﻟﻤﺠﺬﻭﻡ ﻭﺑﻴﻨﻚ ﻭﺑﻴﻨﻪ ﻗﺪﺭ ﺭﻣﺢ ﺃﻭ ﺭﻣﺤﻴﻦ”. اﺑﻦ اﻟﺴﻨﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ اﻟﻄﺐ – ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺃﻭﻓﻰ

“Berbicaralah dengan orang yang terkena penyakit kusta dengan jarak 1 atau 2 anak panah” (HR Ibnu Sunni dan Abu Nuaim dalam Ath-Thib dari Abdullah bin Abi Aufa).

Dahulu di zaman Nabi pernah ada penyakit kusta, dalam beberapa hal para Sahabat yang lain menjaga jarak agar tidak tertular. Sahabat tersebut adalah:

وقال ابن السكن: لم يكن من أصحابه أحد مجذوما غير معيقيب.

“Ibnu As-Sakan berkata: Tidak ada diantara Sahabat Nabi yang terkena penyakit kusta selain Muaiqib”.

Awal-awal merebaknya Virus Corona atau Covid-19 kita sering mendengar kata-kata “Jangan takut pada Corona. Takut hanya kepada Allah”. Begini kawan. Dulu di zaman Nabi sudah ada penyakit kusta dan Nabi shallallâhu alaihi wasallam bersabda:

ﻭَﻓِﺮَّ ﻣِﻦَ اﻟﻤﺠﺬﻭﻡ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻔِﺮُّ ﻣِﻦَ اﻷَﺳَﺪِ

“Menghindarlah dari orang yang terkena penyakit kusta seperti engkau lari dari harimau” (HR Bukhari)

Disini Nabi menyamakan kita menghindar dari penyakit kusta seperti menghindar dari harimau. Apa berarti tidak takut kepada Allah? Bukan begitu, kita tetap takut kepada Allah tapi secara ikhtiar kita juga wajib berusaha untuk menyelamatkan diri.

Kalau Anda ketemu harimau di hutan akan lari menyelamatkan diri atau akan berkata: “Hanya Takut Kepada Allah”? Demikian pula orang yang menghindar dari virus Corona ini bukan berarti tidak takut kepada Allah. Understand, Vijay? (*)

Ustaz Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.

Terkait

SYARIAH Lainnya

SantriNews Network