Buku

Kisah Hikmah & Kearifan: Bukan Tak Terlihat, Melainkan Tak Dirasa

Kamis, 03 Desember 2020 22:30 wib

...

Tak sedikit manusia terperangkap-terpenjara oleh simbol-simbol. Bungkus luar.

Buku yang ada di depan pembaca kali ini adalah kumpulan hikmah sebuah perjalanan untuk menapaki kehidupan. Cerita-cerita hikmah dari ragam tokoh yang ada di dalam buku ini sangat bervariatif. Mulai perihal tasawuf, kecintaan dan olah rasa cipta rasa mulat sarira.

Posisi manusia adalah hamba, hamba yang mengabdi kepada Tuannya. Tuan yang memberi segala, baik dilihat, dipahami, pun dirasakan.

Ketika syariat cenderung menjadi sosok yang kaku ketika berhadapan dengan realita, justru tasawuf hadir menawarkan ragam keluwesan dalam mencinta. Walaupun menurut penulisnya dalam pengantarnya mengatakan “Pengenalan tasawuf melalui cara seperti ini semata, kadang justru berpotensi semakin mengendur dan menyempitkan tasawuf, yakni seiring kecenderungan formal ber“syariat” kita yang juga menguat.” (hal.vi). Artinya antara syariat dan tasawuf memiliki ruang dan dimensi tersendiri dalam memandang cinta kepada Tuhan.

Guru sejati adalah kesadaran yang menunjukkan diri untuk menjadi lebih baik, sadar dengan kondisi atau keadaan yang dimiliki. Kesadaran ini kadang muncul dari ragam dinamika. Proses jatuh dan bangun kembali adalah salah satu dinamika yang menyebabkan diri kita menuju pada kesadaran sejati.

Hal ini seperti yang dialami oleh Malik ketika mencari guru sejati. Malik tidak jarang melihat apa yang ada di depannya sebagai wujud dari sebuah kebenaran. Tanpa memandang lebih jauh ke depan. Sehingga banyak gerutu dan mengutuk dirinya sendiri ketika sebuah kemungkinan-kemungkinan terjadi dan tidak sesuai dengan apa yang ia alami.

Bahkan ketika ia mengutuk sang darwis yang mana ia adalah guru sejatinya. Tetapi Malik tertutup matanya, terhijab hatinya dengan penemuannya sendiri.

“Keberuntunganku memang kurang Syeikh setelah bersama denganmu. Bahkan aku tak bisa menangkap kemungkinan tersembunyi dalam pohon besar, sarang semut dan ikan, serta seluruhnya.” Lalu sang Guru berkata kepada Malik: “Anak muda, sekarang kamu bisa menyesap dan merasakan makna-makna pengalamanmu. Saya sebenarnya hanya seorang yang disuruh oleh guru tersembunyimu untuk membantumu.” (hal.9).

Dengan kata lain ada sebuah hal yang seharusnya dipahami dan dirasakan secara mendalam, namun kadang ego yang ada di dalam diri manusia lebih besar ketimbang keinginan untuk memahami dan mendalami apa yang terjadi bahkan menimpa dirinya.

Belajar Mengenali Diri
Mengenali diri sendiri adalah sebuah upaya untuk mengenali Pemilik akan diri. Artinya untuk mengenali Tuhannya, perlu mengenali dirinya sendiri. Tak sedikit yang keluar dari kebiasaannya, bahkan mengurangi kenyamanannya dengan berpuasa, dzikir di malam hari ketika umumnya seseorang terlelap (tirakat). Kadang juga ada yang perlu dihadapkan pada sebuah kejadian yang menimpa dirinya sehingga ia menyadari siapa sejatinya diri itu.

Hal ini seperti yang dipaparkan oleh penulis buku ini tentang Nabi Khidir dan Raja yang lalim. Dimana sang raja ingin sekali bertemu dengan Nabi Khidir, namun cara yang digunakan salah. Jika pada umumnya orang bertirakat, ia justru melakukan sayembara dengan menjanjikan emas dan uang yang ia miliki. Sehingga akhirnya ia merasa ditipu oleh salah seorang rakyatnya bahkan ia hampir memberi hukuman mati, namun seketika itu Nabi Khidir datang, “Khidir muncul dan menemui seseorang hanya ketika ia bisa mengambil manfaat dari pertemuan tersebut.”(hal.15).

Dalam hal ini untuk mngenali siapa dan bagaimana dirinya, perlu dinamika dan bisa jadi keluar dari kenyamanan yang sedang ia rasakan. Tasawuf lagi-lagi menjadi sebuah upaya untuk mengenali diri sendiri, sehingga paham bagaimana ia seharusnya berlaku. Karena untuk mencapai pengertian sankan paraning dumadi, perlu kedalaman cara berpikir (mulat sarira).

Belajar mengenali diri salah satu upayanya adalah dengan menerima kelemahan dan kelebihan yang disandangnya. Artinya bukan melulu ingin menjadi yang “paling” di antara yang terbaik. Tetapi mempelajari apa yang dimiliki dengan memandang sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Dengan kata lain bukan mengeluh dengan apa yang menjadi kekurangannya melainkan belajar untuk berterima kasih atas apa yang tentu lebih besar dari kekurangan yang diterimanya.

Hal ini digambarkan dengan seekor burung yang dibesarkan oleh eraman burung yang tidak mampu terbang, ia tidak diajari terbang oleh induk eramannya, tetapi ia punya sayap. Artinya ia hanya belum belajar lebih dalam lagi tentang dirinya, ia hanya melihat apa yang tampak dan sebatas bungkus luar. (hal.29).

Belajar Tak Menuntut
Di samping belajar mengenali diri, tasawuf juga ruang belajar untuk qana’ah (menerima dengan legawa). Artinya tidak banyak menuntut atas apa yang dikerjakan. Ibadah adalah dasar pengabdian manusia kepada Tuhannya. Hal ini adalah bentuk terima kasih atas segala Kasih dan Sayang-Nya. Namun kebanyakan dari manusia hanya berharap imbalan lebih di dunia pun mencari surga ketika kelak berada di akhirat.

Tidak sedikit yang menunaikan ibadah haji hanya mendapatkan terik dan panasnya padang pasir. Mengapa? Karena tidak sedikit yang hanya menjungjung kemampuannya bisa pergi ke Makkah, sebaliknya, ia menafikan bahwa ada kuasa Tuhan yang mengantarkannya sampai ke sana.

Apa yang kemudian diminta di Makkah diharapakan dikabulkan ketika ia pulang ke negara atau rumahnya masing-masing. Tidak jarang yang mengenyampingkan nilai dari ibadah tersebut lalu membalut dengan rasa mampu menunaikan ibadah. Artinya nilai ibadah itu menjadi pijakan kedua setelah rasa mampunya. Tentu hal ini hanya akan menjadikannya sia-sia. (hal.35).

Manusia kadang terpenjara oleh simbol-simbol yang tampak. Harapannya adalah mempertahankan ego atas keunggulannya. Tidak sedikit yang gagal mencapai potensi yang dimiliki manusia namun belum terungkap, hal ini terjadi karena manusia memiliki sifat seperti merak yang merasa mewakili sebuah keindahan bahkan cenderung membanggakan diri. Pun demikian manusia merasa paling menjaga warisan yang terpendam di dalam bumi seperti sifat yang dimiliki ular. (hal.95).

Artinya, alih-alih mendayagunakan potensi yang manusia miliki, namun malah tersibukkan untuk menyimbolkannya. Hal ini kerap kali terjadi dalam ruang-ruang komunikasi kehidupan. Jika disadari, justru yang menjadi pembatas dan memenjarakan manusia adalah keberadaan simbol akan kelebihan dan keutamaan, pun potensi yang ia miliki.

Dengan kata lain, tidak sedikit manusia yang justru terperangkap pada simbol-simbol akan dirinya. Mencari kesalahan dan kekurangan orang lain untuk menopang kelebihan yang dimilikinya. Tentu hal ini perlu menjadi koreksi dan diskusi dengan diri sendiri untuk menuju kesadaran dan kedalaman berpikir. [*]

Data Buku
Judul : Bukan Tersembunyi, Melainkan Tak Terlihat
Penulis : Irfan Afifi
Penerbit : Penerbit Omah Ilmu
Tahun Terbit : 2019
Peresensi : Ahmad Dahri, santri di Pesantren Luhur Bait Al Hikmah Kepanjen, dan Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang.