Rio, Hikayat Lukman dan Keledainya

Oleh: M Khusen Yusuf

HASRAT kami, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), untuk membantu Rio tak ubahnya hikayat Lukman al-Hakim, anak laki-lakinya, dan keledai tumpangannya.

Kisah Lukman tersebut kira-kira begini:
Pada suatu hari Lukman dan anaknya pergi ke pasar dengan menunggangi seekor keledai. Awalnya Lukman-lah yang menaiki keledai tersebut, sedangkan sang anak mengikuti di belakangnya. Dalam perjalanan, orang-orang yang melihat Lukman berkomentar sinis: “Lihatlah orang tua itu. Betapa dia tidak kasihan kepada anaknya. Dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kali.”

Mendengar gunjingan tersebut Lukman lantas turun dan menyuruh anaknya naik. Apa komentar orang? “Helloww … Lihatlah anak yang kurang ajar itu. Orang tua disuruh berjalan kaki, sedangkan dia begitu enaknya naik keledai.”

Bereaksi terhadap rasanrasan itu, Lukman pun naik ke atas punggung keledai. Bersama anaknya, mereka melanjutkan perjalanan dengan menunggangi keledai yang jelas lebih kecil dibanding kuda.

Apa yang dilakukan Lukman dan anaknya itu pun tidak lepas dari gunjingan orang. “Coba amati dua orang itu. Keledai sekecil itu ditunggangi berdua. Apa tidak kasihan?”

Lukman dan anaknya kemudian turun. Bingung. Akhirnya keledai tidak lagi ditunggangi, hanya dituntun. Yang demikian itu pun masih dikomentari orang. “Hahahaha… betapa bodohnya kedua orang itu. Punya keledai kok tidak ditunggangi.”

Mungkin tidak tepat benar menganalogikan lika-liku perjalanan Rio menuju F1 dengan kisah Lukman. Tapi, dalam beberapa hal ada kemiripan.

Pada fase awal, banyak pihak yang mendorong agar Rio dibantu maksimal melalui skema dukungan pemerintah, BUMN, dan swasta. Sebagian pihak ada yang tulus membantu Rio, berkomunikasi dengan kami di Kemenpora, dll. Sebagian ada yang nenteng-nenteng Rio, entah tulus entah hanya untuk numpang manggung.

“Wahai negara, wahai pemerintah, heeiii… Menpora, ini ada anak bangsa, punya potensi besar, berpeluang menjadi pemuda pertama yang menjadi pembalap F1. Negara harus hadir, Anda harus bantu! Jangan abai!”

Dalam obrolan warung kopi online bahkan ada saja komentar sinis.“Betapa tidak tahu malunya jika Anda tidak membantu Rio. Jangan urus bola saja, ini lho, Rio diurus juga.”

Bukan karena rasan-rasan sinis kami, Kemenpora, kemudian menginisiasi untuk memberikan support maksimal kepada Rio agar bisa mengejar mimpinya tampil di F1. Pertimbangannya sederhana: Rio adalah anak bangsa yang punya potensi besar, berpotensi menorehkan sejarah sebagai yang pertama dari Indonesia yang tampil di F1. Rio bisa membawa panji Merah Putih, panji Republik, di berbagai belahan dunia. Rio berpotensi menjadi duta Nusantara.

Atas dasar itu Menpora Imam Nahrawi —dengan berbagai risiko yang mungkin dihadapi— menandatangani surat jaminan kepada Rio agar bisa tampil di F1 bersama Tim Manor. Keseriusan Menpora hanya berhenti di situ. Kami tidak mau dianggap hanya ngecap. Kami berkomunikasi serius dengan Kementerian BUMN agar bisa memberi dukungan. Kami mencoba menjajaki kemungkinan mendapat tambahan dukungan swasta (tapi batal karena pas hari H ada kejadian bom Thamrin). Kami mencoba mencari skema dukungan resmi negara kepada Rio melalui APBN.

Apa yang terjadi kemudian? Muncul rentetan kritik, bahkan sebagian cenderung bernada hujatan. “Kenapa harus membantu Rio dengan dana sebesar itu? Rp 100 miliar untuk Rio? helllowwww!”

“Negara benar-benar tidak memiliki sense of crisis. Masih banyak rakyat miskin membutuhkan dukungan pemerintah. Membantu Rio sama halnya dengan membuang-buang uang!”

Ada lagi.“Satu orang atlet dibantu Rp 100 miliar? Hellowwww (lagi)! Terlalu besar, Bung. Banyak cabang olahraga lain yang butuh dukungan besar. Banyak atlet lain yang punya prestasi melambung tinggi yang juga butuh dukungan. Banyak bla bla bla. Ini tidak fair. Apalagi ini olahraga industri, swasta yang mestinya dukung, bukan dengan APBN!”

Selanjutnya bagaimana? Informasi terakhir yang kemudian mencuat: Rio berpotensi gagal tampil karena bla bla bla. Dukungan BUMN ada, tapi belum cukup. Dukungan pemerintah via Menpora yang Rp 100 M, belum ada persetujuan dari berbagai pihak. Dukungan swasta, yang kata sebagian kalangan harusnya dominan, ternyata belum juga muncul.

Informasi ini kemudian melahirkan kritik yang juga tidak kalah dahsyat. Nadanya mirip dengan lantunan kritik pertama. “Hei negara, Anda mempermainkan Rio ya? Ini negara betul-betul tidak punya harga diri ya? Rio yang sedemikian potensialnya kok tidak jadi dibantu? Bla bla bla.”

Bahkan ada yang mengatakan begini: “Rio, Negara tidak peduli denganmu. Pindah kewarganegaraan saja agar potensimu tidak sia-sia!” Masya Allah. Astaghfirullah“¦. Sudah sedemikian bla bla bla dan anu kah kita?

Kalau kita semua —negara, pemerintah, pejabat publik, parlemen, elit non pejabat publik, pengusaha swasta, rakyat kebanyakan—sepakat bahwa “Rio adalah anak bangsa yang memiliki potensi besar dan layak kita support, marilah kita support. Rio adalah aset yang bisa menjadi duta Republik ini dan sudah sepatutnya didukung penuh”. Ayolah, ayo dukung penuh, semuanya!

Jika ya. Mari katakan,“Rio, kami mencintai mu! Ai lop yu ful!” dan dorong semua pihak—pemerintah dan swasta untuk mendukung Rio.

Jika tidak. Sudah sedemikian bla bla bla dan anukah kita? (*)

M Khusen Yusuf, Penulis adalah Staf Khusus Menpora bidang Olahraga.

Sumber: Detik.com

Terkait

Dirosah Lainnya

SantriNews Network