Daerah

Ludruk Santri, Menertawakan Diri di Penghujung Tahun

Selasa, 25 Desember 2018 22:30 wib

...

Sumenep – Tak terasa kini sudah memasuki penghujung tahun 2018. Setahun sudah dilalalui. Sebentar lagi pun memasuki tahun 2019. Banyak hal telah dilakukan. Banyak hal pula terlewatkan sia-sia begitu saja.

Menutup tahun 2018 dan menyambut 2019, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bersama Kancakona Kopi (KKK) dan Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) menggelar Ludruk Santri 2018 sebagai media refleksi diri.

Baca: Gus Ipul Apresiasi Kedai Koncakona Rintisan Santri

Kegiatan bertajuk “˜Menertawakan Diri di Akhir Tahun’ ini akan berlangsung selama empat hari di Kancakona Kopi di Jalan Lingkar Barat, Sumenep. Bupati Sumenep KH A Busyro Karim, dijadwalkan akan membuka secara resmi, Rabu, 26 Desember 2018.

Ketua Panitia Pelaksana, Mustaji, menjelaskan, Ludruk Santri diharapkan sebagai wahana refleksi diri terhadap apa yang sudah dilakukan selama 2018 serta bisa menjadi energi positif di penghujung tahun. “Kita mengemasnya dengan guyonan cerdas yang agak menggelitik,” ujarnya.

Ada sebelas rangkaian kegiatan. Yaitu, ludruk santri, diskusi politik, diskusi ekonomi ala santri, diskusi ekonomi, orasi, dan diskusi kebudayaan. Kemudian lomba karya instalasi santri, lomba fotografi, parade puisi dan musik santri, bedah buku, stand-up comedy, serta silaturahmi, dan sedekah kopi.

Ada sejumlah narasumber yang akan mengisi kegiatan. Mulai ilmuwan, budayawan, intelektual, hingga politisi. “Kita perlu melakukan introspeksi diri di tengah kondisi sosial agama, budaya, politik, ekonomi, dan hukum yang semakin tidak terarah,” kata Mustaji.

Bukan hanya diskusi. Rangkaian ludruk santri juga diharapkan menjadi wahana menunjukkan eksistensi kaum santri di berbagai lini. Diantaranya melalui lomba karya instalasi santri. Lomba ini akan menampilkan karya-karya instalasi para santri dari pondok pesantren di Kabupaten Sumenep.

Sebab, menurut Mustaji, santri sebenarnya sangat kreatif. Namun, selama ini karya-karya mereka hanya sebatas dinikmati sendiri di lingkungan pesantren. “Di event ini, karya para santri bisa dinikmati masyarakat umum,” pungkasnya. (rus/onk)