Cerpen

Hikayat Sebatang Pohon

Minggu, 10 November 2013 03:10 wib

Oleh: Enha Ahyar

Jang! Di belakang rumah kita, tidak ada lagi pohon karet daun lebar: tempat dulu kau bersembunyi dari Nek Sitoh yang mengejarmu dengan membawa parang buntung karatan, sebab kau memetik mentimun di kebunnya: di belakang rumah kita.

Cerita Mak beberapa bulan lalu lewat surat, yang dikirim bersama paketan getas kering atau kretek, begitu orang kampungmu menyebutnya.

***

Hari ini, untuk pertama kalinya kau pulang dari rantau (belajar di sebuah pesantren). Seperti dulu-tujuh tahun yang lalu, kau selalu masuk rumah melalui pintu belakang. Pintu belakang, sebenarnya kau tidak pernah menyebut istilah ini untuk pintu yang selalu kau gunakan untuk masuk ke dalam rumahmu itu. Entahlah, kau juga tidak tahu kapan istilah pintu belakang itu timbul, hingga hari ini kau masuk melalui pintu itu lagi.

Dan memang, sebenarnya rumahmu itu tidak ada depan, tidak ada belakang. Belakang itu depan, depan itu belakang. Sama saja.

Seperti dulu, setelah kau lelah bermain seharian bersama Manaf dan beberapa kawan yang lain: main pangkak biji karet, main anak tambi, main gasing, bahkan lelah karena dikejar Nek Sitoh, kau duduk di sebuah kursi yang terbuat dari akar kayu karet daun lebar. Kusri peninggalan Akek—menghadap ke sebatang pohon besar: pohon karet daun lebar.

***

Setiap hari, sepulang sekolah, kau dan kawan-kawanmu selalu berhenti di pohon itu sebelum pulang ke rumah masing-masing, sebelum Manaf di jemput ibunya dengan membawa kedik—duduk-duduk di jangkarnya yang serabutan.

Kau mengajak kawan-kawanmu menuliskan cita-cita masing-masing di secarik kertas kecil—kertas buram bekas ujian, lalu memasukannya dalam sebuah botol kecil (botol bekas minuman bersoda), terkadang botol city, minuman bersoda produk lokal, kemudian menggantungnya di ranting-ranting pohon karet daun lebar itu-seraya berteriak keras.

“Aku mau jadi polisi,” teriak seorang kawanmu.
“Aku jadi pemain bola terkenal.”
“Pilot.”
“Dokter,” tegas yang lain bersamaan.
“Aku mau jadi pelawak saja,” balas Manaf, seraya mereka tertawa terkekeh.

Kau tidak ingin menjadi apapun dan siapapun. Kau hanya ingin sebatang pohon karet daun lebar itu ada sampai berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun ke depan. Sejak itulah, pohon karet daun lebar itu disebut pohon harapan.

“Pohon harapan.”
“Aku ingin pohon ini abadi.”

***

Pohon karet daun lebar atau pohon harapan itu terletak seratus meter dari rumahmu: di belakang rumahmu. Kau dapat melihat daunnya yang lebar jatuh ditiup angin, dari tempat kau duduk ketika makan lempah darat bersama ayukmu. Daunnya lebar-seperti daun sukun, tapi tebal, hijau dan halus permukaannya. Jangkarnya yang serabutan terlihat indah: ada yang serupa orang rukuk atau sujud ketika sholat.

Pohon besar itu digunakan sebagai tempat buang hajat. Begitu cerita yang kau dengar dari Mat Dol. Kau percaya dengan cerita Mat Dol, sebab dulu-barangkali sebelum penjajah datang ke kampung ini, tidak ada yang punya wc-atau tempat sejenis untuk buang hajat. Pohon itulah sebagai inisiatif terbaik untuk buang hajat. “Juga tempat perlindungan para pahlawan ketika penjajah datang ke kampung ini.”

Di kemudian hari, orang-orang kampung, khususnya ibu-ibu suka membuang sampah keluarganya di pangkal pohon ini. Mereka lebih suka membuangnya di sini, daripada membuangnya di tempat lain (sungai) bisa menyebabkan banjir atau takut pada Bujang Antan.

Tidak heran, lambat laun pohon itu semakin subur. Kalian: kau dan kawan-kawanmu semakin senang bermain di situ—bermain petak umpat, gong ataupun main hantu-hantuan.

Suatu sore, setelah kau dan kawan-kawanmu menerima tanda kelulusan dari sekolah, kalian berkumpul di bawah pohon harapan-menyampaikan pesan dan kesan masing-masing selama sekolah. Dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Kalian bertukar cerita tentang rencana selanjutnya. Ada yang akan melanjutkan kuliah di pulau ini ataupun di luar pulau. Di Jawa, Sumatera, Kalimantan. Bahkan Manaf, akan ikut Bak-nya ke Mekah untuk umroh sebagai upah kelulusannya tahun ini. Tiga tahun berturut-turut Manaf tidak lulus, dan baru lulus tahun ini.

Kau sendiri tidak tahu. Mak-Bak mu menyerahkan semuanya kepadamu. Hingga akhirnya, kau memutuskan untuk belajar di sebuah pesantren di Madura. Kau merantau, Jang!

***

Kemudian hari, setelah kau dan kawan-kawanmu pergi—tidak ada lagi yang kau tahu. Kecuali sedikit kabar tentang datangnya orang-orang kota yang mengatasnamakan peneliti. Entahlah. Itu saja yang kau dengar dari Mak—lewat surat yang ia kirim beberapa bulan awal perantauanmu. Yah, begitulah Mak. Itulah hal yang sangat kau senangi dari Mak.

Lewat surat-surat yang ia tuliskan di atas kertas bekas—buku-bukumu ketika sekolah dasar dulu. Terbukti masih ada angka nol besar, goresan pena Pak Sibrun di belakang surat itu. Aha, kau ingat, itu nilai matematikamu, ketika belajar perkalian. Itulah alasan Mak mengatakan kau berbeda dengan Bak-mu. Bakmu ahli hitung. Ahli matematika, Jang.

Hingga kemudian hari, cerita Mak—orang-orang kota yang katanya peneliti itu adalah pengusaha yang ingin membuka pertambangan timah di Tipuak: tempat pohon harapan (pohon karet daun lebar)-mu menjulang tinggi. Brengsek.

***

Harus aku ceritakan juga, sebelum pohon harapan ini musnah; ditumbangi alat berat, yang kelas dua sekolah dasar dulu kau kenal dengan nama Boldozer. Entahlah, kau hanya dengar dari Pak Sibrun ketika mengajar mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Dan beberapa hari setelah itu, kau tahu tulisan itu dari Mad Tukel yang cerdas, tapi selalu tidak naik kelas. Setiap kelas, dia jalani dua tahun. Kelas satu dua tahun. Kelas dua dua tahun. Kelas tiga dua tahun. Begitulah seterusnya.

Tentang Mad Tukel yang selalu tidak naik kelas, belakangan kau tahu—tersebab ketertarikannya kepada seorang siswi di setiap tingkatan. Ya, ketertarikannya itu selalu berubah-ubah. Seperti jam yang selalu berputar. Seperti musim yang silih berganti—hingga kini musim penghujan: musim biru, kata Si Bungsu, adikmu yang jatuh dari tangga, dia merasa rembesan air hujan dari pentelasi rumahmu itu sudah menggenang serupa sumur, bahkan sungai yang mengalir—deras. Ya, dia nyebur. Dia ingin berenang.

Ketika kelas satu, Mad Tukel tertarik dengan Yan, putri sulung Wak Ilut. Seorang gadis cilik berambut hitam lurus, berbadan ramping—buah dadanya mulai menggunung. Ah, usianya ketika itu tujuh tahun. Memang Yan telat sekolah.

Meski begitu, perkembangan daya pikirnya sangat lamban, bahkan kemudian hari, kau temukan Yan berak di kelas. Sesuatu yang membuatmu geli. Selalu ingin tertawa. Namun, tidak bagi Mad Tukel. Kejadian itu menjadi daya tarik yang luarbiasa bagi Mad Tukel.

“Dengan begitu, Yan sudah menunjukkan kepada semua orang, dia seorang perempuan yang penyayang. Bertanggung jawab.” Kelakar Mad Tukel padamu ketika jam istirahat, setelah membersihkan kotoran Yan di kelas tentunya. Begitulah seterusnya, dia tertarik pada Wana, Sanot, Ipi, Nining, Miyak Hor dan banyak lagi yang lain.

Aha, pohon harapan.

Orang-orang kota, yang selalu mengatasnamakan peneliti itu sibuk berunding dengan semua pihak: lurah, aparat kampung dan semua warga Tipuak. Sebagian warga setuju. Sebagian yang lain tidak. Begitulah pro- kontra tentang pertambangan (timah) itu. Dan sampailah kepada suatu hari. Hari di mana pertambangan itu dimulai.

Jang, orang akan memulai menambang Timah dari belakang rumah kita.

Tulis Mak di paragrap yang lain. Kalimat itu membuat dadamu sesak, sekaligus ingin memberontak: teriak sekeras-kerasnya, meneriaki segala kecongkakan dan keserakahan manusia. Kau mendengus kepayahan. Itulah awal musnahnya pohon harapan. Tumbangnya cita-cita.

Begitulah. Pertambangan terus berjalan. Seiring dengan itu, pro-kontra warga pun mewarnai pertambangan itu. Warga yang setuju mulai gusar dengan sikap dan tindakan para pengusaha, yang awalnya akan memberikan lima puluh persen hasil pertambangan itu untuk warga, untuk pembangunan Tipuak.

Warga yang tidak setuju dari awal pun semakin menjadi-jadi. Sumpah serapah mengalir seperti hujan. Berdesakan di setiap lorong kampung. Bahkan, warga mengancam akan bertindak tegas. Keras. Apabila pertambangan itu tidak juga menguntungkan warga dan kampung Tipuak.

Hari-hari berikutnya semakin genting. Pagi-pagi sekali—sarter terdengar kabar seorang penjaga sakan (anak buah pengusaha pertambangan) itu meninggal dengan tubuh yang berlumur darah. Leher hampir putus, dan kedua tangannya terpisah dari tubuhnya, tergantung di sisi kanan kiri sakan.

Darah mengalir dari sakan, berbaur dengan kecipak kelabu air kolong. Amis.

***

Inilah kenyataannya. Di belakang rumahmu, sudah tidak ada lagi pohon harapan itu. Pohon karet daun lebar. Hari ini, tujuh tahun kemudian, untuk pertama kalinya kau pulang dari rantau (belajar di sebuah pesantren).

Seperti dulu, kau masuk rumah dari pintu belakang, kemudian duduk di kursi yang terbuat dari akar kayu karet daun lebar, peninggalan Akek menghadap ke sebuah lubang yang menganga—lapar. Lubang yang tak lelah menyembur amis darah. Getir harap.

Pohon harapan itu kini hanya tinggal bayangan dalam kecipak kelabu air kolong juga amis darah. Ah… (*)

Yogjakarta, 2012-2013

Catatan:
1]. Main pangkak biji karet: permainan adu biji karet-dengan melakukan suit terlebih dahulu. Bagi yang kalah meletakkan biji karetnya di bawah biji karet yang menang. Nah, siapa yang biji karetnya pecah, dialah yang kalah.
2]. Main anak tambi: permainan tradisional anak-anak di Bangka-dengan cara bergelantungan di atas pohon Tambi.
3]. Lempah Darat: salah satu masakan khas Bangka.
4]. Kolong: Lubang menyerupai danau atau sungai. Bekas penambangan Timah.

Enha Ahyar, lahir di Paya Benua, Pulau Bangka. Kini tinggal di Yogjakarta.